JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Pemerintah belum berencana mengevakuasi WNI yang berada di Iran dan Israel. Upaya pemindahan baru berjalan bila konflik dua negara tersebut masuk status siaga satu. Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) menyebut, ada 580 WNI di dua negara itu.
Dari 580 WNI tersebut, 386 WNI di wilayah Iran. Mereka berada di Kota Qom sebagai pelajar dan mahasiswa. Selebihnya, 194 WNI di Israel. Sebagian besar adalah peserta magang pendidikan di Kota Arafat, Israel bagian selatan.
Direktur Perlindungan WNI Kemenlu Judha Nugraha memastikan, tidak ada WNI yang menjadi korban dalam konflik tersebut. Meski sebelumnya, ada beberapa WNI yang tengah melakukan perjalanan singkat ke beberapa negara itu sempat terdampar atau stranded karena wilayah udaranya ditutup.
Contohnya, 42 WNI peziarah yang berada di Yerusalem. Awalnya, mereka harus keluar Israel melalui bandara Ben Gurion, Israel. ”Karena ruang udaranya ditutup, KBRI Amman membantu memindahkan melalui jalur darat menuju ke Jordania hingga akhirnya kembali ke Indonesia pada Selasa (17/6),” ucapnya, Rabu (18/6).
Ada pula 8 jemaah haji WNI yang berasal dari Inggris, yang juga terdampar di Amman. Mereka telah dibantu untuk kembali ke Inggris. Lalu, 2 peziarah WNI di Kota Qom, Iran. Semula, keduanya dijadwalkan kembali pulang melalui Bandara Internasional Teheran. Namun, karena tertutup, maka KBRI Teheran membantu mereka keluar melalui jalan darat menuju Pakistan.
Menurut Judha, meski belum ada upaya evakuasi, Kemenlu dan KBRI Teheran sudah menyusun rencana kontingensi. Rencana itu sudah disusun sejak tahun lalu untuk mengantisipasi naiknya eskalasi konflik dua negara itu menjadi siaga dua. ”Kami terus monitor dari dekat kemungkinan terjadinya eskalasi lebih lanjut,” ujarnya.
Pada Selasa malam, kata Judha, Kemenlu bersama KBRI Teheran juga telah menggelar town hall meeting atau pertemuan dengan para WNI di Iran. Dalam pertemuan secara virtual itu, pemerintah menyampaikan langkah-langkah kontingensi yang sudah disiapkan oleh KBRI Teheran dan pemerintah pusat.
Selain itu, pemerintah kembali mengingatkan agar WNI selalu waspada dan menghindari keluar rumah untuk keperluan yang tidak penting. Mereka diimbau segera menghubungi hotline dari KBRI Amman maupun KBRI Teheran jika berada dalam kondisi darurat. Judha meminta, agar WNI terus memonitor perkembangan situasi. ”Karena jika terjadi eskalasi, kami akan tingkatkan statusnya menjadi siaga satu dan kemudian akan melaksanakan proses evakuasi,” jelasnya.
Bagi WNI yang memiliki rencana perjalanan ke Iran, Israel, Suriha, Lebanon, dan Yaman, disarankan untuk menunda perjalanannya. ”Karena di negara-negara tersebut, perwakilan RI telah menetapkan status siaga,” paparnya.
Kemudian, bagi WNI yang memiliki rencana penerbangan melewati wilayah Timur Tengah, diharapkan selalu memeriksa jadwal keberangkatan terakhir ke maskapai masing-masing. Itu guna mengantisipasi buka tutup wilayah udara yang dapat mengganggu jadwal penerbangan.
Duta Besar RI untuk Iran Rolliansyah Soemirat mengungkapkan, saat ini para staf KBRI Teheran terus melakukan berbagai upaya untuk memantau situasi para WNI yang tersebar di berbagai kota di Iran. Dia mengakui, belum banyak informasi yang dapat disampaikan lantaran kondisi di sana yang memang kurang kondusif.
Namun, dia memastikan, KBRI Teheran akan terus berkoordinasi dengan Kemenlu untuk menyampaikan berbagai macam perkembangan, baik itu mengenai situasi konflik di lapangan, kondisi WNI di Iran, ataupun isu-isu lainnya.
Ultimatum Iran
Iran gerah melihat Amerika Serikat (AS) yang ikut campur dalam konflik dengan Israel. Menurut Iran, bila ada intervensi dari AS, maka konflik akan terus berlarut.
Dilansir dari Al Jazeera kemarin (18/6) waktu setempat, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei mengultimatum agar AS tidak ikut dalam konflik yang sudah berlangsung enam hari itu. ”Setiap intervensi AS akan menjadi alasan untuk perang habis-habisan di wilayah tersebut,” katanya.
Dia menambahkan, negara Arab juga menyadari bahwa Israel berusaha menyeret negara lain dalam perang tersebut. ”Kami yakin negara-negara Arab kami yang menjadi tuan rumah pangkalan AS tidak akan mengizinkan wilayah mereka digunakan untuk melawan tetangga Muslim mereka,” ujarnya.
Amerika diketahui telah mengirimkan lebih banyak pesawat tempur ke wilayah konflik. Selain itu, Kapal Induk USS Nimitz juga diluncurkan. Padahal, sebelumnya, Presiden AS Donald Trump menginginkan sesuatu yang lebih besar dari gencatan senjata.
Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamanei juga memperingatkan AS untuk tidak terlibat dalam peperangan itu. ”Iran tidak pernah menyerah dan AS akan menderita kerusakan yang tidak dapat diperbaiki jika campur tangan,” ucapnya.
Namun, pada Selasa lalu (17/6), Trump menuntut Israel untuk menyerah tanpa syarat. Dia juga menyatakan bahwa negaranya dapat dengan mudah membunuh Ali Khamenei. ”Kami tahu persis di mana apa yang disebut pemimpin tertinggi bersembunyi. Dia adalah target yang mudah, tetapi aman di sana. Kami tidak akan membawanya keluar (membunuh!), setidaknya tidak untuk saat ini,” tulis Trump di platform Truth Social-nya.
Kemarin, Iran kembali mengancam Tel Aviv. Mereka meminta warga Tel Aviv untuk bersiap menerima serangan. Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengklaim rudal hipersonik Fattah-1 telah mengguncang pusat penampungan Israel pada Selasa malam.
Di hari yang sama, militer Israel mengklaim telah menyerang lokasi pembuatan senjata di Teheran. Pernyataan itu diposting melalui Telegram. Mereka menyatakan serangan itu merupakan bagian dari upaya ekstensif untuk merusak program pengembangan senjata nuklir Iran.(mia/lyn/aph/jpg)
Editor : Bayu Saputra