PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau yang menurunkan Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) sejak Rabu (5/8/2026) lalu mulai melakukan upaya mitigasi serangan monyet terhadap belasan warga Kecamatan Tembilahan Inhil.
Kepala BBKSDA Riau Supartono mengatakan, dalam upaya mitigasi terebut, tim di lapangan melakukan deteksi keberadaan monyet yang disertai pemasangan perangkap. Ia membenarkan bahwa tim telah menangkap satu ekor monyet dari pemukiman warga di wilayah tersebut.
''Satu ekor monyet telah tertangkap, saat ini akan di bawa ke BBKSDA Riau untuk observasi lebih lanjut,'' sebut Supartono, Kamis (6/8/2026).
Baca Juga: Sempat Tertinggal, Kampar Junior FA Tembus Final Piala Soeratin U-17 Zona Riau 2026
Monyet yang tertangkap ini adalah monyet dewasa. Ia masuk perangkap yang dipasang Tim WRU BBKSDA Riau dengan umpan pisang. Kini monyet itu sedang dalam perjalanan untuk segera menjalani observasi.
Supartono juga menegaskan, penanganan konflik satwa liar harus dilakukan secara terukur. Untuk itu, baik pemerintah, aparat keamananan, dan masyarakat harus bersinergi bersama. Keselamatan masyarakat menurutnya merupakan prioritas utama dalam setiap penanganan konflik satwa liar.
''Namun demikian, upaya mitigasi juga harus tetap mengedepankan prinsip konservasi. Karena itu, kami terus bersinergi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan seluruh pemangku kepentingan untuk melakukan pemantauan, identifikasi, serta penanganan yang tepat terhadap individu satwa penyebab konflik tanpa menimbulkan risiko yang lebih besar bagi masyarakat maupun satwa itu sendiri,'' kata Supartono.
Baca Juga: Kunker ke Riau, Menhan Sjafrie Sjamsoeddin Tinjau Pembangunan Yonif TP 952/Imam Bulqin dan Yonif TP
Seperti diketahui jenis monyet yang menyerng warga di Tembilahan adalah mnyet ekor panjang (macaca fascicularis). Hasil cek lapangan, konflik terjadi di kawasan Parit 12, Parit 13, Parit 14, dan Parit 15, Jalan Malagas, Kelurahan Tembilahan Kota.
Sejak pertama kali dilaporkan pada 23 Juli 2026 hingga 5 Agustus 2026, tercatat 19 warga mengalami luka akibat serangan, selain itu menimbulkan keresahan dan dampak psikologis di tengah masyarakat.
Supartono memaparkan, hasil pemantauan sementara menunjukkan bahwa serangan diduga dilakukan oleh satu individu Monyet Ekor Panjang dewasa yang diperkirakan berjenis kelamin jantan, dengan ciri khusus terdapat bekas luka pada bagian pipi.
Baca Juga: Tak Terbuang Sia-sia, PUPR Rohul Manfaatkan Sisa Material Aspal untuk Tambal Jalan Berlubang di Komp
Pola serangan umumnya terjadi ketika korban berada seorang diri atau dalam kondisi lengah, dengan sasaran gigitan pada bagian kaki sebelum satwa melarikan diri. Hingga saat ini, individu tersebut juga belum merespons umpan yang diberikan berupa pisang.
Untuk mencegah serangan terulang, Supartono mengatakan, berbagai langkah mitigasi telah dilakukan. Ia menegaskan keselamatan warga adalah yang utama.
Namun seluruh pihak diminta untuk tidak melakukan perburuan terhadap satwa, melainkan memperkuat pemantauan di lapangan dan menyiapkan kandang perangkap sebagai sarana evakuasi yang aman apabila individu satwa berhasil teridentifikasi.
Baca Juga: Mitsubishi Fuso Hadir di SIEXPO 2026, Dukung Penuh Bisnis Kelapa Sawit di Riau
''Kami juga mengimbau masyarakat agar tetap meningkatkan kewaspadaan, menghindari beraktivitas seorang diri di lokasi yang berpotensi menjadi jalur pergerakan satwa, tidak memberikan pakan kepada satwa liar, serta segera melaporkan kepada petugas apabila melihat individu monyet dengan ciri-ciri yang telah diidentifikasi,'' sebut Supartono.
Editor : M. Erizal