Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Meningkat, DBD di Inhu Capai 51 Kasus

Raja Kasmedi • Jumat, 24 April 2026 | 10:55 WIB
Ilustrasi DBD. (JPG)
Ilustrasi DBD. (JPG)

 
RENGAT (RIAUPOS.CO) - Dinas Ke­sehatan (Diskes) Kabupa­ten Indragiri Hulu (Inhu) mengimbau warga daerah itu untuk waspada terhadap Demam Berdarah Dengue (DBD). Warga juga diminta waspada terhadap penula­ran dan jangan lalai hingga terlambat dalam penanganan. 

Kasus DBD di Kabupaten Inhu sepanjang 2026 meningkat dibandingkan tahun 2025 lalu. ”DBD juga dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” ujar Plt Kepala Diskes Kabupaten Inhu, Yuniarni SST MSi, Kamis (23/4).

Dijelaskannya, data kasus DBD Januari hingga Maret 2025 tercatat  sebanyak 25 orang. Sedangkan pada bulan Januari hingga Maret 2026, kasus DBD di Kabupaten Inhu sudah mencapai sebanyak 51 orang.

Baca Juga: MBG Sudah Berjalan, Wabup Inhu Berharap Tetap Ada Pengawasan dari Balai POM

Peningkatan kasus itu tentunya menjadi perhatian semua pihak termasuk warga itu sendiri. Penyakit DBD itu diawali oleh virus dengue atau nyamuk Aedes aegypti. Dimana, nyamuk Aedes aegypti berkembang biak dari genangan air.

”Agar tidak terjadi genangan air, perlu menjaga kebersihan lingkungan dengan terus menggalakkan gera­kan 3M yakni menguras, menutup, dan mengubur barang-barang yang berpotensi menampung air,” tambahnya.

Atas peningkatan kasus itu, pihaknya juga sudah menentukan langkah-langkah. Bahkan, langkah-langkah itu sudah dilakukan Diskes dan melalui Puskesmas. Diantaranya, membuat surat pemberitahuan kewaspadaan terhadap DBD.

Baca Juga: UMKM Lokal Gagal Dapat Tender Pengadaan 24 Ribu Pasang Seragam Gratis

Kemudian, melakukan promosi kesehatan tentang waspada DBD dan melakukan advokasi dengan pejabat desa dan kecamatan untuk mela­kukan gotong royong secara rutin. Selain itu, melakukan penyelidikan epidemiologi apa bila di temukan kasus DBD. 

”Biasanya penyelidikan epidemiologi dilakukan berdasarkan laporan dari masya­rakat ataupun layanan kesehatan lainnya,” katanya.

Tidak itu saja, pihaknya juga telah melakukan penatalaksaan penanganan kasus DBD seperti, fogging, pemberian bubuk abate, pemantauan jentik, pemberdayaan masyarakat untuk menghidupkan kembali gotong royong dan buang sampah pada tempatnya. ”Mari sama-sama kita jaga lingkungan yang bersih tanpa ada ruang berkembang biak nyamuk,” ajak Yuniarni.(kas)

Editor : Arif Oktafian
#DBD Inhu #demam berdarah #kasus dbd meningkat