TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Teror monyet liar di Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Indragiri Hilir (Inhil) belum juga berakhir. Sejak 23 Juli hingga 1 Agustus 2026, tercatat 11 warga menjadi korban gigitan monyet yang menyerang. Serangan terjadi di sembilan titik. Ini menunjukkan monyet berpindah-pindah di kawasan permukiman sehingga menyulitkan penanganan.
Sembilan titik tersebut yakni Lorong Bintan, Lorong Sepakat Karya, Jalan Malagas, Lorong Sederhana, Lorong Brata, Lorong Kubur, Jalan Setia Budi, Gang Kubur, hingga Jalan Pangeran Hidayat. Korban terakhir terjadi pada Sabtu (1/8) di Jalan Pangeran Hidayat, Lorong Kubur.
Seluruh korban telah mendapat penanganan medis, sementara Pemerintah Kabupaten Inhil memastikan biaya pengobatan ditanggung. Di tengah pencarian yang masih berlangsung, peristiwa ini dinilai menjadi momentum mengevaluasi ekosistem dan ruang hidup satwa liar di Inhil.
Bupati Inhil Herman mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau untuk mempercepat penanganan satwa tersebut. “Hingga saat ini belum ada keterangan resmi apakah monyet tersebut merupakan satwa yang dilindungi atau bukan. Seluruh biaya pengobatan korban akan kami tanggung,” ujarnya.
Namun, BBKSDA Riau memastikan tidak menurunkan tim ke Tembilahan. Kepala Bidang Teknis BBKSDA Riau Ujang Holisidin mengatakan, yang akan menangani konflik tersebut adalah Dinas Damkar Inhil. ‘’Kami sudah koordinasi dengan Dinas Damkar, dengan Pak Kadisnya bahwa Dinas Damkar yang akan melakukan penanggulangan,’’ sebutnya.
Sementara itu, tim gabungan yang terdiri dari Polres Inhil, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, BPBD, TNI, pemerintah kecamatan, Indragiri Hilir Shooting Club (IHSC), serta masyarakat masih menyisir sejumlah titik dan memasang kandang jebak. Namun hingga Ahad (2/8), monyet tersebut belum berhasil diamankan.
Baca Juga: Korban Gigitan Monyet Liar di Tembilahan Inhil Bertambah Jadi 10 Orang
Kapolres Inhil AKBP Donny Eko Listianto SH SIK MH menegaskan pencarian akan terus dilakukan agar tidak ada lagi warga yang menjadi korban. “Tujuan utama kegiatan ini adalah mengamankan monyet yang telah melukai masyarakat agar tidak terjadi lagi korban berikutnya, sekaligus memberikan rasa aman kepada warga. Penanganan dilakukan secara terpadu dengan tetap memperhatikan keselamatan masyarakat maupun satwa tersebut,” katanya.
Aktivis lingkungan Indragiri Hilir, Zainal Arifin Hussein, mengingatkan agar penyebab konflik manusia dan satwa liar tidak disimpulkan secara terburu-buru. “Belum tepat menyatakan serangan monyet ini pasti disebabkan oleh kerusakan lingkungan. Namun, secara ilmiah kerusakan habitat dan berkurangnya ruang hidup satwa merupakan salah satu penyebab yang paling masuk akal dan sering menjadi akar konflik manusia dengan satwa liar,” ujarnya.
Menurut Zainal, peristiwa ini harus menjadi momentum mengevaluasi kondisi ekosistem di Inhil melalui kajian menyeluruh terhadap habitat satwa, ketersediaan pakan, dan perubahan bentang alam agar penanganan tidak hanya menyelesaikan persoalan saat ini, tetapi juga mencegah konflik serupa di masa mendatang.
Baca Juga: Monyet Liar Teror Warga, Delapan Jadi Korban
Warga Tembilahan Hilir, Sahrul (32), berharap monyet liar tersebut segera diamankan agar masyarakat dapat kembali beraktivitas dengan tenang. “Semoga monyet yang meresahkan masyarakat ini segera tertangkap agar kami bisa kembali tenang beraktivitas,” ujarnya.
Hingga berita ini ditulis, tim gabungan masih melakukan penyisiran, sementara masyarakat diimbau tetap waspada dan segera melapor kepada petugas apabila mengetahui keberadaan monyet liar tersebut.(*2/end)
Editor : Arif Oktafian