JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Kabar mengejutkan datang dari Iran. Negara ini rencananya mengizinkan kapal tanker melintas di Selat Hormus. Namun tentu ada cara yang dinginkan Iran.
Kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz wajib membayar sejumlah uang. Pembayaran hanya bisa dilakukan dengan menggunakan yuan Tiongkok (CNY).
Tentu saja hal ini memunculkan perdebatan global tentang sistem petrodollar. Jika kebijakan tersebut benar-benar diterapkan, para analis menilai langkah itu berpotensi menjadi tantangan langsung terhadap dominasi dolar AS dalam pasar minyak global.
Para analis menilai perubahan dari petrodollar menuju sistem multi-mata uang tidak akan terjadi secara cepat. Namun langkah Iran dapat menjadi preseden geopolitik penting.
Ada beberapa dampak potensial jika perdagangan energi mulai menggunakan mata uang selain dolar salah satunya mengurangi dominasi dolar di pasar energi dan jika lebih banyak transaksi minyak dilakukan menggunakan yuan atau mata uang lain, permintaan global terhadap dolar bisa berkurang.
Sistem petrodollar selama ini menjadi bagian penting dari hubungan strategis AS dengan negara-negara produsen minyak. Perubahan sistem pembayaran bisa memicu dinamika geopolitik baru.
Petrodollar
Mengutip berbagai sumber, petrodollar adalah istilah untuk dolar Amerika Serikat yang diterima negara pengekspor minyak sebagai hasil penjualan minyak mentah di pasar internasional.
Istilah ini tidak merujuk pada mata uang baru, melainkan sistem perdagangan global di mana minyak dunia dihargai dan diperdagangkan menggunakan dolar AS. Karena hampir semua negara membutuhkan minyak, sistem ini secara otomatis menciptakan permintaan konstan terhadap dolar.
Sistem tersebut mulai menguat pada 1970-an, terutama setelah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Arab Saudi pada 1974. Perjanjian itu membantu menstabilkan harga minyak pasca krisis energi sekaligus memperkuat posisi dolar sebagai mata uang cadangan utama dunia.
Dalam praktiknya, negara penghasil minyak menerima pembayaran dalam dolar, lalu sebagian besar dana tersebut kembali ke sistem keuangan global melalui investasi atau pembelian obligasi, terutama obligasi pemerintah AS. Proses ini dikenal sebagai daur ulang petrodollar.
Semua kemungkinan berpusat pada Selat Hormuz, jalur laut sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan pasar energi global. Sekitar 20 persen pasokan minyak dunia biasanya melewati jalur ini setiap hari. Namun sejak konflik regional memanas pada akhir Februari, kawasan tersebut menjadi titik ketegangan global.
Jika Iran benar-benar mengaitkan akses pelayaran dengan penggunaan yuan, Selat Hormuz tidak hanya menjadi titik krisis energi, tetapi juga bisa berubah menjadi arena persaingan mata uang global antara dolar dan yuan.
Selama puluhan tahun, sistem petrodollar memberi keuntungan besar bagi Amerika Serikat. Karena minyak diperdagangkan dalam dolar, negara-negara di seluruh dunia harus menyimpan cadangan dolar untuk membeli energi. Hal ini memperkuat posisi dolar sebagai mata uang global sekaligus membantu menjaga permintaan terhadap aset keuangan AS.
Sistem ini juga mempererat hubungan geopolitik antara Washington dan negara-negara produsen minyak, terutama di Timur Tengah. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah negara mulai mencoba mengurangi dominasi dolar dalam perdagangan energi.
Di tengah konflik yang membuat Selat Hormuz menjadi kawasan berisiko tinggi, Iran dilaporkan sedang mempertimbangkan kebijakan baru untuk mengatur lalu lintas kapal tanker di jalur energi strategis tersebut.
Salah satu opsi yang disebutkan adalah mengizinkan kapal melintas jika muatan minyak diperdagangkan menggunakan yuan Tiongkok, bukan dolar AS.
Tiongkok sendiri telah lama berupaya memperluas penggunaan yuan dalam perdagangan energi global. Beijing bahkan pernah mendorong pembelian minyak menggunakan yuan dari sejumlah negara produsen besar, termasuk Arab Saudi.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi