Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Jet Tempur AS Jatuh, Kilang Saudi Terbakar

jpg • Selasa, 3 Maret 2026 - 10:20 WIB

This video grab taken from UGC images posted on social media on March 2, 2026, shows smoke billowing from a Saudi oil refinery at the Ras Tanura oil production plant, near Dammam in Saudi Arabia's eastern province, after an attack. Saudi Arabia's energy m
This video grab taken from UGC images posted on social media on March 2, 2026, shows smoke billowing from a Saudi oil refinery at the Ras Tanura oil production plant, near Dammam in Saudi Arabia's eastern province, after an attack. Saudi Arabia's energy m

YERUSSALEM (RIAUPOS.CO) - Di Abu Dhabi dan Dubai, Uni Emirat Arab; Doha, Qatar; Manama, Bahrain; maupun Kuwait City, Kuwait, ledakan terdengar berkali-kali kemarin. Iran menyerang berbagai aset dan fasilitas Amerika Serikat (AS) di negara-negara tersebut sebagai balasan atas serangan AS dan Israel.

Iran bahkan juga menghantam pangkalan angkatan udara Inggris di Siprus yang menjadi basis militer AS untuk menyerang Iran. Sedangkan Israel menggempur Lebanon setelah Hizbullah, kelompok yang didukung Iran, menembakkan rudal dan drone ke wilayah mereka sebagai retaliasi atas tewasnya Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Semua itu menjadi bukti bahwa aksi Israel dan AS menyerang Iran telah memicu krisis regional. Diperkirakan kondisi tersebut masih akan berlangsung lama karena Teheran tegas menyatakan tidak mau berunding setelah gempuran Israel dan AS menewaskan total 555 orang, termasuk Khamenei. Di Teheran, kemarin, ledakan beruntun terdengar di berbagai sudut.

Setelah kematian Khamenei, Iran menegaskan, bakal melakukan serangan balasan besar-besaran. “Iran sama sekali tak ada rencana untuk bernegosiasi dengan AS,” kata Sekretaris Dewan Pertahanan Iran Ali Larijani seperti dikutip dari Al Jazeera, membantah pemberitaan media AS bahwa dia berupaya mengajak AS kembali ke meja perundingan terkait nuklir.

Abas Aslani, periset senior di Middle East Strategic Studies menilai bahwa Iran sudah mengantisipasi serangan AS dan Israel. “Karenanya mereka bisa segera merespons,” katanya.

Di Kuwait, Kementerian Pertahanan setempat mengakui, sejumlah jet tempur AS jatuh. Namun, semua kru selamat. Tidak dijelaskan lebih lanjut apa penyebabnya. Tapi, diduga kuat terkait dengan serangan Iran.

Masih di Kuwait, asap terlihat dari Kedutaan Besar AS. Dalam pernyataan resminya, Kedutaan Besar AS juga meminta semua pihak agar tidak mendatangi lokasi mereka. “Segera berlindung,” kata Kedutaan Besar AS dalam pernyataan resmi mereka seperti dikutip Middle East Eye, kemarin.

Api juga terlihat di Kilang Minyak Ras Tanura, Arab Saudi. Pemicunya dua drone yang terjatuh setelah diintersep. Keduanya diduga kuat sebagai pesawat nirawak yang ditembakkan Iran.

Sedangkan di Israel, mengutip media setempat yang dikenal beraliran kiri Haaretz, sebanyak 200 bangunan rusak akibat serangan Iran. Adapun Yordania menutup wilayah udara mereka dari pukul 18.00 sampai 09.00 setiap hari mulai kemarin hingga waktu yang belum ditentukan.

“Penutupan ini dilakukan menyusul perkembangan situasi regional dan penghitungan risiko yang selaras dengan standar internasional,” kata Komisi Penerbangan Sipil Yordania dalam rilis resmi mereka.

Semua Opsi Terbuka

Tentang kemungkinan Israel, dengan bantuan AS tentu saja, menyiapkan gempuran darat, hal tersebut terbuka. Juru Bicara Militer Israel Effie Defrin mengatakan, pihaknya telah memobilisasi sekitar 100 ribu pasukan cadangan, belasan batalion, brigade, dan divisi. “Semua opsi masih terbuka,” katanya seperti dikutip dari Al Jazeera.

Sejak serangan hari pertama pada Sabtu (28/2) pekan lalu, Israel dan AS menggempur lewat udara. Begitu pula dengan serangan balasan Iran. Israel dan Iran memang tidak berbatasan darat. Namun, mengingat negara-negara tetangga Iran merupakan sekutu AS, jika benar Israel dan AS memobilisasi tentara lewat darat, hal itu memungkinkan dilakukan melalui negara-negara tersebut.

Sementara itu, gempuran Israel ke Lebanon menyebabkan 31 orang tewas. Sebelumnya, Hizbullah kelompok yang didukung Iran, melakukan serangan ke fasilitas pertahanan rudal Mishmar al-Karmel di dekat Haifa, Israel, sebagai bentuk pembalasan atas tewasnya Khamenei.

“Hizbullah melancarkan kampanye melawan Israel dalam semalam dan sepenuhnya bertanggung jawab atas setiap eskalasi. Musuh mana pun yang mengancam keamanan kami akan membayar harga mahal,” ujar Kepala Staf Militer Israel Letnan Jenderal Eyal Zamir.

Satu unit drone juga dilaporkan jatuh di pangkalan Angkatan Udara Inggris di Siprus. Serangan ini terjadi hanya beberapa jam setelah Inggris menyetujui permintaan AS untuk menggunakan pangkalan militer mereka guna menyerang fasilitas rudal Iran.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer dalam pernyataan resminya Ahad (1/3) menegaskan, Inggris tidak akan terlibat langsung dalam serangan, melainkan hanya mengizinkan penggunaan dua pangkalan untuk tujuan defensif terbatas.

“Kami menerima permintaan ini untuk mencegah Iran menembakkan rudal ke kawasan, membunuh warga sipil tak bersalah, membahayakan nyawa warga Inggris, dan menyerang negara-negara yang tidak terlibat,” kata Starmer.

Sementara itu, Garda Revolusi Iran menembakkan rudal ke kantor Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan kediaman Komandan Angkatan Udara Israel Tomer Bar, Senin (2/3). Serangan tersebut bagian dari pembalasan setelah Israel dan Amerika Serikat melancarkan gempuran yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Menggunakan Rudal Kheibar produksi dalam negeri, IRGC juga menyasar pusat keamanan dan militer di Haifa serta wilayah Yerusalem Timur. Klaim tersebut disampaikan melalui Kantor Berita Fars yang berafiliasi dengan pemerintah Iran.

Hingga berita ini selesai ditulis, belum diketahui nasib Netanyahu dan Bar. Juga kerusakan yang terjadi di kedua tempat yang jadi sasaran tembak.

Tiga Tentara AS Tewas, Kebijakan Perang Trump Disebut Menjijikkan

Donald Trump menepuk dadanya sendiri dengan menyebut operasi militer di Iran melampaui ekspektasi. Tapi, di negaranya sendiri kecaman dan hujatan disuarakan berbagai pihak, terutama setelah tiga tentara Amerika Serikat (AS) tewas akibat serangan balasan Iran.

Selain tiga yang meninggal, lima tentara AS lainnya terluka. Sedangkan sejumlah lainnya mengalami luka ringan. “Mereka dalam proses untuk kembali bertugas,” kata Pusat Komando Militer AS seperti dikutip Middle East Eye.

Menurut NBC News yang mengutip sejumlah pejabat AS, peristiwa itu terjadi di Kuwait. Negara tersebut memang termasuk yang diserang Iran karena ada fasilitas militer AS di sana.

Bahkan politikus Republik, partai asal Trump, pun ikut meradang. “Insiden ini benar-benar tak perlu terjadi dan tak bisa diterima,” Marjorie Taylor Greene, mantan anggota Kongres AS dari Partai Republik, seperti dia tulis di X.

Senator dari Demokrat Chris Van Hollen juga mengkritik eskalasi di Timur Tengah yang terjadi. “Saya tak bisa melupakan tentara Amerika pemberani yang terbunuh. Mereka harusnya ada bersama kita,” katanya.

Tak Diinginkan Rakyat AS

Jurnalis Ana Kasparian sebelumnya sudah mengingatkan, serangan Iran akan memicu krisis berkepanjangan. “Tentara kita di Israel sekarang untuk membela Israel. Apakah Israel yang menanggung biayanya? Apa mereka yang keluar duit miliaran dolar per tahun untuk militer kita? Tidak!” katanya dalam sebuah video.

Bahkan sosok dalam gerakan Make America Great Again yang dipimpin Trump Tucker Carlson juga ikut mengecam serangan ke Iran. “Serangan AS-Israel benar-benar menjijikkan dan jahat,” katanya kepada ABC News on Saturday.

Puluhan aksi protes disponsori oleh koalisi kelompok sayap kiri, misalnya Koalisi ANSWER, Dewan Nasional Iran-Amerika, 50501, Muslim Amerika untuk Palestina, Forum Rakyat, Gerakan Pemuda Palestina, CodePink, Aliansi Hitam untuk Perdamaian, dan Sosialis Demokrat Amerika, juga berlangsung di Gedung Putih Washington DC dan Times Square Garden New York.

Wali Kota New York menyebut serangan terhadap Iran menandai eskalasi bencana dalam perang yang ilegal. “Membom kota-kota. Membunuh warga sipil. Membuka medan perang baru. Rakyat Amerika tidak menginginkan ini,” ujarnya.

Berikutnya Mungkin Turki yang Diincar

Turki harus waspada. Bisa jadi mereka yang akan menjadi sasaran tembak berikutnya Israel dengan dukungan penuh Amerika Serikat demi ambisi bernama Greater Israel atau Israel Raya.

Mantan Perdana Menteri Israel Naftali Bennet secara terbuka menyebutnya sebagai “Iran Baru”. “Turki, dengan dukungan Qatar, menggantikan posisi Iran sebagai ancaman utama Israel,” kata Bennet, seperti dikutip Middle East Monitor.

Turki disebutnya membangun Poros Sunni yang dinilainya jauh lebih kuat ketimbang Poros Syiah yang dikomandoi Iran. Sebelumnya Duta Besar AS untuk Israel Mike Huckabee juga menyebut, bahwa seluruh Timur Tengah sebaiknya diduduki Israel. Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman dari banyak pihak.

Israel Raya adalah konsep yang berlandaskan ideologi, sejarah, dan kitab suci Yahudi tentang Negeri Yahudi yang wilayahnya membentang dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat. Kalangan ultrakanan Israel gencar menyuarakan konsep tersebut hingga sekarang.

Perdana Menteri Benjamin Netanyahu berasal dari Likud, salah satu partai sayap kanan. Dia tidak pernah secara terbuka mengemukakan gagasan Israel Raya. Namun, serangan ke Iran jelas tak lepas dari konsep hegemoni Yahudi ini.

Negeri yang dulu bernama Persia itu dianggap sebagai penghalang ambisi Israel tersebut. Namun, mereka tak berani melakukannya sendirian dan membutuhkan bantuan “kakak tertua”, AS.

Lebih Pragmatis, Lebih Makmur

Turki lebih pragmatis dan lebih makmur ketimbang Iran. Turki juga anggota NATO, pakta pertahanan yang dikomandani AS.

Pada Recep Tayyip Erdogan sang presiden, Turki memiliki pemimpin yang piawai mengubah ideologi menjadi modal.

“Tak seperti Iran, Turki mengombinasikan pragmatisme dengan ideologi sehingga membuatnya kredibel sekaligus tak bisa ditebak,” kata Meliha Altunisik, pakar politik internasional Turki, kepada Middle East Monitor.

Jadi, Israel harus berhitung dengan cermat jika ingin menjadikan Turki sebagai sasaran tembak baru setelah Iran.(lyn/ttg/das)

Laporan JPG, Yerusalem

Editor : Arif Oktafian
#Kawasan Timur Tengah #iran #amerika serikat #arab saudi