TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Berdasarkan rilis Badan Pusat Statistik (BPS), Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil). Kota Tembilahan tertinggi keempat inflasi year on year (y-on-y) nasional di angka 6,34 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) yang tercatat 111,07.
Kepala BPS Inhil, Zulyadi menjelaskan bahwa inflasi y-on-y Tembilahan dipicu kenaikan harga pada sejumlah kelompok pengeluaran, di antaranya, makanan, minuman, dan tembakau sebesar 11,54 persen. Pakaian dan alas kaki sebesar 0,69 persen, perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga sebesar 0,45 persen, perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 0,84 persen, kesehatan sebesar 2,46 persen, transportasi sebesar 1,36 persen, pendidikan sebesar 2,01 persen, penyediaan makanan/minuman (restoran) sebesar 1,54 persen dan perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 17,68 persen.
Sementara itu, kelompok pengeluaran yang mengalami deflasi adalah rekreasi, olahraga, dan budaya dengan penurunan 0,25 persen. Selain itu, inflasi month to month (m-to-m) Tembilahan pada September 2025 tercatat sebesar 1,64 persen, sedangkan inflasi year to date (y-to-d) berada pada angka 4,86 persen.
Baca Juga: Angin Kencang Robohkan Belasan Warung di Areal Wisata Batu Enam, Bagansiapiapi
Menanggapi hal tersebut, Sekretaris Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Inhil, Murni mengatakan, setelah menerima laporan rilis BPS 1 Oktober lalu, pihaknya langsung turun ke sejumlah pasar tradisional untuk memastikan kondisi harga bahan pokok di lapangan.
Langkah turun lapangan itu dilakukan sebagai bentuk respons cepat terhadap laporan BPS, terutama terkait lonjakan harga cabai merah dan ayam ras yang menjadi penyumbang utama tingginya inflasi.
Pantauan TPID di pasar tradisional Tembilahan menunjukkan bahwa harga cabai merah kini mulai kembali normal setelah sempat melambung tinggi beberapa hari sebelumnya.
"Kita semua tahu, inflasi tinggi bukan hanya soal angka, tapi menyangkut kesejahteraan masyarakat. Karena itu TPID terus berkomitmen memantau harga dan menjaga stabilitas pasokan bahan pokok," terangnya.
Ia juga menyampaikan setelah menerima rilis resmi dari BPS mengenai inflasi, pihaknya akan langsung turun ke lapangan untuk melakukan pengecekan. Tujuan hal itu agar angka yang muncul di data nasional benar-benar mencerminkan kondisi nyata di kalangan masyarakat.(*2)
Editor : Edwar Yaman