WASHINGTON DC (RIAUPOS.CO) – Bukan Donald Trump namanya kalau tidak “menepuk dada.” Saat kebijakan tarif resiprokalnya dianulir Mahkamah Agung, upayanya menguasai Greenland dan menyerang Iran dikecam banyak pihak, serta dukungan publik di dalam negeri merosot, dia tetap percaya diri menyebut bahwa tahun pertamanya menjabat sebagai presiden di periode kedua adalah sebuah kesuksesan.
Ada berbagai kesuksesan yang diklaim dan dipamerkan Presiden Amerika Serikat (AS) itu dalam pidato kenegaraan di hadapan sidang gabungan Kongres di Washington DC pada Selasa (24/2) malam waktu setempat, termasuk terkait Iran. “Malam ini, setelah hanya satu tahun, kita dapat mengatakan dengan bermartabat dan bangga bahwa kita telah mencapai transformasi yang belum pernah dilihat siapa pun sebelumnya dan sebuah perubahan besar yang akan dikenang sepanjang masa,” kata Trump.
Pidato yang berlangsung hampir dua jam itu merupakan pidato kenegaraan terpanjang seorang presiden AS. Trump mengklaim telah membangun kembali negara yang hancur oleh pemerintahan sebelumnya.
Mengutip The Guardian, pidato Trump disambut kritik tajam. Survei terbaru menunjukkan, hanya 39 persen pemilih menilai Trump positif. Lebih banyak yang menilai dia kurang populer dalam isu ekonomi dan imigrasi.
Reaksi anggota Partai Demokrat beragam. Ada yang meninggalkan ruang sidang, memegang spanduk, atau mengikuti acara tandingan.
Pemimpin Faksi Demokrat DPR Hakeem Jeffries menilai pidato itu sebagai penyebaran kebohongan, propaganda, dan kebencian. “Alih-alih menyajikan visi positif bagi masa depan dan perekonomian bangsa, presiden malah menyalahkan orang lain atas kegagalannya,” katanya.
Trump juga menyinggung isu keamanan nasional dan hubungan dengan Iran. “Saya lebih memilih menyelesaikan masalah ini melalui diplomasi. Tetapi satu hal yang pasti, saya tidak akan pernah membiarkan sponsor teror nomor satu di dunia memiliki senjata nuklir,” katanya.
Pengarahan Tertutup
Masih terkait Iran, Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Marco Rubio memberikan pengarahan tertutup kepada para anggota parlemen senior AS. Briefing itu digelar hanya beberapa jam sebelum Presiden Donald Trump menyampaikan pidato kenegaraan.
Dalam pernyataan singkat seusai briefing, Rubio menegaskan pemerintah AS tetap mengedepankan diplomasi, namun tidak menutup opsi lain. “Presiden sudah sangat jelas menyebut Iran tidak boleh dan tidak akan pernah memiliki senjata nuklir. Kami masih membuka jalur diplomatik, tetapi semua opsi tetap berada di meja,” ujar Rubio.
Di Jenewa, Swiss, pembicaraan Amerika dengan Iran dijadwalkan berlangsung di Jenewa pada hari ini (26/2). Wakil Menteri Luar Negeri Iran Majid Takht-Ravanchi, sebelumnya menyatakan negaranya siap mencapai kesepakatan secepat mungkin, sembari menegaskan bahwa negosiasi hanya akan membahas program nuklir.
Merosot 35 Persen
Lalu, bagaimana tingkat dukungan publik terhadap Trump? Dikutip dari The Strait Times, pamor Trump menunjukkan tren penurunan pada awal 2026.
Hanya sekitar 27 persen warga AS yang menyatakan mendukung seluruh atau sebagian besar kebijakan dan rencana Trump. Angka itu merosot dari 35 persen saat ia kembali menjabat pada 2025.
Penurunan tersebut sepenuhnya terjadi di kalangan Partai Republik. Partai ini merupakan basis politik utama Trump.
Laporan Cook Political Report yang memantau pemilih kulit putih non-perguruan tinggi mencatat, persetujuan bersih terhadap Trump turun tajam. Dari keunggulan 13 poin pada awal 2025, kini tersisa hanya 3,5 poin per 23 Februari. Dari sisi ekonomi, survei Associated Press-NORC yang digelar 5 sampai 8 Februari terhadap 1.156 orang dewasa menemukan hanya 39 persen responden menyetujui penanganan ekonomi oleh Trump.
Padahal, sejumlah indikator makroekonomi relatif stabil. Pertumbuhan produk domestik bruto mencapai 2,2 persen pada 2025. Tingkat pengangguran berada di kisaran 4,3 persen pada Januari, tergolong rendah secara historis. Inflasi juga melambat menjadi 2,4 persen pada Januari, turun dari 2,7 persen pada Desember.
Namun, banyak warga Amerika mengaku belum merasakan dampak langsung pada kondisi keuangan pribadi mereka. Harga bahan makanan, layanan kesehatan, dan perumahan masih tinggi. “Kesenjangan antara Trump dan rakyat Amerika terlihat jelas selama pidato tersebut,” ujar Direktur Debat di University of Michigan Aaron Kall.
Menurut Kall, pidato Trump lebih menyerupai selebrasi kemenangan. “Dengan rating yang rendah, seharusnya dia lebih berempati kepada mereka yang belum merasakan kebangkitan yang dia bicarakan,” katanya.(lyn/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian