JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Pemerintah Australia lakukan upaya mengendalikan jumlah buaya yang mengkhawatirkan di Northern Territory. Seorang anak perempuan berusia 12 tahun terbunuh oleh salah satu hewan buas tersebut.
Sejak menetapkan buaya sebagai spesies yang dilindungi pada 1970-an, populasi hewan itu meningkat secara drastis. Awalnya buaya hanya sekitar 3.000 menjadi 100.000 ekor, di wilayah Northern Territory yang hanya berpenduduk 250.000 jiwa.
”Kita tidak bisa membiarkan populasi buaya melebihi populasi manusia di Northern Territory. Kita harus menjaga agar jumlah buaya tetap terkendali,” kata Menteri Utama Eva Lawler, menurut Australian Broadcasting Corporation.
Di Northern Territory, 15 orang tewas akibat serangan buaya antara 2005 dan 2014. Pada 2018, dua orang kembali tewas.
Jasad anak perempuan itu ditemukan di dekat area di mana dia hilang, di sungai di Nganmarriyanga, sebuah komunitas Aborigin di wilayah Daly River.
Dikutip dari New York Post, identitas dari anak perempuan tersebut belum diumumkan secara publik. Hanya beberapa minggu sebelum tragedi tersebut, wilayah itu menyetujui rencana sepuluh tahun untuk pengelolaan buaya. Anggaran 337.000 dollar atau sekitar Rp 601 juta, telah disisihkan untuk program tersebut.
Pemimpin oposisi di wilayah tersebut, Lia Finocchiaro berpendapat, seharusnya ada anggaran yang lebih tinggi.
”(Kematian gadis tersebut) mengirimkan pesan bahwa wilayah tersebut tidak aman dan selain masalah hukum dan ketertiban serta kriminalitas, yang tidak kita perlukan adalah lebih banyak lagi berita yang buruk,” ujar Lia Finocchiaro.
Sumber: Jawapos.com
Editor : RP Edwir Sulaiman