Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Bupati Inhu Ade Agus Hartanto Pimpinan Upacara Rengat Bersejarah, Ini Pesannya

Raja Kasmedi • Senin, 5 Januari 2026 | 12:33 WIB
Bupati Inhu, Ade Agus Hartanto saat memimpin upacara peringatan Rengat Bersejarah di Jalan Ahmad Yani Rengat, Senin (5/1/2026).
Bupati Inhu, Ade Agus Hartanto saat memimpin upacara peringatan Rengat Bersejarah di Jalan Ahmad Yani Rengat, Senin (5/1/2026).

RENGAT (RIAUPOS.CO) -- Kegiatan perdana di tahun 2026 dilakukan Bupati Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Ade Agus Hartanto SSos MSI, memimpin upacara hari bersejarah Kota Rengat. Dimana, 5 Januari 1949, dikenal sebagai peristiwa Rengat berdarah pembantaian rakyat sipil oleh tentara kolonial Belanda.

Pada hari itu, rakyat yang tidak bersenjata, baik laki-laki dan perempuan serta anak-anak menjadi korban kebrutalan penjajahan. Mereka gugur bukan karena kelemahan, tetapi karena keberanian mempertahankan martabat bangsa.

Rengat menjadi saksi bahwa kemerdekaan Indonesia tidak datang dengan damai, tetapi ditebus dengan darah dan nyawa. "Hari ini, 5 Januari, bukanlah hari biasa bagi Inhu. Hari ini adalah hari duka, hari perjuangan dan hari kehormatan," ujar Bupati Inhu, Ade Agus Hartanto.

Menurutnya, sejarah itu wajib dikenang, bukan untuk membuka luka lama. Namun untuk menegaskan jati diri sebagai daerah yang lahir dari semangat perlawanan dan keberanian.

Upacara hari ini juga memiliki makna strategis. Karena menjadi upacara perdana Pemerintah Kabupaten Inhu di tahun 2026. "Saya sengaja mengawali tahun kerja dengan mengenang peristiwa berdarah ini, agar setiap ASN memahami bahwa pengabdian kita hari ini adalah kelanjutan dari perjuangan para pahlawan kemarin," ungkapnya.

Jika dahulu rakyat Rengat berani melawan senjata dengan tekad. Maka hari ini kita dituntut berani melawan kemalasan, ketidakdisiplinan, pelayanan yang lamban serta pengelolaan anggaran yang tidak bertanggung jawab. "Inilah esensi gerakan perubahan Inhu maju yang saya dan wakil bupati canangkan. Gerakan perubahan Inhu maju adalah gerakan reformasi kerja yang menuntut perubahan nyata," tegasnya.

Untuk itu Bupati megaskan beberapa hal penting, pertama, pelayanan publik harus berubah. Tidak boleh lagi ada pelayanan yang berbelit, tidak ramah, dan tidak pasti. ASN harus hadir sebagai pelayan rakyat, bukan sebagai penguasa kecil di balik meja.

Kedua, disiplin ASN adalah harga mati. Disiplin waktu, disiplin kinerja, disiplin berpikir dan disiplin etika. Tahun 2026 tidak memberi ruang bagi ASN yang bekerja asal hadir, asal laporan dan asal selesai.

Ketiga, pelaksanaan anggaran 2026 harus tepat waktu dan tepat sasaran. Tidak boleh lagi ada keterlambatan kegiatan, penumpukan anggaran di akhir tahun atau program yang tidak berdampak langsung bagi masyarakat. Setiap kepala perangkat daerah bertanggung jawab penuh atas kinerja dan serapan anggarannya.

"Saya tegaskan, jabatan adalah amanah perjuangan, bukan fasilitas kenyamanan," tegasnya lagi. Untuk itu harapnya, semoga momentum peringatan peristiwa Rengat berdarah 5 Januari ini menjadi cermin moral dan sumber kekuatan bagi kita semua dalam mengabdi kepada masyarakat, daerah dan negara.

Bupati juga mengajak, agar belajar dari sejarah Rengat berdarah. Karena, para pejuang tidak menunggu perintah untuk berkorban. Bahkan, mereka bergerak karena kesadaran dan kecintaan kepada daerah dan bangsa.

"Maka hari ini, saya menuntut kesadaran yang sama dari seluruh ASN untuk bekerja dengan hati dengan keberanian dan tanggung jawab penuh," harap Ade Agus Hartanto.

 

Editor : Rinaldi
#Pimpin Upacara #bupati inhu #rengat berdarah