Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Sempat Jadi Korban Perundungan, Polda Riau Ungkap Kronologi dan Hasil Autopsi Kematian Bocah Kelas 2 SD di Inhu

Afiat Ananda • Rabu, 4 Juni 2025 | 19:15 WIB
Dirkrimum Polda Riau Kombes Pol Asep Darmawan saat pimpin ekspos hasil autopsi kematian bocah kelas 2 SD di Indragiri Hulu, Rabu (4/6/2025).
Dirkrimum Polda Riau Kombes Pol Asep Darmawan saat pimpin ekspos hasil autopsi kematian bocah kelas 2 SD di Indragiri Hulu, Rabu (4/6/2025).

PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Kepolisian Daerah (Polda) Riau melalui sejumlah satuan kerja berhasil mengungkap penyebab pasti kematian bocah kelas 2 SD di Indragiri Hulu yang sempat menjadi korban perundungan.

Korban diketahui menghembuskan nafas terakhir karena usus buntu yang pecah. Kesimpulan ini diambil setelah dilakukan autopsi secara menyeluruh terhadap jasad bocah berumur 8 tahun tersebut.

Pemaparan tersebut disampaikan Dirkrimum Polda Riau Kombes Pol Asep Darmawan saat ekspos hasil autopsi yang dilaksanakan di Mapolda Riau, Rabu (4/6/2025).

Hadir dalam kesempatan itu, Plh Kabid Humas AKBP Vera Taurensa, Kapolres Inhu AKBP Fahrian S Siregar, Kasubbid Dokpol Biddokkes Polda Riau AKBP Supriyanto serta Dokter Spesialis Forensik Dr dr Mohammad Tegar Indrayana.

Dir Reskrimum Polda Riau Kombes Pol Asep Darmawan, mengungkap bahwa korban diduga mengalami penganiayaan lima anak laki-laki lainnya yang juga masih di bawah umur.

Sementara itu Kapolres Indragiri Hulu AKBP Fahrian S Siregar memaparkan, penyidikan peristiwa ini dimulai setelah pihak berwenang menerima laporan bahwa seorang anak laki-laki telah meninggal dunia.

Menurut keterangan dari kedua orang tuanya, sebelum meninggal, korban sempat mengeluh sakit dan sempat dibawa berobat ke tukang urut dan kemudian ke klinik setempat. Namun, kondisinya memburuk hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir.

"Sejauh ini kepolisian telah memeriksa sedikitnya 22 saksi, termasuk kedua orang tua korban, dua tukang urut, dua dokter, lima teman sekolah korban, kepala sekolah, serta sejumlah pihak lainnya. Pemeriksaan tersebut bertujuan untuk menyusun rangkaian peristiwa yang menyebabkan kematian korban," ujar AKBP Fahrian.

Autopsi Tim Forensik Polda Riau, yang dipimpin oleh AKBP Supriyanto bersama Dokter Spesialis Forensik Dr dr Mohammad Tegar Indrayana dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Indrasari, Rengat.

Proses otopsi dilakukan secara menyeluruh dan berdasarkan fakta-fakta medis serta temuan pendukung lainnya.

Tim Forensik Polda Riau AKBP Supriyanto menjelaskan pihaknya menemukan adanya kebocoran pada appendiks yang menyebabkan peradangan luas di rongga perut (infeksi peritonitis), yang akhirnya memicu kegagalan sistemik dan mengakibatkan kematian.

“Penyebab kematian adalah infeksi sistemik berat akibat pecahnya usus buntu yang menyebabkan infeksi meluas di rongga perut,” jelas AKBP Supriyanto.

Pihak kepolisian masih mendalami apakah luka-luka luar yang ditemukan memiliki kaitan dengan dugaan kekerasan atau insiden lain yang turut memperparah kondisi korban.

“Memang ada beberapa memar kami temukan. Namun, sejauh ini belum ditemukan penyebab pecahnya usus buntu akibat memar,” ungkap Supriyanto.

Laporan: Afiat Ananda (Pekanbaru)

Editor : M. Erizal
#korban perundungan #murid sd #murid SD dibully teman #usus buntu #polda riau #inhu