RENGAT (RIAUPOS.CO) - Ida Cahyani (47), warga Desa Sialang Dua Dahan, yang sehari-hari bekerja petani jagung. Ibu tiga orang anak itu menanam tanaman hortikultura dengan metode mulsa tanpa olah tanah (M-TOT) yang memanfaatkan bahan alami seperti tumpukan jerami.
Ida mengaku sebelum menggunakan metode MTOT dirinya dalam mengolah lahan pertanian menggunakan pupuk kimia seperti NPK.
“Biayanya besar, karena saya punya lahan seperti dua hamparan atau sekitar seperempat hektare. Biasanya kebutuhan pupuk untuk sekali nanam lebih dari satu karung NPK. Kini setelah pakai MTOT biaya berkurang karena tidak perlu pupuk kimia lagi,” ujarnya, Kamis (4/7).
Ida sendiri membuka lahan dengan memanfaatkan halaman belakang rumahnya dan beberapa lahan lainnya. “Saya bersyukur dapat mengenal dan mempraktekkan metode MTOT ini. Dingin hasil tanaman kita dibuatnya,” jelasnya.
Pantauan awak media, tanaman jagung milik Ida sangat sehat dan memiliki hasil panen yang melimpah setelah masa tanam selama 70 hari atau dua bulan.
Ida mengaku menggunakan MTOT sekitar dua tahun. “Alhamdulillah, panen jagung yang didapat mencapai setengah ton. Saya berharap ada pembinaan dan pelatihan lebih lanjut untuk petani,’’ ujarnya.
Hal yang sama juga diungkapkan petani holtikultura lainnya, Wahyudi. Petani mentimun ini mengaku hasil produksinya meningkat cukup signifikan setelah menerapkan metode UBI.
“Saya memanfaatkan sisa tanaman pelepah sawit, jerami dan pisang untuk sebagai mulsa. Alhamdulillah, saya tujuh kali melakukan penanaman menggunakan metode MTOT ini, hasilnya sangat menggembirakan. Kami bersyukur metode MTOT dapat memberdayakan kami sehingga mampu menambah pendapatan,” katanya.
Apa yang dilakukan Ida Cahyani dan Wahyudi merupakan bagian dari pogram Yayasan Farmer Initiatives For Ecological Livelihoods And Democracy (Field) Indonesia. Field Indonesia terus membantu para petani untuk mengembangkan usaha pengolahan lahan pertanian agar dapat berdampak bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat dan memajukan ekonomi daerah menuju ketahanan pangan nasional.
“Khusus di Kabupaten Indragiri, pengembangan pertanian di Negeri Sejarah itu memang menjadi tantangan tersendiri mengingat kondisi lahan yang terbatas dan lebih banyak lahan rawa-rawa,” jelas Fasilitator Provinsi Riau untuk program udara bersih Indonesia (UBI) dari Field Indonesia Aryani Kodriyana.
Yana, begitu biasa ia disapa mengaku saat metode Metode Mulsa Tanpa Olah Tanah (M-TOT) yang merupakan bagian dari program udara bersih indonesia (UBI) diperkenalkan pertama kali memang tidak mudah.
“Kita melakukan pembinaan kepada petani dan kelompok petani di empat desa di Kecamatan Kuala Cenaku yakni desa Pulau Jumat, Desa Kuala Cenaku, Desa Pulau Gelang, dan Desa Rawa Asri dan serta satu desa di Kecamatan Rengat Barat yakni Desa Sialang Dua Dahan,” imbuhnya.
Namun setelah dipraktekkan, lanjut Yana ternyata MTOT sangat efektif karena mengurangi biaya usaha tani dan mampu meningkatkan produktivitas hasil pertanian.(c/ose)
Editor : RP Arif Oktafian