TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Harga kelapa di tingkat petani di Indragiri Hilir (Inhil) kini hanya berkisar Rp1.500 hingga Rp1.800 per kilogram (kg). Kondisi tersebut memicu ratusan mahasiswa dan petani yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Bersama Rakyat (AMBAR) menggelar aksi di Kantor Bupati Inhil, Senin (10/8).
Massa mendesak pemerintah bertindak memperjuangkan harga kelapa yang dinilai sudah terlalu rendah dan tidak memberikan keuntungan layak bagi petani. Mereka meminta persoalan tersebut tidak hanya dibahas dalam pertemuan, tetapi diperjuangkan hingga menghasilkan kebijakan yang berpihak kepada petani.
Massa membakar ban hingga kepulan asap hitam membubung. Aparat kepolisian bersama Satpol PP melakukan pengamanan selama aksi berlangsung. Koordinator AMBAR, Rahmat, mengatakan aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mahasiswa dan masyarakat terhadap kondisi harga kelapa yang semakin menekan petani.
“Petani kelapa hari ini berada dalam kondisi yang sulit. Harga kelapa tidak sebanding dengan biaya dan kebutuhan hidup. Kami datang untuk mendesak pemerintah daerah benar-benar memperjuangkan nasib petani, bukan hanya menerima aspirasi,” tegas Rahmat.
Baca Juga: Perambah Hutan dan Pembakar Lahan Ditangkap di Dua Daerah
Ia meminta Pemkab Inhil menunjukkan langkah konkret dalam memperjuangkan harga kelapa hingga ke pemerintah pusat. Menurutnya, petani membutuhkan kepastian harga agar tetap mampu mempertahankan perkebunan mereka.
“Kami ingin ada langkah yang jelas dan terukur. Jangan sampai persoalan harga kelapa hanya dibahas dalam rapat, tetapi tidak ada hasilnya. Petani membutuhkan kepastian harga agar mereka bisa bertahan,” ujarnya.
Dalam orasinya, massa juga menyoroti rendahnya harga kelapa yang dinilai tidak sebanding dengan kebutuhan masyarakat. “Kami meminta Pak Bupati untuk memperjuangkan harga kelapa. Saat ini lebih mahal harga telur daripada harga sebuah kelapa,” teriak massa.
Menanggapi tuntutan tersebut, Bupati Inhil H Herman mengatakan pemerintah daerah telah menyampaikan persoalan harga kelapa kepada pemerintah pusat. Namun, hingga kini usulan tersebut belum mendapat tindak lanjut. “Perlu dukungan dari mahasiswa dan masyarakat bagaimana kita mendobrak agar harga kelapa ini menjadi perhatian pemerintah pusat,” ujarnya.
Baca Juga: Ratusan Mahasiswa dan Petani Kelapa Demo di Kantor Bupati Inhil, Desak Harga Diperjuangkan
Herman mengatakan, persoalan harga kelapa sebelumnya telah dibahas dalam rapat di Bappeda yang turut dihadiri staf ahli Menteri Pertanian. Pemkab Inhil juga telah berkoordinasi dengan anggota DPR RI untuk mendorong persoalan tersebut.
Ia berharap dukungan mahasiswa dan masyarakat dapat memperkuat perjuangan daerah sehingga persoalan harga kelapa segera mendapat perhatian pemerintah pusat. “Saya sangat berterima kasih. Berarti saya berjuang, pemerintah daerah tidak sendiri. Masyarakat juga ikut membantu, termasuk adik-adik mahasiswa,” ucapnya.
Herman menyebut luas perkebunan kelapa di Inhil mencapai sekitar 425 ribu hektare. Menurutnya, rendahnya harga kelapa berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari komoditas tersebut.
“Ini seluruh masyarakat kita, terutama yang berkebun kelapa. Tadi disampaikan ada 425.000 hektare. Ini bukan terluas di Indonesia, bahkan terluas di dunia. Makanya kalau kita cerita ini agak perih dengan kondisi saat ini,” ujarnya.
Baca Juga: Rambah Hutan dan Bakar Lahan, Dua Warga Inhil Ditangkap
Massa berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret untuk memperbaiki tata niaga dan meningkatkan harga kelapa di tingkat petani. Mereka menilai tanpa kepastian harga, kondisi petani akan semakin tertekan.(*2)
Editor : Arif Oktafian