Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Konflik Iran vs Israel-AS Makin Memanas, 5 Negara Ini Mengalami Krisis Energi, Kuba Gelap Gulita, Warga Nepal Antre Gas

Redaksi • Jumat, 27 Maret 2026 | 15:15 WIB

Kondisi Kota Havana Kuba yang gelap gulita akibat pemadaman listrik total dampak embargo minyak dari Amerika Serikat. Embargo ini perburuk krisis energi dan ekonomi negara tersebut.
Kondisi Kota Havana Kuba yang gelap gulita akibat pemadaman listrik total dampak embargo minyak dari Amerika Serikat. Embargo ini perburuk krisis energi dan ekonomi negara tersebut.

RIAUPOS.CO - Konflik antara Iran dengan Israel-AS berdampak pada sejumlah negara. Seiring memanasnya konflik di Timur Tengah, krisis energi global makin parah.

Stabilitas pasokan dan harga energi dunia terpengaruh konflik di Timur Tengah hingga membuat sejumlah negara mengalami tekanan serius, terutama yang bergantung impor energi dari kawasan tersebut.

Dampak merembet ke ekonomi dan layanan publik. Beberapa negara seperti Kuba, Sri Lanka, Nepal, Pakistan, dan Mesir menghadapi krisis energi dengan tingkat berbeda.

Kuba padam total akibat dari pemadaman listrik, ada juga warganya yang harus antre gas untuk memasak, hingga tekanan pada neraca pembayaran dan cadangan devisa.

Kondisi ini menunjukkan rapuhnya ketahanan energi di saat harga minyak dunia melonjak dan terjadinya gangguan distribusi. Negara maju berupaya mengamankan pasokan domestik, tapi beban justru bergeser ke negara berkapasitas fiskal terbatas.

Lonjakan biaya impor energi dan risiko gangguan jalur distribusi seperti Selat Hormuz memperparah situasi. Beberapa negara terancam gagal bayar dan ruang gerak pemerintah makin sempit dalam jaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan.

Lima negara mengalami krisis energi dampak memanasnya konflik Timur Tengah:

1. Kuba

Kuba tengah dilanda pemadaman listrik total akibat embargo minyak dari Amerika Serikat. Embargo ini perburuk krisis energi dan ekonomi negara pulau tersebut.

Pada akhir Januari, Trump ancam akan beri tarif pada negara yang suplai minyak ke Kuba. Langkah ini guna dorong perubahan model politik di pulau itu dan memperdalam blokade ekonomi.

Situasi ini pengaruhi sektor energi, pariwisata, maskapai penerbangan, dan layanan sipil dasar seperti sanitasi. PBB laporkan kekurangan listrik dan bahan bakar membuat ribuan operasi dibatalkan, serta warga membakar kayu untuk memasak.

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengusulkan rencana aksi untuk Kuba yang dilanda krisis energi. Rencana itu termasuk pelacakan penggunaan bahan bakar minyak dan pembicaraan dengan AS untuk izinkan sumber daya energi bagi bantuan kemanusiaan.

Nilai rencana ini USD 94,1 juta guna jaga layanan penting bagi warga rentan. Francisco Pichon, koordinator PBB di Kuba, yang ungkapkan hal ini.

Kondisi tersebut juga mempengaruhi sektor energi Kuba, pariwisata, maskapai penerbangan, dan bahkan fungsi-fungsi sipil dasar seperti sanitasi.

Sementara itu, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengungkapkan bahwa Washington dan Havana berada dalam tahap awal pembicaraan. Bahkan, ia mengklaim mantan pemimpin Kuba Raul Castro ikut terlibat.

Diaz-Canel membahas keterlibatan Castro dalam sebuah wawancara dengan pemimpin sayap kiri Spanyol Pablo Iglesias, yang diterbitkan di media pemerintah.

"Pertama, kita harus membangun saluran untuk dialog. Kemudian, kita harus membangun agenda kepentingan bersama bagi para pihak, dan para pihak harus menunjukkan niat mereka untuk maju dan benar-benar berkomitmen pada program berdasarkan diskusi agenda tersebut," kata Díaz-Canel kepada Iglesias.

Pemerintahan Trump sendiri menuntut agar Kuba membebaskan tahanan politik dan bergerak menuju liberalisasi politik dan ekonomi sebagai imbalan atas diakhirinya blokade.

Trump tidak merahasiakan keinginannya untuk perubahan rezim di Kuba, dan juga telah mengangkat kemungkinan pengambilalihan yang ramah atas pulau itu.

Raul Castro sendiri yang merupakan saudara laki-laki Fidel Castro masih dianggap sebagai salah satu individu paling berpengaruh di negara itu.

2. Nepal

Krisis energi di Nepal tampak dari antrean panjang masyarakat yang ingin gas memasak. Ini tanda pasokan energi domestik sangat terbatas dan memperparah kebutuhan dasar.

3. Sri Lanka

The Economist laporkan sejumlah perusahaan di Sri Lanka hentikan operasional. Sekolah dan universitas geser kegiatan belajar ke sistem daring karena krisis energi ini.

Negara maju yang sebut "benua biru" berupaya jaga energi warganya. Tekanan justru bergeser ke negara pengimpor dengan cadangan devisa terbatas dan ruang fiskal sempit.

Sri Lanka mengalami kemerosotan ekonomi tajam sampai menguras cadangan devisa dan gagal bayar utang. Krisis ini membuat pemerintah sulit stabilkan ekonomi dan energi.

4. Mesir

Mesir termasuk negara yang rentan terhadap tekanan kenaikan harga energi dan risiko penurunan remitansi. Ketergantungan impor energi dan aliran dana luar negeri buat tekanan ganda.

Mesir juga dibebani utang luar negeri sekitar 29 miliar dollar AS tahun ini. Beban itu persempit ruang fiskal di tengah krisis energi global yang melanda banyak negara.

5. Pakistan

Pakistan juga mengalami situasi yang tak jauh berbeda dengan negara lain. Beban berat krisis makin terasa karena kapasitas fiskal terbatas dan tekanan pada neraca pembayaran yang parah.

Lonjakan harga energi dan risiko turun remitansi lebar defisit transaksi berjalan. Mata uang Pakistan jatuh, dan cadangan devisa di bawah batas minimum IMF.

Negara ini minta bantuan Dana Moneter Internasional dan potong impor untuk atasi defisit. Risiko gangguan distribusi dan potensi tutup Selat Hormuz tambah berat masalah energi Pakistan.

Baca Juga: Bupati Imbau Masyarakat dan UMKM Jaga Kebersihan Kompleks Bina Praja

Pabrik dan layanan penting di Pakistan terancam terganggu dengan kondisi ini. Ketergantungan besar negara ini pada energi dari Timur Tengah membuat situasi makin rentan.

Editor : M. Erizal
#konflik Iran Amerika Serikat #Iran vs AS #kuba #Konflik Iran AS Israel 2026 #krisis energi global