YERUSALEM (RIAUPOS.CO) - Israel mengklaim telah merebut wilayah yang luas di Jalur Gaza dan terus memperluas zona keamanannya. Sementara itu, serangan udara yang dilancarkan pada Rabu (9/4) menewaskan sedikitnya 23 warga sipil. Serangan itu menghantam gedung permukiman empat lantai di kawasan Shijaiyah, Gaza utara.
Menurut petugas medis di Rumah Sakit al-Ahli ada delapan wanita dan anak-anak yang jadi korban. Sebanyak 23 warga sipil ini dievakuasi dari reruntuhan bangunan. Proses pencarian korban selamat masih terus dilakukan hingga malam hari. Sementara militer Israel mengklaim bahwa serangan itu menargetkan seorang militan senior Hamas.
Targetkan Kota Rafah
Bersamaan dengan serangan tersebut, laporan dari Harian Haaretz menyebut militer Israel tengah bersiap untuk merebut seluruh Kota Rafah dan wilayah sekitarnya. Langkah ini disebut sebagai bagian dari rencana memperluas Koridor Morag. Ini adalah jalur strategis antara Rafah dan Khan Younis. Jika berhasil dikuasai, maka akan memutus Gaza dari Mesir dan menjadikannya kantong wilayah yang sepenuhnya terkepung oleh Israel.
Dijadikan Zona Keamanan
Menteri Pertahanan Israel Katz menyatakan, bahwa wilayah-wilayah yang direbut akan menjadi bagian dari zona keamanan baru Israel. “Gaza kini semakin kecil dan terisolasi,” ujarnya seperti dilansir dari AFP. Dia menambahkan bahwa tekanan terhadap Gaza akan terus ditingkatkan hingga semua sandera dibebaskan dan Hamas dikalahkan.
Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu sebelumnya melakukan kunjungan ke Amerika Serikat untuk bertemu dengan Presiden Donald Trump. Trump ingin agar perang segera berakhir dan mengusulkan pemindahan penduduk Gaza secara sukarela atau paksa.
Hamas Luncurkan Roket
Di tengah konflik yang terus memburuk, Hamas pada awal pekan ini meluncurkan serangan roket terbesar sejak gencatan senjata berakhir. Seperti dilansir dari The Guardian, roket diarahkan ke Kota Ashkelon, Israel, dengan 10 proyektil ditembakan. Tindakan ini menyebabkan 12 orang terluka.
Upaya internasional untuk mencapai gencatan senjata masih berlangsung, namun Netanyahu menolak menghentikan serangan sebelum Hamas benar-benar dikalahkan. Hamas di sisi lain menegaskan tidak akan membebaskan 59 sandera yang masih ditahan.(lyn/gas/jpg)
Editor : Arif Oktafian