RIAUPOS.CO - Situasi Timur Tengah masih membara, Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengancam Iran bahwa militer AS dapat menghancurkan Iran sepenuhnya hanya dalam satu malam. Peringatan itu disebut Trump mungkin terjadi paling cepat pada 7 April.
"Seluruh negara (Iran) dapat dihancurkan dalam satu malam, dan malam itu mungkin besok malam," kata Trump dalam konferensi pers di Gedung Putih, Senin (6/4/2026).
Ancaman tersebut bukan sekali dilakukan Trump. Sebelumnya pada 30 Maret, Trump mengatakan Washington akan "meledakkan dan melenyapkan sepenuhnya" semua pembangkit listrik, sumur minyak, Pulau Kharg, dan pabrik desalinasi Iran jika kesepakatan damai tidak tercapai dan Selat Hormuz tidak dibuka kembali.
Baca Juga: ToF KUHP Nasional Dibuka, Kemenkum Riau Siapkan Fasilitator Hadapi Transformasi Hukum Pidana
Selanjutnya pada Minggu (5/4/2026), Trump mengancam akan menjalankan operasi tersebut pada 7 April, kecuali Iran membuka kembali jalur perairan strategis tersebut.
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei mengatakan bahwa Teheran telah menyiapkan tanggapan terhadap usulan para mediator tentang gencatan senjata dengan AS.
Sebelumnya, Trump mengatakan bahwa Washington dan Teheran telah mengadakan pembicaraan yang produktif.
Baca Juga: Gelisah dan Sulit Tidur di Malam Hari? Coba 10 Minuman Ini yang Dapat Membantu Mengatasi Insomnia
Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah adanya dialog langsung dengan menyatakan bahwa Teheran menerima pesan melalui perantara tentang keinginan Washington untuk memulai dialog guna mengakhiri konflik.
Konflik Amerika Serikat dan Iran tersebut dimulai pada 28 Februari 2026, ketika AS dan Israel melancarkan serangan ke Iran yang menyebabkan jatuhnya korban sipil dan Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Serangan itu dibalas Iran dengan menyasar wilayah Israel serta sejumlah fasilitas militer AS di Timur Tengah.
Baca Juga: TKA SMP di Inhil Dimulai, 3.589 Siswa dari 88 Sekolah Ikut Ujian
Iran juga merebut kendali atas Selat Hormuz, jalur perairan paling strategis dunia yang dilintasi sekitar 20 persen perdagangan minyak dan gas alam secara global.
Editor : M. Erizal