Serangan Amerika Serikat dan Israel pada Iran memporakporandakan jadwal penerbangan. Termasuk penerbangan keberangkatan maupun pemulangan jemaah umrah Indonesia.
JAKARTA (RIAUPOS.CO) - RAMADAN dan Syawal biasanya jadi momen favorit keberangkatan jemaah umrah. Namun, tahun ini semuanya berubah. Perang membuat sejumlah negara di kawasan Teluk menutup transportasi udara.
Di dalam negeri, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) terus memperbarui data dampak perang terhadap perjalanan ibadah umrah. Perkembangan terbaru, jemaah yang menunggu perubahan jadwal penerbangan pulang ke tanah air tinggal 158 orang.
Keterangan tersebut disampaikan Juru Bicara Kemenhaj Ichsan Marsha di Jakarta (7/3). Ichsan menyampaikan proses pemulangan tersebut terus dikawal oleh Kemenhaj bersama KJRI di Jeddah dan Satgas Bandara King Abdul Azis Jeddah.
’’Data per 5 Maret, sebanyak 2.735 jemaah umrah Indonesia sudah kembali ke tanah air,’’ katanya. Sementara itu, data kumulatif sejak pecah perang di Iran atau 28 Februari, tercatat ada 14.796 jemaah umrah Indonesia yang sudah pulang. Ichsan mengungkapkan, saat ini masih terdapat 158 jemaah yang menunggu penjadwalan ulang penerbangan kembali ke Indonesia.
Dia menyebut, Kemenhaj terus melakukan proses pendampingan pemulangan jemaah umrah tersebut. Tujuannya untuk memastikan tidak ada jemaah yang telantar di bandara. Jemaah harus ditempatkan di hotel atau tempat transit selama menunggu jadwal pemulangan ke tanah air.
Kemenhaj juga terus berkoordinasi dengan penyelenggara perjalanan ibadah umrah (PPIU). Supaya PPIU atau travel umrah tetap menjalankan tanggung jawab di kondisi darurat seperti sekarang ini.
Selain itu, kata Ichsan, Kemenhaj juga berkoordinasi dengan Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Tujuannya untuk menjalin komunikasi dengan maskapai-maskapai yang melayani penerbangan transit jemaah umrah. Dengan koordinasi tersebut, pemerintah Indonesia meminta penjadwalan ulang dilakukan secara cepat. Sehingga penundaan keberangkatan pulang tidak terlalu lama.
’’Kami mengimbau jemaah tetap tenang dan mengikuti informasi resmi dari pemerintah,’’ ujarnya. Jemaah juga diimbau untuk tetap berkumpul dalam satu rombongan. Jemaah tidak dianjurkan terpisah, apalagi melakukan perjalanan pribadi tanpa koordinasi dengan rombongan atau pihak travel. Selama menunggu proses pemulangan, jemaah juga diimbau untuk tetap menjaga kebugaran. Misalnya rutin minum air putih dan konsumsi sesuai dengan jadwal yang ditetapkan.
Selain mengawal proses kepulangan jemaah, perwakilan Indonesia di Saudi juga mengawal proses kedatangan jemaah. Pada periode yang sama, yaitu di tanggal 5 Maret, terdapat 352 jemaah umrah Indonesia tiba di Jeddah.
iBaca Juga: Ledakan dan Kobaran Api Raksasa Membubung di Langit Teheran setelah Kilang Minyak Iran Dibom Israel
Pemerintah Indonesia memang tidak mengeluarkan travel warning untuk perjalanan umrah. Pemerintah Indonesia hanya mengeluarkan imbauan kepada jemaah umrah untuk menunda keberangkatannya. Khususnya jemaah umrah yang menggunakan penerbangan transit. Seperti di Abu Dhabi, Doha, dan Dubai. Pasalnya layanan penerbangan di tiga kota transit tersebut, sempat ditutup karena terdampak perang Iran.
Staf Teknis Haji di Kantor Urusan Haji KJRI Jeddah M Ilham Effendy mengatakan, petugas terus melakukan pemantauan langsung di bandara. Tujuannya untuk memastikan proses pemulangan berjalan dengan lancar. ’’Kami memastikan jemaah mendapatkan informasi yang jelas, serta pendampingan yang maksimal selama proses kepulangan,’’ tuturnya.
Sementara itu Wakil Ketua Aliansi Pengusaha Haramain Seluruh Indonesia (Asphirasi) Syarif Hidayatullah mengatakan, yang mengalami dampak sejatinya jemaah umrah dengan penerbangan transit. ’’Sekitar 70 persen penerbangan umrah menggunakan penerbangan transit,’’ katanya. Untuk lokasi transitnya ada di Dubai, Abu Dhabi, dan Qatar.
Dia mencontohkan penerbangan umrah menggunakan maskapai Etihad Airways dari Indonesia bisa menjapai tiga penerbangan setiap hari. Rute yang digunakan adalah transit terlebih dahulu di Abu Dhabi. Sedangkan untuk Qatar Airways yang setiap hari ada dua sampai tiga penerbangan, transit di Doha.
Sedangkan untuk penerbangan direct dari tanah air ke Arab Saudi, sampai saat ini tidak terdampak. Apalagi rute yang digunakan adalah di selatan negara Iran. Sehingga penerbangan jemaah umrah yang menggunakan rute direct flight berjalan lancar sampai dengan saat ini.
Dia berharap eskalasi perang di Iran bisa segera mereda. Sehingga penerbangan transit untuk umrah bisa kembali berjalan normal. Syarif mendapatkan informasi bahwa penerbangan transit jemaah umrah untuk maskapai Etihad dan Emirates sudah mulai dilakukan dengan skema darurat dan sangat terbatas. ’’Penerbangannya dikawal dengan jet tempur sampai di ketinggian yang aman,’’ tuturnya. Lewat penerbangan darurat ini, diharapkan bisa mengurangi penumpukan jemaah umrah yang ada di negara transit.
Selain itu, Syarif juga merespon adanya imbauan dari Kemenhaj terkait penundaan keberangkatan umrah. Dia berharap imbauan itu dibarengi dengan solusi. Sehingga tidak ada kepanikan atau keraguan di kalangan jemaah yang akan berangkat. Sebab, ketika sampai terjadi penundaan, pihak travel akan mengalami kerugian.
Dia menjelaskan, travel wajib menyelesaikan pemesanan akomodasi jemaah umrah 30 hari sebelum keberangkatan. Ketika ada pembatalan dari jemaah, pihak hotel tidak bisa mengeluarkan refund. Sebab, Pemerintah Saudi menyatakan kondisi di dalam negerinya aman. Sementara itu, Pemerintah Indonesia juga tidak mengeluarkan travel warning secara resmi. Dia berharap jemaah tidak ada yang membatalkan penerbangan umrah gara-gara kondisi di Timur Tengah saat ini.
UEA Cegat 1.072 Drone, Qatar Masih Tutup Penerbangan
Eskalasi konflik Iran dengan Amerika Serikat dan Israel kini merembet ke kawasan Teluk. Uni Emirat Arab (UEA) dan Qatar meningkatkan kewaspadaan setelah serangan drone dan rudal mengarah ke wilayah mereka.
Pada Jumat (7/3) dini hari, UEA kembali dilaporkan mengalami serangan udara besar-besaran. Ledakan dari sistem pencegat pertahanan udara terdengar berulang-ulang di langit Abu Dhabi dan Dubai.
Koresponden Euronews, Jane Witherspoon, yang melaporkan langsung dari Dubai mengatakan bahwa suara ledakan terdengar hampir tanpa henti sepanjang malam. “Seorang narahubung di Bandara Internasional Abu Dhabi mengatakan mendengar ledakan pencegatan kira-kira setiap 20 detik,” ujar Witherspoon. Sirene peringatan dan alarm publik juga berbunyi berkali-kali, membuat warga di sejumlah kota besar terbangun dan tetap waspada hingga pagi.
Otoritas pertahanan udara UEA menyebutkan, sejak konflik Iran meletus pada 28 Februari lalu, mereka telah mencegat sedikitnya 1.072 drone, 196 rudal balistik, serta delapan rudal jelajah yang mengarah ke wilayah negara tersebut. Meski sebagian besar serangan berhasil digagalkan, intensitas serangan tetap menimbulkan kecemasan di masyarakat.
Menurut laporan di lapangan, banyak warga sebelumnya mengira konflik tersebut hanya berlangsung singkat. Namun, setelah beberapa hari serangan terus terjadi, kekhawatiran mulai meningkat.(lyn/wan/oni/jpg)
Editor : Bayu Saputra