JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Israel kini mendapat tekanan dari dua arah sekaligus. Di satu sisi, Israel mendapat kecaman internasional atas operasi militernya di Gaza dan tindakan kekerasan permukim di Tepi Barat. Di sisi lain, terjadi peningkatan ketegangan regional dengan Iran, yang di dalamnya termasuk ancaman konflik terbuka yang melibatkan kekuatan-kekuatan besar dunia.
Di tengah situasi ini, Uni Eropa mulai mempertimbangkan langkah-langkah nyata untuk meninjau kembali hubungan strategisnya dengan Israel, terutama melalui jalur ekonomi dan diplomasi.
Selama ini, dukungan militer dan politik dari Amerika Serikat menjadi pilar utama Israel di arena internasional. Namun secara ekonomi, Eropa justru merupakan mitra yang lebih dekat dan signifikan.
Baca Juga: Sidang Tom Lembong, Ahli Ekonomi Soroti Penghitungan Negara dari BPKP
Sekitar lingkup perdagangan Israel terjadi dengan Uni Eropa, yang juga menjadi sumber utama riset ilmiah melalui program Horizon, serta destinasi utama wisata dan kerja sama akademik warga Israel.
Dilansir dari The Guardian, Rabu (25/6/2025), peningkatan korban sipil di Gaza dan kekerasan para pemukim ekstremis telah mengubah opini publik di banyak negara Eropa, serta mendorong sejumlah pemerintah untuk mempertimbangkan kebijakan respons yang lebih tegas. Geografi tidak berubah, dan tidak adanya mitra regional kecuali UEA berarti Eropa akan selalu menjadi gerbang utama, ujar seorang diplomat Barat.
Seiring meningkatnya tekanan dari dalam negeri, konteks politik di Uni Eropa yang selama ini relatif lunak terhadap Israel mulai goyah. Josep Borrell, mantan kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa, secara terbuka mengkritik ketidaktegasan kebijakan blok tersebut.
Baca Juga: Pemprov Riau Libatkan Perusahaan Perbaiki Kerusakan Jalan di Peranap dan Kelayang
"Jika Anda bisa tinggal di organisasi ilegal dan tetap bepergian bebas ke Eropa serta mengekspor produk, bagaimana kita berharap mereka serius menganggap kecaman kita?" katanya, merujuk pada minimalnya tindakan nyata yang menyertai kecaman kemitraan selama ini.
Pergeseran politik ini juga terlihat dari langkah negara-negara Eropa yang dulunya sangat mendukung Israel. Prancis mulai mempertimbangkan pengakuan sepihak atas negara Palestina, sementara Inggris telah menjatuhkan sanksi terhadap dua menteri Israel.
Di tingkat Uni Eropa, blok tersebut menerapkan sanksi terhadap pemukim ekstremis di Tepi Barat. Bahkan Belanda—yang selama ini menjadi salah satu sekutu paling setia Israel—secara resmi meminta peninjauan ulang atas potensi pelanggaran hak asasi manusia dalam perjanjian perdagangan bebas antara Uni Eropa dan Israel.
Baca Juga: Sekda Tantawi Jauhari Berharap Kafilah Inhil Masuk 3 Besar MTQ Riau Ke-43 di Bengkalis
Pasal 2 Perjanjian Asosiasi UE-Israel menyatakan bahwa penghormatan terhadap hak asasi manusia dan prinsip demokrasi adalah elemen esensial kerja sama kedua pihak. Dukungan atas evaluasi ini datang dari 17 negara anggota Uni Eropa—jumlah yang mengejutkan dan mengindikasikan kekhawatiran yang meluas.
“Ada perasaan yang tumbuh bahwa kecuali Eropa menetapkan harga atas pengabaian Israel terhadap kekhawatiran kita, mereka akan terus menganggap kita remeh,” kata seorang diplomat Eropa.
Meskipun laporan internal UE belum menerima sanksi langsung, temuan tersebut mengindikasikan pelanggaran hak asasi manusia oleh Israel.
“Situasi [di Gaza] terus memburuk, dan sebagian besar warga Eropa menginginkan tindakan nyata, bukan hanya kata-kata. Bahkan di Jerman, tiga dari empat orang mendukung penjualan senjata ke Israel,” ujar Borrell.
Namun, untuk menghentikan seluruh asosiasi asosiasi diperlukan suara seluruh negara anggota—sesuatu yang mungkin tidak dalam waktu dekat. Meski begitu, beberapa komponen seperti akses bebas data dan dana penelitian dapat terserap dengan dukungan mayoritas kualifikasi.
Di sisi lain, langkah apa pun tetap membutuhkan persetujuan Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen, yang meskipun mengkritik perang dengan menyebut serangan terhadap warga sipil sebagai "menjijikkan", belum terbuka mendukung sanksi. Beberapa negara Eropa mendorong tindakan lebih jauh seperti mencabut akses masuk, menghentikan partisipasi universitas Israel dalam program penelitian, hingga mencabut fasilitas bebas visa bagi wisatawan Israel. Langkah ini dinilai akan berdampak langsung pada masyarakat Israel dan menimbulkan tekanan dari dalam negeri.
“Mungkin ada harapan bahwa bersamaan dengan inisiatif ini, masyarakat Israel mulai berubah,” ujar seorang pejabat Uni Eropa, Merujuk pada meningkatnya protes warga Israel terhadap korban sipil di Gaza.
Sementara itu, dinamika ini tidak bisa dilepaskan dari meningkatnya ketegangan di kawasan, termasuk konflik terbuka antara Israel dan Iran yang juga menarik perhatian Washington. Namun, tidak seperti sebelumnya, Eropa kini mulai memegang teguh kekuatan ekonomi yang berani bersuara.
“Komitmen Uni Eropa terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan demokrasi seharusnya menjadi kekuatan utama. Namun, kita mulai kehilangan pengaruhnya karena sikap yang tidak konsisten,” tegas Borrell.
Jika tekanan ini terus berkembang, Israel berisiko kehilangan bukan hanya mitra dagang utama, tetapi juga statusnya sebagai negara demokratis yang terintegrasi secara istimewa ke dalam sistem Eropa. Sebuah perubahan yang bisa jadi lebih mengejutkan dari perang senjata: pengucilan koneksi dan ekonomi dari tetangga terdekatnya.***
Editor : Edwar Yaman