JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Film Menjelang Magrib 2: Wanita Yang Dirantai tayang di bioskop Tanah Air sejak, Kamis (4/9/2025). Menyusul kesuksesan film pertama yang dirilis tiga tahun lalu, proyek spin off besutan sutradara Helfi Kardi itu mendapat sambutan antusias hangat dari publik.
Tiket di sejumlah bioskop dalam hingga luar kota ludes terjual. Hal tersebut terlihat dari sejumlah posting-an para pemain maupun akun official Instagram resmi film Menjelang Magrib 2: Wanita Yang Dirantai.
Tingginya animo publik menurut Helfi menjadi kabar baik sekaligus apresiasi bagi segenap jajaran tim produksi yang terlibat. Film Menjelang Magrib 2: Wanita Yang Dirantai dikemas Helfi menjadi sebuah tontonan yang berbeda dari film pertamanya.
Unsur horor film ini lebih gelap dan mencekam baik dari segi cerita, karakter, maupun elemen lainnya.
"Lebih merasakan kultur dan ketimpangan sosial dan ekonomi dengan latar cerita film pada 1920, Ketika Indonesia masih bernama Hindia Belanda, masih menjadi bagian dari jajahan pemerintah Belanda," tutur Helfi saat gala premiere di Epicentrum XXI, Jakarta Selatan.
Film tersebut masih konsisten mengangkat tema tentang pasung. Menurut dia, cerita soal pemasungan manusia masih banyak terjadi di daerah-daerah di Indonesia. Terutama masyarakat yang tinggal di wilayah pedalaman.
Bahkan, cerita tersebut juga dekat dengan kehidupan Helfi. "Tema pasung menjadi energi cerita sejak awal saya membuat film Menjelang Magrib. Karena berdasar pengalaman pribadi waktu saya tinggal di daerah Sumatera," ungkap sutradara, penulis, sekaligus produser itu.
Helfi mengaku pernah menyaksikan manusia dipasung. Kala itu, pasung dianggap sebagai salah satu cara yang tepat untuk mengatasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ).
"Saya melihat orang yang dipasung di sebuah rumah. Itu sebagai bagian cara pengobatan orang yang bermasalah dengan kejiwaan atau mental illness," ujar Helfi.
Film Menjelang Magrib 2: Wanita Yang Dirantai menyoroti kehidupan Giandra, seorang dokter muda lulusan STOVIA, yang menemukan kasus seorang gadis bernama Layla yang mengalami pemasungan karena masyarakat menganggapnya mengalami gangguan kejiwaan.
Pada masa itu, praktik pemasungan masih dianggap lumrah dan dipercaya sebagai metode penyembuhan, sebab banyak yang menghubungkannya dengan roh halus maupun gangguan mistik.
Giandra yang merupakan dokter menentang pasung karena hal itu jelas bertentangan dengan ilmu kedokteran modern yang ia pelajari. Dengan tekad kuat, ia memutuskan untuk mendatangi Desa Karuhun, sebuah desa terpencil, tempat pemasungan Layla.
Setibanya di desa, Giandra bertemu Rikke, seorang jurnalis keturunan Belanda-pribumi yang juga menyoroti kisah Layla. Rikke meninggalkan pesan penting tentang “kultur, mistik, dan tahayul,” yang kemudian membuka jalan bagi Giandra untuk memahami konflik mendalam antara sains dan tradisi.
Perjalanan Giandra di desa itu pun penuh ketegangan, misteri, dan pertarungan batin antara logika medis dengan keyakinan masyarakat yang masih sarat unsur mistis.
Layla sendiri (diperankan Aisha Kastolan) adalah seorang perempuan yang mengalami mati suri. Rentetan kejadian aneh di luar nalar hingga teror gaib terus bermunculan ketika Layla melanjutkan hidup.
Namun, peristiwa itu malah membuatnya harus dipasung setiap menjelang magrib. Warga setempat menganggap bahwa tubuh Layla dimanfaatkan iblis. Berbagai cara pun telah dilakukan agar Layla bisa terbebas dari gangguan gaib itu.
Sederet aktor dan aktris seperti Aditya Zoni, Aurelia Lourders, hingga Muthia Datau turut meramaikan film garapan rumah produksi Helroad Films itu.
Editor : M. Erizal