Acha Septriasa mengapresiasi Teddy Soeriaatmadja yang mengarahkan film The Architecture of Love serta naskah dari Ika Natassa dan Alim Sudio.
"Mengapa film ini begitu sempurna masuk kedalam hati dan pikiranku," tulis Acha Septriasa dikutip Pojoksatu.id dari Instagram-nya, Jumat, 3 Mei 2024.
Dia menilai, selain memang kekuatan cerita dan aktris Acha Septriasa memberikan pujian atas tayangan film Indonesia terbaru, The Architecture of Love.
Baca Juga: Tim Thomas Indonesia Melaju ke Semifinal, Pasangan Dadakan Jadi Penentu Kemenangan atas Korsel
Film yang begitu indah menceritakan layer demi layer perjalanan karakter, dan penyampaian dialog yang sempurna, juga dihayati oleh ekspresi yang begitu tipis tapi membekas.
"Ngebuat hati gadis yang pernah patah seperti saat dulu pernah merasakan rapuh ikut berkeping-keping melihat perjalanan Raia (Putri Marino) menyembuhkan luka hatinya," ungkapnya.
Raia mengakui jelas bahwa dia bukan perempuan yang kuat. Namun, setiap jiwa perempuan yang pernah berharap dan kecewa , percayalah mereka kuat.
"I love how Mas @teddysoe created this story remarkably beautiful and fun to watch. Masih ada harapan karena orang-orang sekitar Raia yang sama-sama menunjukkan sisi humanismenya, sambungnya.
"Memang ternyata enggak ada yang sempurna dalam “cinta”. Tapi mencintai itu sendiri merupakan perasaan yang utuh dan perlu dirayakan, even its bitter and sweet," sambungnya.
Acha 'angkat topi' atas acting Putri Marino di film ini. "I love Putri Marino. @putrimarino sebagai Raia dan apapun yang dia tampilkan di layar," sebutnya.Baca Juga: Update Terbaru, Kini WhatsApp Ada Fitur Acara dan Balasan di Grup Pengumuman
Mata Putri Marino sebagai Raia baginya selalu pilu merekam banyak cerita di kala hatinya tidak lengah mencari sebuah jawaban akan kemana cintanya berlabuh.
"Menginginkan seseorang ada bersama kita, ternyata sangat wajar. Di sini karakter perempuan juga bisa bersuara, enggak hanya menunggu tapi memutuskan," tuturnya.
Karakter River yang diperankan Nicholas Saputra juga sangat-sangat gamblang keluar dri sorot mata penyesalan dan kekecewaannya.
Editor : RP Edwar Yaman