VATIKAN (RIAUPOS.CO) - Penderitaan akibat perang terjadi di berbagai negara yang berkonflik, seakan tak berkesudahan. Kekerasan yang terus saja terjadi, menarik perhatian Paus Fransiskus mengajak pemimpin dunia menyerukan gencatan senjata jelang natal 2024 ini.
Paus Fransiskus pada Ahad (8/12/2024) dalam sebuah doa di pidatonya mengemukakan permohonan langsung kepada para pemimpin politik dan kepada masyarakat internasional, dimana gencatan senjata dapat disepakati di semua negara yang terkoyak oleh perang sebelum Natal.
"Saya mengimbau kepada Pemerintah dan Komunitas Internasional, bahwa gencatan senjata dapat dicapai di semua front perang dengan perayaan Natal," katanya.
"Saya mengimbau kepada Pemerintah dan Komunitas Internasional, bahwa gencatan senjata dapat dicapai di semua front perang pada perayaan Natal," sambung Paus di kutip dari vatican news.
Kata-katanya mengikuti permintaannya agar semua pria dan wanita yang memiliki niat baik bergabung dalam doa untuk perdamaian di negara-negara yang dilanda perang di seluruh dunia.
"Mari kita terus berdoa untuk perdamaian, di Ukraina yang tersiksa, di Timur Tengah - Palestina, Israel, Lebanon, dan sekarang Suriah - di Myanmar, di Sudan, dan di mana pun orang-orang menderita perang dan kekerasan," Paus memohon.
Baca Juga: Perang Lawan Narkoba, 11 Bulan 3.226 Tersangka Ditangkap Polda Riau
Negara-negara yang sedang berperang
Seruannya yang ditegaskan kembali muncul ketika kekerasan terus berkecamuk di Gaza, di mana lebih dari 40.300 orang telah tewas sejak peperangan Israel kontra Palestinas sejak sejak 7 Oktober 2023.
Baca Juga: Setahun, Perang Gaza Belum Ada Tanda Berakhir
Di negara tetangga Lebanon, di mana serangan Israel juga meningkat dalam beberapa bulan terakhir.
Kemudian, Ukraina baru-baru ini menandai tonggak sejarah tragis 1.000 hari dari invasi penuh Rusia ke negara itu.
Di Myanmar di mana perang saudara telah berlangsung g sejak kudeta militer menggulingkan pemerintah pada tahun 2021.
Sudan, di mana pertempuran antara tentara dan pemberontak paramiliter telah menewaskan lebih dari 60.000 orang dan jutaan orang mengungsi sejak April 2023.
Baca Juga: Konflik Berdarah Sudan, Lebih Satu Juta Orang Melarikan Diri
Paus juga menyebutkan situasi yang tidak stabil di Suriah di mana konflik 14 tahun tampaknya telah mencapai puncaknya dalam beberapa jam terakhir dengan pemberontak yang mengklaim telah merebut ibu kota, Damaskus.
Editor : RP Eka Gusmadi Putra