TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Venue futsal Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) pernah menjadi salah satu ikon olahraga Riau saat Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII Riau 2012 digelar.
Fasilitas ini tak hanya menjadi kebanggaan daerah, tetapi juga simbol kesiapan Riau sebagai tuan rumah ajang olahraga nasional. Namun, lebih dari satu dekade berlalu, kebanggaan itu kini tinggal kenangan.
Pantauan di lapangan menunjukkan kondisi bangunan venue futsal Inhil di Jalan Lingkar, Tembilahan ini berada pada tahap mengkhawatirkan. Hampir seluruh bagian gedung mengalami kerusakan.
Atap bocor hingga air hujan menggenangi lapangan, pintu-pintu akses rusak, instalasi air tidak berfungsi normal, plafon toilet jebol, dan fasilitas sanitasi tak lagi layak digunakan.
Kerusakan tersebut bukan sekadar menurunkan kenyamanan, tetapi telah menyentuh aspek keselamatan atlet. Lapangan yang seharusnya memenuhi standar latihan kini menyimpan potensi cedera serius.
Agustian, salah satu atlet futsal profesional asal Inhil yang telah berkiprah di level nasional, menilai kondisi lapangan sudah tidak aman untuk aktivitas olahraga intensitas tinggi.
"Dulu ini lapangan kebanggaan. Sekarang di beberapa titik sudah tidak rata. Matras pelapis rusak dan licin. Atlet bisa cedera kapan saja,"ujarnya, Rabu (14/1/2026).
Ia juga menyoroti kebocoran bangunan yang terus berulang saat hujan turun. "Air bukan hanya dari atap, tapi masuk sampai ke area lapangan. Kalau dibiarkan, ini bukan tempat latihan lagi, tapi sumber bahaya,"tambahnya.
Kerusakan fisik bangunan semakin diperparah dengan dinding jebol, lantai retak, jendela pecah, serta indikasi penurunan pondasi akibat turunnya muka tanah. Kondisi tersebut mempertegas lemahnya pemeliharaan terhadap aset olahraga yang dahulu menjadi wajah Riau di mata nasional.
Ironisnya, Inhil justru dikenal sebagai salah satu daerah penghasil atlet futsal berprestasi. Tim futsal Inhil beberapa kali mencatat prestasi di tingkat provinsi, bahkan sejumlah putra daerah telah menembus kompetisi futsal profesional nasional. Namun prestasi itu tumbuh di tengah keterbatasan infrastruktur yang kian memprihatinkan.
Secara administratif, venue futsal eks PON ini tercatat sebagai aset daerah dengan tanggung jawab pemeliharaan berada di bawah Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Kabupaten Inhil.
Kepala Disparporabud Inhil, Qudri Ramaputera saat dikonfirmasi membenarkan kondisi tersebut. Ia mengakui keterbatasan anggaran membuat pemerintah daerah hanya mampu melakukan perawatan rutin.
"Untuk perbaikan besar atau revitalisasi menyeluruh, kami memang tidak memiliki anggaran. Biayanya sangat besar. Dengan kondisi APBD yang defisit, kami membutuhkan dukungan dari pemerintah provinsi dan pusat,"ujarnya.
Ia juga mengakui hingga kini belum pernah dilakukan audit fisik dan fungsi terhadap venue futsal pasca PON. Padahal, audit merupakan langkah penting untuk memastikan aset hibah negara tetap layak dan aman digunakan.
Untuk jangka menengah, pemerintah daerah membuka peluang revitalisasi melalui Satuan Kerja Pelaksanaan Prasarana Strategis Direktorat Jenderal Prasarana Strategis Kementerian PUPR. Namun tanpa dukungan anggaran lintas level pemerintahan, rencana tersebut dinilai sulit direalisasikan. (*2)
Editor : M. Erizal