Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Ayatollah Ali Khamenei Muncul saat Acara Ashura di Tengah Konflik dan Ancaman AS, setelah 12 Hari Pemimpin Tertinggi Iran Itu Menghilang

Redaksi • Senin, 7 Juli 2025 | 16:00 WIB
Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei saat menghadiri upacara keagamaan Ashura di Masjid Imam Khomeini, Teheran.
Pemimpin Spiritual Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei saat menghadiri upacara keagamaan Ashura di Masjid Imam Khomeini, Teheran.

RIAUPOS.CO - Setelah 12 hari menghilang dari sorotan publik di tengah konflik dan ancaman Amerika Serikat (AS), Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei akhirnya muncul kembali.

Kemunculannya terekam dalam sebuah video yang disiarkan oleh televisi pemerintah Iran pada Sabtu (5/7/2025).

Pemimpin Tertinggi Iran berusia 85 tahun itu terlihat menghadiri upacara keagamaan Ashura di Masjid Imam Khomeini, jantung spiritual Teheran.

Dengan langkah pelan namun pasti, Khamenei masuk ke ruangan penuh jemaah yang langsung berdiri dan meneriakkan dukungan. Ia hanya mengangguk dan melambaikan tangan, tanpa sepatah kata.

Tapi pesan simboliknya jelas: Iran belum menyerah. Dan pemimpinnya belum tumbang.

Momen ini menandai kemunculan publik pertamanya sejak pecahnya perang singkat namun brutal dengan Israel pada 13 Juni lalu, yang ikut disulut oleh Amerika Serikat (AS).

Negeri Paman Sam bahkan meluncurkan serangan ke tiga fasilitas nuklir utama Iran pada 22 Juni. Tak main-main, Presiden AS Donald Trump saat itu mengklaim, “Kami tahu di mana Khamenei bersembunyi. Tapi membunuhnya? Bukan sekarang.”

Khamenei, yang sebelumnya hanya menyampaikan pidato melalui rekaman, sempat menanggapi pernyataan Trump dalam siaran pada 26 Juni. “Amerika meminta kami menyerah. Kami jawab dengan tamparan ke wajah mereka di pangkalan militer Qatar,” ujarnya, merujuk pada serangan balasan Iran dikutip dari Al-Jazeera.

Trump, dengan gaya khasnya, membalas, “Anda orang beriman dan dihormati di negara Anda. Tapi mari jujur saja: kalian babak belur.”

Data resmi Iran menyebutkan lebih dari 900 warganya tewas dan ribuan lainnya terluka. Serangan balik Iran ke Israel juga menewaskan sedikitnya 28 orang, sebelum gencatan senjata diteken pada 24 Juni. Namun, kedamaian belum benar-benar terasa.

Iran kini menutup akses bagi pengawas nuklir dari Badan Energi Atom Internasional (IAEA). Presiden baru Iran, Masoud Pezeshkian, bahkan telah menandatangani undang-undang yang menangguhkan kerja sama dengan lembaga internasional itu, membuat ketegangan nuklir kembali ke titik kritis.

Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi tak tinggal diam. “Dialog harus segera dilanjutkan. Dunia punya hak tahu apa yang terjadi,” tegasnya.

Masalahnya, saat serangan Israel dimulai, Iran sedang dalam pembicaraan lanjutan dengan AS untuk menghidupkan kembali kesepakatan nuklir 2015 (JCPOA) yang sebelumnya dibatalkan secara sepihak oleh Trump. Kini, dengan situasi semakin panas, masa depan perjanjian itu pun menjadi tanda tanya besar.

Meski begitu, Iran bersikukuh masih berkomitmen pada Traktat Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT). “Kami tidak akan keluar dari NPT,” kata Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi, mencoba meredakan spekulasi global.

Kemunculan Khamenei bukan sekadar upacara keagamaan. Ini adalah pesan. Bahwa meski dihantam bertubi-tubi oleh musuh bebuyutan dan oleh tekanan internasional, Iran masih berdiri, pemimpinnya belum menyerah.

Editor : M. Erizal
#khamenei #iran #amerika serikat #ayatollah ali khamenei #israel #pemimpin tertinggi iran #pemimpin tertinggi iran ayatollah ali khamenei