Monyet Diduga Penyerang Warga Tembilahan Masih Diobservasi

M Ali Nurman • Dipublikasikan Rabu, 12 Agustus 2026 | 09:25 WIB
Monyet yang diduga penyerang warga Tembilahan, Indragiri Hilir dibawa ke Pusat Penyelamatan Hewan untuk menjalani observasi di Pekanbaru, Jumat (7/8/2026). (WAHYUDI/AFP)
Monyet yang diduga penyerang warga Tembilahan, Indragiri Hilir dibawa ke Pusat Penyelamatan Hewan untuk menjalani observasi di Pekanbaru, Jumat (7/8/2026). (WAHYUDI/AFP)

 

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Mo­nyet ekor panjang yang diduga menyerang sejumlah warga di Kecamatan Tembilahan, Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), masih menjalani observasi selama 14 hari. Hasil rapid test menyatakan sejumlah penyakit zoonosis negatif. Namun, hingga Selasa (11/8) belum dapat dipastikan sebagai monyet yang menyerang warga.

Kepala Dinas Pema­dam Kebakaran dan Pe­nyelamatan (PKP) Inhil, Junaidi Ismail mengatakan satwa yang ditangkap kini berada di kandang karantina Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Riau Pekanbaru. 

Nafsu makan satwa juga baik dengan perilaku Monyet tersebut dalam kondisi normal. Nafsu makan juga baik dengan perilaku aktif dan agresif.

Baca Juga: Rapid Test Negatif, Monyet Penyerang Warga Tembilahan Masih Diobservasi

“Satwa sudah dipindahkan ke kandang karantina. Nafsu makannya baik, perilakunya aktif dan agresif, sementara kondisi feses juga normal,” ujar Junaidi, Senin (10/8).

Menurutnya, BBKSDA Riau telah mengambil sampel darah untuk pemeriksaan sejumlah penyakit zoonosis, yakni tuberkulosis (TB), herpes, dan hepatitis. Berdasarkan hasil rapid test hingga 9 Agustus, seluruh pemeriksaan tersebut menunjukkan hasil negatif. “Semua negatif,” jelasnya.

Meski demikian, hasil tersebut belum mengakhiri pemeriksaan terhadap satwa. Monyet masih harus menjalani observasi selama 14 hari, terutama untuk melihat kondisi dan perilakunya serta kemungkinan munculnya gejala rabies.

Baca Juga: Perambah Hutan dan Pembakar Lahan Ditangkap di Dua Daerah

“Observasi masih dilakukan selama 14 hari ke depan. Ini untuk melihat kondisi dan perilaku satwa, terutama terkait kemungkinan rabies,” katanya.

Selain observasi, pemeriksaan DNA terhadap satwa juga belum dapat dilakukan. Berdasarkan laporan BBKSDA, tidak ditemukan bagian tubuh korban yang masuk ke dalam sistem pencernaan monyet. Kondisi tersebut membuat pemeriksaan DNA melalui darah maupun feses belum dapat dilakukan.

Junaidi menegaskan, satwa tersebut saat ini sudah diamankan dan ditangani pihak yang berkompeten. Masyarakat diminta menunggu hasil observasi untuk memastikan kondisi satwa tersebut.

Baca Juga: Ratusan Mahasiswa dan Petani Kelapa Demo di Kantor Bupati Inhil, Desak Harga Diperjuangkan

“Yang penting saat ini satwa sudah diamankan dan ditangani oleh pihak yang berkompeten. Kita menunggu hasil observasi selama 14 hari ke depan,” ujarnya.

Sebelumnya, serangan monyet ekor panjang membuat warga di Kelurahan Tembilahan Hilir, Kecamatan Tembilahan resah. Dalam periode 23 Juli hingga 5 Agustus 2026, sebanyak 18 warga dilaporkan menjadi korban gigitan dan cakaran monyet.(*2)

 

Editor : Arif Oktafian
monyet ekor panjang Monyet Tembilahan serangan monyet