JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Menghargai pendapat orang lain atau membiarkan pendapat itu menentukan hidupmu, adalah perbedaaan yang tipis yang justru dapat menghambat kebahagiaanmu.
Kita seringkali membiarkan pikiran orang lain mengendalikan tindakan kita, padahal kunci hidup bahagia terletak pada tidak memedulikan apa yang dipikirkan oleh orang lain.
Dalam artikel ini, dilansir dari laman Hack Spirit, Rabu (7/8), ada delapan cara sederhana untuk menguasai seni tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain dan mulai menjalani hidup yang lebih bahagia.
1. Mempraktikkan mindfulness
Mindfulness adalah alat yang ampuh untuk membebaskan dirimu dari beban pendapat orang lain.
Kesadaran penuh berarti hadir di saat ini, mengakui perasaanmu, dan menerimanya tanpa menghakimi.
Namun, hal ini tidak selalu mudah dicapai. Banyak dari kita yang menjalani hari-hari dengan autopilot, dan tidak benar-benar memperhatikan apa yang kita rasakan.
2. Belajar untuk memprioritaskan kebutuhanmu
Kamu tidak bisa menyenangkan semua orang, dan semakin cepat kamu belajar memprioritaskan kebahagiaan dan kesehatan mentalmu, ini semakin baik.
Menetapkan batasan dan memprioritaskan kebutuhanmu tidak membuatmu egois, tetapi membuatmu sadar diri.
3. Belajarlah untuk melepaskan kritikan masa lalu
Berpegang pada kritikan masa lalu dapat menjadi hambatan besar dalam perjalanan untuk tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain.
Ini seperti membawa tas berat yang memberatkanmu, mencegahmu bergerak maju dengan bebas.
Kita perlu memahami bahwa kritik di masa lalu hanyalah masa lalu, kritik tidak menentukan siapa kita saat ini atau akan menjadi siapa kita di masa depan. Strategi terbaiknya adalah dengan memaafkan.
4. Tantang distorsi kognitif
Distorsi kognitif adalah kesalahan kita dalam berpikir, yang menyebabkan kita memiliki pandangan menyimpang terhadap realitas.
Di mana kita seringkali percaya bahwa kita mengetahui apa yang dipikirkan orang lain tentang kita.
Kitab sering berasumsi bahwa orang-orang berpikir negatif tentang kita, padahal kenyataannya adalah kebanyakan orang terlalu sibuk dengan kehidupannya sendiri hingga tidak sempat menghakimi orang lain.
Cara terbaik mengatasi distorsi kognitif ini adalah dengan menantangnya. Saat kamu berasumsi apa yang dipikirkan orang lain, berhentilah dan tanyakan pada diri sendiri, apakah pemikiran ini berdasarkan fakta atau ketidakamananmu sendiri?
5. Merangkul individualitas
Kita semua ingin diterima, ini adalah bagian tak terpisahkan dari sifat manusia. Namun, terkadang, keinginan kita untuk diterima dapat membuat kita membuat keputusan berdasarkan apa yang dipikirkan orang lain.
Dalam hal ini, langkah pertama yang harus kamu lakukan adalah merangkul individualitasmu. Berbeda bukanlah hal yang buruk, ini justru membuatmu menjadi diri sendiri.
6. Menumbuhkan rasa percaya diri
Kepercayaan diri berperan penting dalam menguasai seni tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain.
Jika kamu yakin dengan kemampuan dan keputusanmu, pendapat orang lain tidak akan terlalu memengaruhi.
Membangun rasa percaya diri tidak dapat dilakukan dalam semalam. Hal ini membutuhkan usaha yang konsisten, mencintai diri sendiri, dan berbicara positif dengan diri sendiri.
7. Kelilingi dirimu dengan hal-hal positif
Orang-orang di sekitarmu memiliki pengaruh yang signifikan terhadap pola pikirmu. Jika kamu terus-menerus berada di sekitar orang yang menghakimi atau bersikap negatif, sulit untuk tidak peduli dengan apa yang mereka pikirkan.
Carilah orang-orang yang mengangkat semangatmu, memberi inspirasi, dan mendorongmu untuk menjadi diri sendiri.
Mereka adalah orang yang akan mendukung perjalananmu untuk tidak peduli dengan apa yang dipikirkan orang lain dan menjalani hidup lebih bahagia.
8. Terimalah bahwa tidak semua orang akan menyukaimu
Apapun yang kamu lakukan, atau bagaimana pun kamu bertindak, tidak semua orang akan menyukaimu, dan ini tidak apa-apa. Berusaha mendapatkan persetujuan semua orang adalah perjuangan yang sia-sia.
Fokuslah menjadi diri sendiri, membangun hubungan yang bermakna, dan menjaga harga dirimu.
Lebih baik disukai beberapa orang karena siapa dirimu sebenarnya, daripada disukai banyak orang karena menjadi seseorang yang bukan dirimu.
Sumber: JawaPos.com
Editor : M. Erizal