TEHERAN (RIAUPOS.CO) - Iran akhirnya mengungkapkan angka pasti korban teas atas perang singkat dengan Israel yang mematikan. Padahal berminggu-minggu mereka bungkam dan menutupi kerusakan akibat serangan brutal Israel.
Dan, angka yang dikeluarkan Iran sungguh mencengangkan. Lewat siaran televisi nasional Senin (7/7/2025) malam, Saeed Ohadi, kepala Lembaga Martir dan Urusan Veteran Iran, menyebutkan bahwa setidaknya 1.060 orang tewas dalam perang singkat berdurasi 12 hari dengan Israel.
Dan itu pun, katanya, belum angka akhir. Korban bisa membengkak hingga 1.100 jiwa, mengingat banyak korban luka yang masih dalam kondisi kritis.
Ini merupakan pertama kalinya Iran secara terbuka mengakui betapa parahnya dampak serangan militer Israel terhadap mereka. Selama konflik berlangsung, narasi resmi pemerintah cenderung meremehkan kerusakan, seolah negeri para Mullah itu tetap berdiri tegak di tengah badai roket dan drone.
Faktanya, dalam hitungan hari, sistem pertahanan udara Iran lumpuh, situs-situs militer penting hancur, dan fasilitas nuklir yang mereka banggakan ikut remuk.
Tapi baru sekarang, setelah gencatan senjata mulai berlaku, Iran sedikit demi sedikit membuka tabir kehancuran yang selama ini disembunyikan dari rakyatnya sendiri.
Lebih tajam lagi, laporan dari kelompok independen Human Rights Activists yang berbasis di Washington menyebut jumlah korban sebenarnya bahkan lebih tinggi: 1.190 jiwa melayang, termasuk 436 warga sipil dan 435 personel keamanan.
Selain itu, mengutip APNews, lebih dari 4.400 orang luka-luka, banyak di antaranya masih terbaring di rumah sakit dengan tubuh penuh luka, dan masa depan yang belum pasti.
Konflik ini mungkin hanya berlangsung dua pekan di kalender, tapi luka dan dampaknya bisa menetap bertahun-tahun. Dan bagi banyak keluarga di Iran, perang ini bukan soal strategi geopolitik atau harga diri negara, melainkan soal kehilangan orang-orang tercinta tanpa pernah sempat mengucap selamat tinggal.
Kini, ketika suara ledakan telah digantikan oleh isak tangis dan berita duka, satu hal menjadi jelas: tidak ada yang benar-benar menang dalam perang semacam ini.***
Editor : Edwar Yaman