JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Israel kembali berulah. Militer Zionis itu menyerang kendaraan sipil di kamp pengungsi Nuseirat, Gaza. Empat orang terluka karena serangan udara itu, Sabtu (26/10).
Bum, serangan udara Israel bergemuruh menghantam kendaraan kendaraan sipil warga Gaza. "Para korban adalah warga sipil di sekitar lokasi saat kendaraan yang menjadi sasaran diserang," ungkap salah satu petugas medis, seperti dikutip YeniSafak.
Konflik di Timur Tengah itu tampaknya belum menemukan titik akhir di tengah suara perdamaian yang terus didengungkan berbagai negara. Warga Gaza pun harus kembali menanggung harga mahal dari konflik ini.
Insiden di Nuseirat menandai pelanggaran terbaru terhadap gencatan senjata yang telah berlangsung sejak awal Oktober, dan menimbulkan pertanyaan serius tentang komitmen kedua pihak terhadap perdamaian yang rapuh.
Serangkaian serangan terbaru menunjukkan bahwa gencatan senjata di Gaza jauh dari kata stabil. Padahal, kesepakatan yang berlaku mencakup pertukaran tahanan dan rencana rekonstruksi Gaza, dua poin penting yang diharapkan mampu membuka jalan bagi upaya kemanusiaan dan diplomasi jangka panjang.
Mengutip Reuters, militer Israel mengkonfirmasi pihaknya melakukan serangan itu, dengan alasan menargetkan seorang anggota kelompok Islamic Jihad.
Tapi, laporan dari sumber lokal menyebut bahwa lokasi serangan berada di dalam zona "garis kuning", wilayah yang seharusnya bebas dari operasi militer berdasarkan kesepakatan gencatan senjata 10 Oktober lalu yang dimediasi oleh Amerika Serikat.
Sedangkan YeniSafak menjelaskan, serangan itu terjadi di area padat penduduk, tidak jauh dari Klub Al-Ahli di pusat Nuseirat. Menurut keterangan pihak Rumah Sakit Al-Awda, mereka menerima empat korban luka dengan kondisi sedang hingga parah akibat serangan tersebut.
Serangan Israel ini menambah daftar panjang pelanggaran terhadap kesepakatan yang diharapkan menjadi titik balik menuju stabilitas di Gaza. Sejak konflik besar meletus pada Oktober 2023, lebih dari 68.500 orang tewas dan 170.300 lainnya terluka, berdasarkan data Kementerian Kesehatan Gaza.
Angka tersebut menggambarkan skala krisis kemanusiaan yang terus memburuk meski dunia internasional berulang kali menyerukan penghentian kekerasan.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi