Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Selama 19 Hari Tanpa Makan, Buaya 5,7 Meter Ini Mati dengan Luka dan Sampah Plastik Dalam Perutnya

M Ali Nurman • Selasa, 25 November 2025 - 20:24 WIB
Si Undan, buaya berukuran besar saat masih hidup dan sedang menjalani perawatan di DPKP Inhil.
Si Undan, buaya berukuran besar saat masih hidup dan sedang menjalani perawatan di DPKP Inhil.

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) -- Seekor buaya muara sepanjang 5,7 meter yang diberi nama Si Undan belakangan ini menjadi perhatian masyarakat setelah berhasil dievakuasi ke Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Indragiri Hilir (Inhil).

Semenjak ditangkap warga di Desa Sungai Undan, Kecamatan Reteh, Kabupaten Inhil pada 31 Oktober 2025, Si Undan dititipkan dipenangkaran DPKP Inhil sehari setelahnya.

Di tempat penangkaran itu, setiap hari Si Undan dikunjungi masyarakat yang merasa penasaran dengan tubuhnya yang besar dan panjang. Tak sedikit juga masyarakat melakukan foto bersamanya.

Namun di tengah-tengah keramaian, Si Undan tetap bertahan dan berjuang melawan sakit. Sebab ada tiga luka bekas tombakan senjata tajam ditubuhnya yang seberat 585 kilogram itu. Dua di bagian bawah tubuh sedalam 17 cm dan 8 cm, serta satu luka pada kaki depan kanan sedalam 15 cm.

Selama 19 hari berada di tempat penangkaran, Si Undan tak pernah ingin makan, meski telah disediakan. Perawatan super ekstra pun juga dilakukan agar Si Undan dapat melewati masa-masa kritisnya.

Kulit yang biasanya keras dan garang semakin melemah, dan pada tanggal 20 November 2025, Si Undan mati dalam keadaan terinfeksi bekas luka.

Yang lebih mengagetkan para petugas saat melakukan pembedahan, menemukan benda-benda aneh seperti pisau, serpihan kaca hingga puluhan sampah plastik dan potongan limbah di dalam perut yang seharunya bukan menjadi bagian dari makanan hewan predator tersebut.

"Isi perutnya kecil, menandakan hewan itu sejak lama kelaparan, sehingga memakan sampah-sampah yang dibuang di sungai," kata Kepala DPKP Inhil, Junaidi Ismail, Selasa (25/11/2025).

Bahkan saat perawatan, dua ekor ayam mati bukan karena dimakan, namun karena tidak disentuh sama sekali oleh Si Undan.

Krisis lingkungan seperti sungai yang tercemar membuat makanan hewan yang tak bersalah ini berkurang, ditambah lagi tumpukan sampah yang berserakan dialiran sungai.

"Setiap sampah yang kita buang sembarangan, setiap sungai yang kita cemari, pada akhirnya kembali memberi dampak, bukan hanya pada satwa liar saja, tapi juga pada manusia," sambung Junaidi.

Kini, bangkai Si Undan telah tiba di Lembaga Konservasi di bawah Binaan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem Kementrian Kehutanan di Jakarta untuk dilakukan preparasi atau biasa disebut untuk bahan penelitian.

Diberitakan sebelumnya, saat sebelum dikirim ke Jakarta, tim medis menemukan lebih dari 20 lembar kantong plastik, sedotan, tutup botol plastik, selembar karung goni plastik, pisau kecil bergagang plastik, serta pecahan kaca tabung televisi dan batu kerikil di dalam perut dan usus Si Undan.

Temuan tersebut menguatkan dugaan bahwa sampah plastik dan limbah yang dibuang manusia yang mencemari sungai telah tertelan oleh buaya selama berada di habitatnya.

"Kenyataan ini memberikan sinyal keras kepada kita semua untuk memanfaatkan plastik dengan bijak agar tidak menjadi sampah yang mengancam perairan sebagai sumber kehidupan," tutup Junaidi.(*2)

 

Editor : Rinaldi
#bekas luka #sampah plastik #Si undan mati #buaya muara