WASHINGTON DC (RIAUPOS.CO) – Kegalauan sepettinya tengah melanda Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. AS mengeluarkan pertanyaan agar warga sipil di Teheran dipindahkan yang mengindikasikan adanya perang besar, empat hari setelahnya, Trump justru seolah memberi waktu kepada Iran untuk bersiap.
Trump memberi waktu kepada Iran dua minggu untuk menghindari kemungkinan serangan udara AS. Dilaporkan AFP, Sabtu (21/6/2025), Trump mengatakan, masih ingin melihat apakah orang-orang masih menggunakan akal. Namun, batas waktu tersebut merupakan batas maksimal.
Sehingga, Trump dapat dimungkinkan mengambil keputusan sebelum batas waktu tersebut berakhir.
"Saya memberikan waktu mereka, dan saya mengatakan dua minggu akan menjadi waktu maksimum," katanya, Jumat, usai ditanya apakah dirinya dapat mengambil keputusan menyerang Iran sebelum batas waktu yang ditetapkan.
Selain itu, dia menegaskan, kemungkinan besar dia tidak akan menghentikan Israel untuk menyerang Iran. Sebab saat ini, sekutunya berada dalam posisi menang.
Dia pun menyatakan enggan menyuarakan upaya Eropa untuk melakukan mediasi demi mengakhiri konflik yang terjadi. Sementara itu, pada Kamis (19/6), dalam pernyataan resmi yang dirilis Gedung Putih, Presiden AS itu mengungkapkan alasan memberikan waktu dua minggu ke depan untuk memutuskan membatalkan akan cawe-cawe atau tidak dalam perang Israel-Iran ini.
Dia menyebut, dalam rentang waktu itu, akan ada peluang besar untuk kalah dengan Iran. Pernyataan tersebut kemudian dipandang secara luas sebagai kemungkinan adanya jeda dua pekan untuk negosiasi.
Negara-negara Eropa pun langsung melakukan rekonstruksi dengan Teheran terkait kemungkinan tersebut. Akan tetapi, harapan jeda perang itu seperti minim terjadi.
Terbaru, Trump justru menolak pembicaraan yang digelar negara-negara Eropa, seperti Inggris, Prancis, Jerman dan Uni Eropa dengan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, di Jenewa, Swiss, pada Jumat (20/6/2025).
"Mereka (Eropa, red) tidak membantu. Iran tidak ingin berbicara dengan Eropa. Mereka ingin berbicara dengan kita. Eropa tidak akan dapat membantu dalam hal ini," ungkapnya.
Sementara itu, Araghchi, setelah pembicaraan di Jenewa, juga menegaskan posisi Iran. Menurutnya, Iran tidak akan melanjutkan serangan dengan AS sebelum Israel menghentikan serangannya. Atas tuntutan tersebut, Trump menyebut hal itu sulit dipenuhi.
Dia mengibaratkan, sekutunya kini dalam posisi menang sehingga sulit diminta berhenti. “Tetapi kami siap, bersedia, dan mampu, dan kami telah berbicara dengan Iran, dan kami akan melihat apa yang akan terjadi,” ujarnya.
Terpisah, meski hingga kini Iran belum menyampaikan permintaan bantuan, namun sekutunya, Rusia telah berulang kali melakukan pembelaan. Terbaru, Presiden Rusia Vladimir Putin dalam sebuah wawancara pada hari Sabtu (21/6), seperti dikutip dari Reuters dan Sky News Arabia, menyebut Iran tidak sedang merencanakan senjata nuklir seperti tudingan Israel.
Rusia telah berulang kali memberi tahu Israel bahwa tidak ada bukti atas tuduhan tersebut. "Rusia, dan juga IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional), tidak pernah memiliki bukti bahwa Iran sedang mempersiapkan diri untuk mendapatkan senjata nuklir, sebagaimana yang telah berulang kali kami sampaikan kepada pimpinan Israel," tulis Sky News Arabia mengutip pernyataan Putin.
Dalam wawancara tersebut, Putin juga menegaskan, bahwa Rusia siap mendukung Iran dalam mengembangkan program nuklir untuk tujuan damai. Yang mana, Iran memiliki hak untuk melakukan penelitian tersebut.
Sebelumnya, dalam forum ekonomi di St. Petersburg pada hari Jumat, Putin mengatakan, tertunda telah berbagi ide tentang cara menghentikan pertumpahan darah dalam konflik Iran-Israel dengan kedua belah pihak. Namun, dia tidak tertarik dengan ide-ide tersebut.***
Editor : Edwar Yaman