Harga Naik, Inflasi Tembilahan September Capai 3,05 Persen

Redaksi • Dipublikasikan Kamis, 1 Oktober 2026 | 20:17 WIB
Asisten II Setda Inhil Dwi Budiyanto mengikuti rapat Inflasi bersama BPS di Aula Bapperida Inhil, Kamis (1/10/2026). (Istimewa)
Asisten II Setda Inhil Dwi Budiyanto mengikuti rapat Inflasi bersama BPS di Aula Bapperida Inhil, Kamis (1/10/2026). (Istimewa)

 

TEMBILAHAN (RIAUPOS.CO) - Harga sejumlah kebutuhan masyarakat di Tembilahan mengalami kenaikan sepanjang September 2026. Kondisi tersebut membuat inflasi secara tahunan mencapai 3,05 persen.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil), inflasi year on year (y-on-y) Tembilahan pada September 2026 tercatat 3,05 persen, dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 114,46. Sementara IHK pada September 2025 berada di angka 111,07.

Secara bulanan, inflasi September tercatat 0,20 persen. Sedangkan inflasi secara kumulatif sejak awal tahun atau year to date (y-to-d) mencapai 1,79 persen.

Baca Juga: Sempat Diguyur Hujan, Kualitas Udara Kuansing Belum Baik, Masih Tidak Sehat

Kenaikan harga paling tinggi terjadi pada kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya yang mencapai 11,44 persen. Berikutnya kelompok penyediaan makanan dan minuman/restoran sebesar 8,56 persen dan transportasi sebesar 2,58 persen.

Kenaikan juga tercatat pada kelompok perlengkapan, peralatan dan pemeliharaan rutin rumah tangga sebesar 1,33 persen.

Kemudian perumahan, air, listrik dan bahan bakar rumah tangga 1,13 persen serta informasi, komunikasi dan jasa keuangan 1,03 persen.

Baca Juga: Solidaritas Guru Meranti, Kumpulkan Rp61,5 Juta untuk Guru Korban Kebakaran

Sementara itu, kelompok makanan, minuman dan tembakau mengalami inflasi 0,93 persen. Disusul pakaian dan alas kaki 0,87 persen, kesehatan 0,52 persen, pendidikan 0,51 persen, serta rekreasi, olahraga dan budaya 0,02 persen.

Sejumlah komoditas turut memberikan andil terhadap inflasi. Di antaranya daging ayam ras, minyak goreng, nasi dengan lauk, sigaret kretek mesin, air kemasan, ikan kembung, beras, gula pasir, ikan serai, ikan tongkol/ikan ambu-ambu, ikan patin dan ketimun.

Di sisi lain, beberapa komoditas memberikan andil terhadap deflasi. Di antaranya cabai merah, bawang merah, ikan lele, udang basah, kol putih atau kubis, kangkung, kentang dan petai.

Baca Juga: Kebakaran Hebat Terjadi di Kelurahan Bagan Barat Rohil, Api Masih Belum Berhasil Dipadamkan

Asisten II Setda Inhil Dwi Budiyanto mengatakan, perkembangan harga menjadi perhatian pemerintah daerah karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat.

"Pemantauan perkembangan harga ini penting untuk menjaga stabilitas harga di daerah. Dengan sinergi bersama BPS, kita bisa melihat komoditas mana yang mengalami kenaikan maupun penurunan sehingga dapat menjadi dasar dalam menentukan langkah pengendalian inflasi," ujarnya, Kamis (1/10/2026).

Dwi menegaskan, pemerintah daerah akan terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan harga, terutama komoditas yang memberikan tekanan terhadap inflasi.

Baca Juga: Polisi Bekuk Pria 27 Tahun di Area Parkir Hotel, Diduga Pengedar 122 Butir Ekstasi

Sementara itu, Kepala BPS Inhil Zulyadi mengatakan, data inflasi tersebut menggambarkan perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi masyarakat di wilayah Tembilahan selama periode September 2026.

Ia menyebutkan, pergerakan harga setiap kelompok pengeluaran maupun komoditas menjadi bagian penting dalam melihat sumber tekanan inflasi di daerah.

"Perkembangan inflasi ini perlu dilihat berdasarkan kelompok pengeluaran dan komoditasnya, sehingga perubahan harga yang terjadi dapat diketahui secara lebih jelas," ujarnya.

Baca Juga: Puncak Milad Ke-64, Unri Hadirkan Nadhif Basalamah pada Pesta Kuliner Nusantara

Pemerintah Kabupaten Inhil bersama BPS terus melakukan pemantauan harga secara berkala untuk menjaga stabilitas harga dan daya beli masyarakat. (*2)

Editor : M. Erizal
inflasi tembilahan BPS Inhil harga naik