JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Setelah anak menjadi dewasa dan mulai meninggalkan rumah, orang tua kerap merasa kesepian. Rumah seperi menjadi "sarang yang kosong" (empty nest).
Wajar saja jika muncul perasaan campur aduk, mulai dari sedih, kehilangan, hingga kebingungan tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya. Perubahan ini bukan hanya soal rumah yang lebih sepi, tetapi juga tentang perubahan peran dan identitas sebagai orang tua.
Masa seperti ini justru bisa menjadi awal dari babak baru yang lebih bermakna, tentunya dengan cara pandang yang tepat pula. Berdasarkan artikel dari YourTango, berikut beberapa cara yang bisa membantu orang tua menghadapi fase ini dengan lebih positif:
1. Melihat ini sebagai kesempatan untuk diri sendiri
Setelah bertahun-tahun fokus membesarkan anak, kini saatnya memberi ruang untuk diri sendiri. Anda bisa kembali mengejar hobi, tujuan pribadi, atau hal-hal yang dulu sempat tertunda.
2. Mengizinkan diri merasakan semua emosi
Tidak perlu memaksakan diri untuk selalu terlihat kuat atau bahagia. Perasaan sedih, takut, atau kehilangan adalah hal yang wajar. Justru dengan menerima emosi tersebut, Anda bisa memprosesnya dengan lebih sehat dan perlahan menemukan keseimbangan baru.
3. Memilih untuk tetap mencintai hidup
Kebahagiaan dalam fase ini adalah pilihan. Dengan mengubah cara pandang dan fokus pada hal-hal yang bisa dinikmati, Anda dapat menciptakan pengalaman hidup yang tetap penuh makna meski anak-anak sudah tidak tinggal di rumah.
4. Menentukan bagaimana ingin menjalani fase ini
Fase "sarang kosong" bisa dibentuk sesuai keinginan Anda. Anda bisa mulai mendefinisikan ulang hubungan dengan anak yang kini sudah mandiri, sekaligus menentukan peran baru dalam hidup yang lebih seimbang.
5. Keluar dari "mode otomatis" dalam berpikir
Banyak orang tua tanpa sadar terjebak dalam pikiran negatif seperti "hidupku sekarang kosong" atau "aku kehilangan tujuan". Penting untuk menyadari pola pikir ini dan mulai mempertanyakan apakah cara berpikir tersebut benar-benar membantu atau justru memperburuk keadaan.
"Sarang kosong" bukanlah akhir dari peran sebagai orang tua, melainkan perubahan bentuk hubungan. Anak tetap menjadi bagian penting dalam hidup, hanya saja dengan cara yang berbeda. Alih-alih melihatnya sebagai kehilangan, fase ini bisa menjadi momen untuk tumbuh, mengenal diri lebih dalam, dan menikmati kehidupan dari sudut pandang yang baru.
Baca Juga: Koper JCH Inhil Rampung Dikumpulkan, Jemaah Diingatkan Jaga Kesehatan
Begitulah cara mengatasi "sarang kosong" dari artikel dari YourTango, berjudul "Saat Anak-Anakku Meninggalkan Rumah, Kupikir Aku Akan Merasa Kehilangan, Tapi 5 Hal Ini Membuatku Merasa Tidak Sedih Setelah Anak-Anakku Meninggalkan Rumah" oleh Suzy Rosenstein (09 April 2026).
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi