TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Pertempuran udara di wilayah Timur Tengah berlangsung sengit. Tapi di lautan juga tak kalah ramai. Seperti dilaporkan Kantor Berita Tasnim, Rabu (4/3), Garda Revolusi Iran berhasil menembak kapal destroyer AS yang tengah mengisi bahan bakar dari sebuah tanker di Samudera Hindia, 650 kilometer dari lepas pantai selatan Iran. Garda menggunakan Misil Qadr-360 dan Talaeiyeh.
Dikabarkan terjadi kebakaran hebat di dek kapal destroyer tersebut dan juga di tanker. Namun, AS belum memberikan konfirmasi sampai berita ini selesai ditulis kemarin pukul 16.00 WIB.
Namun di hari yang sama di lepas pantai Sri Lanka, fregat IRIS Dena milik Iran yang bukan dalam misi perang, diserang kapal selam AS yang mengakibatkan 87 kru tewas serta 60 lainnya masih hilang. Dikutip dari TRT World, kapal tersebut diserang kapal selam AS saat sedang kembali setelah mengikuti parade internasional di India.
Kemungkinan besar kapal itu tidak mendeteksi adanya kapal AS. “Kapal sedang dalam perjalanan kembali ke Iran dari sebuah pelabuhan di India bagian timur,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Sri Lanka Arun Hemachandra, seperti dikutip dari CBC.
IRIS Dena bukan sedang dalam misi perang. Mereka mengikuti Parade Armada Internasional yang diselenggarakan Angkatan Laut India di Markas Komando Timur di Visakhapatnam yang dimulai pada 18 Februari lalu. Atas kejadian ini, pemerintah India turut dikritik keras karena dianggap gagal menangkal serangan tersebut.
Pentagon pun mengkonfirmasi kejadian ini. “Sebuah kapal selam Amerika menenggelamkan kapal perang Iran yang mengira dirinya aman di perairan internasional,” kata Menteri Perang Amerika Pete Hegseth.
Sebuah video Pentagon yang dibagikan di media sosial diklaim telah merekam serangan tersebut. Dari video itu diketahui bagian belakang kapal terkena torpedo.
Insiden di Selat Hormuz
Masih di Rabu, Angkatan Laut Oman menyelamatkan 24 awak kapal kargo. Dilansir dari Middle East Morning, kapal berbendera Malta tersebut diserang dua rudal di dekat Selat Hormuz. Belum ada yang mengakui siapa yang menembakkan rudal tersebut.
Independent.com menyatakan, bahwa kapal bernama Safeen Prestige ini sedang menuju Arab Saudi. Serangan terhadap Safeen Prestige menandai serangan keempat yang dilaporkan terhadap kapal di area tersebut dalam 24 jam terakhir.
Sebelumnya, Garda Revolusi secara terbuka mengancam kapal mana saja yang nekat melintas di Hormuz bakal diserang. Pengecualian, konon, hanya diperuntukkan kapal dari Cina dan Rusia, dua negara yang memiliki hubungan dekat dengan Iran.
Sementara itu, mengutip Seatrade Maritime News, sebuah kapal tanker yang berlabuh di Pelabuhan Mubarak Al Kabeer, 30 mil laut di sebelah tenggara Kuwait, mengalami ledakan besar. “Kapten sebuah kapal tanker yang sedang berlabuh melaporkan telah menyaksikan dan mendengar ledakan besar di sisi kiri kapal, kemudian melihat sebuah kapal kecil meninggalkan area tersebut,” kata United Kingdom Maritime Trade Operations dalam laporannya.
Dilaporkan ada tumpahan minyak di dalam air dari tangki kargo. Tumpahan minyak itu berpotensi menimbulkan dampak lingkungan. Namun, tidak ada laporan kebakaran dan awak kapal juga dilaporkan selamat.
Tuding Israel Dalang Penyerangan Kilang Saudi
Sebelum diserang Amerika Serikat (AS) dan Israel, Iran sudah melansir keterlibatan Mossad dalam demonstrasi yang berujung kerusuhan di berbagai wilayah mereka. Kini, tudingan serupa terdengar dari Arab Saudi ke badan intelijen Israel itu.
Tudingan itu sejalan dengan yang disampaikan komentator politik AS Tucker Carlson. Senada, pemimpin redaksi Independent Arabia yang berbasis di Riyadh, Arab Saudi, Adhwan al-Ahmari mengatakan bahwa tidak semua serangan terhadap negara-negara Teluk berasal dari Iran.
Tujuan Israel dan AS hanya untuk memancing negara-negara Teluk saling berperang satu sama lain dan mereka menikmati dari jarak jauh.
“Hipotesis ini, menurut saya, semakin menguat setiap hari,” katanya kepada Middle East Eye, kemarin (4/3).
Iran telah secara terbuka menyatakan, tidak melakukan serangan ke Kilang Ras Tanura milik Aramco, perusahaan minyak Arab Saudi di sisi timur negara tersebut. Presiden Iran Masoud Pezeshian bahkan dikabarkan sudah menelpon langsung Putra Mahkota Saudi Pangeran Mohammad bin Salman.
Pada Rabu (4/3), Pezeshkian juga merilis pernyataan resmi yang ditujukan kepada semua kepala negara dan kepala pemerintahan di kawasan Teluk. “Serangan Amerika dan agresor Zionis membuat kami tak punya pilihan. Kami menghormati kedaulatan Anda semua dan kami meyakini stabilitas kawasan hanya bisa dicapai lewat usaha kolektif semua negara,” kata Pezeshkian.
Seyed Emamian, asisten profesor di Universitas Politeknik Teheran, menyebut, mengingat betapa berlikunya proses yang ditempuh Iran sehingga hubungannya dengan para tetangga di Teluk membaik, sangat terbuka kemungkinan Tel Aviv memang bertindak seperti yang ditudingkan Teheran. “Israel berniat merusak hubungan Iran dengan para negara Teluk,” katanya kepada Middle East Monitor.
Israel belum memberikan respons atas tuduhan itu. Yang jelas, Arab Saudi telah diserang setidaknya lima kali oleh drone dan rudal, dengan Pangkalan Udara Pangeran Sultan, kilang minyak Ras Tanura, dan kedutaan besar Amerika di Riyadh termasuk di antara fasilitas yang menjadi sasaran. Pelabuhan Duqm di Oman juga telah menjadi target dua kali. Kilang gas milik QatarEnergy juga diserang.
Dua sumber Iran lainnya mengatakan, bahwa aktivitas Mossad di Iran juga sudah terdeteksi. Pihak berwenang sedang dalam proses menemukan gudang-gudang yang digunakan Mossad menyimpan drone.
“Kami tidak akan terkejut jika ada gudang dan ruang operasional semacam itu di negara-negara lain di kawasan ini yang digunakan Israel untuk menargetkan negara-negara tetangga kami di Teluk,” kata salah satu sumber tersebut kepada Middle East Eye.
Carlson dalam siniarnya Senin (2/3) lalu mengatakan, Israel memang sengaja menabuh kekacauan di antara sekutu AS di Teluk Persia. “Israel ingin menyakiti Iran, Qatar, UEA, Arab Saudi, Bahrain, Oman, dan Kuwait,” kata komentator politik beraliran konservatif yang dekat dengan Presiden AS Donald Trump itu.(lyn/ttg/jpg)
Editor : Arif Oktafian