TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Teror monyet ekor panjang yang meresahkan warga Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), akhirnya berakhir setelah satwa tersebut berhasil diamankan oleh tim gabungan pada Kamis (6/8/2026).
Sebelum berhasil ditangkap, monyet itu tercatat menyerang 18 warga sejak 23 Juli hingga 5 Agustus 2026. Di balik rentetan serangan tersebut, muncul pertanyaan besar, mengapa monyet yang secara alami menghindari manusia justru berubah agresif.
Dokter hewan drh. Yopan Rakhmatullah menilai perilaku monyet tersebut tidak dapat dikatakan normal. Menurutnya, monyet liar secara alami akan menghindari manusia dan memilih menjauh ketika berpapasan dengan manusia di habitatnya.
Baca Juga: Raih Lima Penghargaan PROPER dari KLH, EMP Group Targetkan Peringkat Emas di Masa Mendatang
"Tidak bisa dikatakan normal, karena monyet liar secara alami menghindari manusia," ujarnya kepada Riaupos.co.
Dokter Yopan menjelaskan, pada awal kejadian dirinya menduga serangan yang dilakukan monyet merupakan respons karena merasa terganggu atau sedang mempertahankan diri maupun wilayahnya. Namun, dugaan tersebut berubah setelah aksi penyerangan terus berulang selama hampir dua pekan dengan korban dan lokasi yang berbeda-beda.
"Awal kejadian saya pikir monyet tersebut menyerang orang karena merasa terganggu. Tetapi ternyata serangan tetap berlanjut sampai dua minggu ini, jadi kemungkinan monyet menyerang karena mempertahankan diri atau wilayah kemungkinannya kecil," jelasnya.
Baca Juga: Dari Penanganan Tindak Pidana Korupsi, Kejari Inhu Serahkan Kerugian Negara Rp 1,8 Miliar kepada BPR
Menurut Yopan, terdapat beberapa kemungkinan yang dapat menjelaskan perubahan perilaku satwa tersebut. Salah satunya, monyet diduga pernah mengalami perlakuan buruk dari manusia, seperti dipukul atau disiksa, sehingga memunculkan respons agresif setiap kali bertemu manusia.
Kemungkinan lainnya, monyet tersebut merupakan pejantan yang terpisah dari kelompoknya setelah kalah bersaing dengan pejantan dominan. Kondisi hidup sendirian dapat memicu stres dan tekanan, yang pada akhirnya berpotensi mengubah perilaku satwa menjadi lebih agresif.
Meski demikian, ia menegaskan kedua kemungkinan tersebut masih sebatas dugaan ilmiah. Menurutnya, penyebab pasti perilaku agresif monyet baru dapat dipastikan setelah satwa berhasil diamankan dan dilakukan identifikasi, observasi, serta pemeriksaan lebih lanjut oleh pihak berwenang.
Baca Juga: Audiensi dengan Mensos, Saifullah Yusuf Dijadwalkan Buka Even Pacu Jalur 2026 dan Resmikan Sekolah R
Kini, monyet yang diduga menjadi pelaku serangkaian penyerangan terhadap warga telah berhasil ditangkap dan diamankan oleh tim gabungan. Selanjutnya, satwa tersebut akan menjalani proses identifikasi dan pemeriksaan guna memastikan kondisi kesehatannya sekaligus mengungkap faktor yang menyebabkan perilakunya menjadi agresif terhadap manusia.(*2)
Editor : M. Erizal