Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Israel Masih Serang Jalur Gaza, Tujuh Korban Tewas Padahal Kesepakatan Gencatan Senjata Baru Akan Dimulai

Redaksi • Jumat, 17 Januari 2025 | 00:45 WIB
Israel serang Gaza sehari setelah Qatar dan Amerika Serikat mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.
Israel serang Gaza sehari setelah Qatar dan Amerika Serikat mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.

 

RIAUPOS.CO - Hanya beberapa jam sebelum kabinet Israel bersiap memberikan suara pada kesepakatan gencatan senjata di wilayah tersebut, serangan terbaru Israel dilancarkan di Jalur Gaza.

Badan Pertahanan Sipil Gaza mengonfirmasi bahwa serangan ini telah menelan korban jiwa, dengan sedikitnya tujuh orang tewas akibat insiden tersebut.

“Kru kami mengeluarkan 5 orang yang tewas dan lebih dari 10 orang yang terluka dari bawah reruntuhan rumah... yang dibom oleh tentara Israel di daerah Al-Rimal di sebelah barat Kota Gaza,” ungkap badan tersebut dalam pernyataan yang dilansir kantor berita AFP.

Dua jenazah lainnya ditemukan di persimpangan Al-Sha’biya di pusat Kota Gaza.

Serangan ini terjadi sehari setelah Qatar dan Amerika Serikat mengumumkan tercapainya kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera antara Israel dan Hamas.

Kesepakatan ini diharapkan menjadi langkah awal menuju perdamaian permanen di Gaza, dengan implementasi dimulai pada Minggu (19/1/2025).

Pada tahap awal, 33 orang sandera akan dibebaskan oleh Hamas, sementara lebih dari 1.000 tahanan Palestina di penjara Israel juga direncanakan dibebaskan sebagai bagian dari kesepakatan.

Sebagai tanggapan atas gencatan senjata tersebut, kelompok militan dari Irak dan Yaman mengumumkan penghentian operasi militer mereka terhadap Israel.

Sekretaris Jenderal Gerakan Nujaba, Akram al-Kaabi, dalam pernyataannya kepada Newsweek, menegaskan bahwa penangguhan ini merupakan bentuk solidaritas untuk mendukung penghentian kekerasan di Palestina.

“Namun, beri tahu entitas perampas itu bahwa setiap kebodohan yang dilakukannya di Palestina atau kawasan itu akan ditanggapi dengan keras, dan bahwa kami masih siap sedia dan rudal serta pesawat nirawak kami telah dipersiapkan sepenuhnya,” tambahnya.

Hal serupa disampaikan oleh Mohammed Abdul Salam, juru bicara Ansar Allah Yaman.

Abdul Salam memperingatkan bahwa Israel tetap menjadi ancaman besar bagi stabilitas kawasan akibat agresi yang terus dilakukan terhadap Palestina.

Pernyataan resmi lebih lanjut akan disampaikan oleh pemimpin Ansar Allah, Abdul Malek al-Houthi.

Kesepakatan kompleks ini mencakup fase awal selama enam minggu, di mana Israel akan menarik pasukannya secara bertahap dari Jalur Gaza.

Hamas akan mulai membebaskan sandera secara bertahap, dimulai dengan tiga sandera pertama pada hari pertama gencatan senjata.

Sebanyak 33 sandera akan dibebaskan dalam 42 hari pertama, sementara pembebasan lebih lanjut akan dinegosiasikan dalam tahap kedua.

Meski beberapa anggota garis keras dalam koalisi Perdana Menteri Benjamin Netanyahu menentang kesepakatan ini, mayoritas suara di Kabinet Keamanan diperkirakan akan mendukung langkah tersebut.

Proses pemungutan suara dijadwalkan berlangsung pada Kamis (16/1/2025), sebelum kesepakatan resmi diberlakukan.

Tahap awal ini diharapkan menjadi fondasi bagi negosiasi jangka panjang yang bertujuan mengakhiri konflik berkepanjangan di Gaza.

Dengan lebih dari 1.000 tahanan Palestina akan dibebaskan sebagai bagian dari pertukaran, kesepakatan ini berdampak bagi kedua belah pihak untuk mengurangi ketegangan.

Editor : M. Erizal
#israel #Palestina Israel gencatan senjata #jalur gaza #Gencatan Senjata Dalam Konflik Palestina Israel