JAKARTA (RIAUPOS.CO) – Perundingan di Islamabad antara Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal alias tanpa hasil. Pemerintah Iran secara terbuka menuding Washington sebagai pihak yang menggagalkan upaya damai karena melakukan tuntutan yang dianggap tidak rasional.
Melalui penyiar resmi IRIB, Iran menegaskan bahwa pembicaraan yang bertujuan mengakhiri konflik Timur Tengah itu runtuh akibat sikap keras Amerika Serikat, meski delegasi Iran telah berupaya maksimal selama proses negosiasi.
”Delegasi Iran bernegosiasi terus menerus dan intensif selama 21 jam... meskipun ada berbagai inisiatif dari delegasi Iran, tuntutan yang tidak masuk akal dari pihak Amerika mencegah kemajuan negosiasi. Dengan demikian negosiasi berakhir,” kata IRIB di Telegram.
Baca Juga: Michael Carrick Merencanakan Musim Depan di Tengah Ketidakpastian Manchester United
Pernyataan tersebut mempertegas posisi Iran yang merasa telah menunjukkan itikad baik, namun tidak mendapat respons sepadan dari pihak lawan.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baqaei menyebut, pembicaraan berlangsung intens, tetapi kemajuan sangat bergantung pada keseriusan kedua belah pihak.
Dia juga secara tegas meminta Washington untuk mengubah pendekatannya dalam negosiasi. Dia menekankan bahwa kelanjutan dialog bergantung pada keseriusan dan itikad baik pihak lawan, serta mendesak AS agar menghindari tuntutan berlebihan dan permintaan yang tidak sah serta menghormati hak dan kepentingan sah Iran.
Pernyataan ini mencerminkan meningkatnya ketegangan diplomatik pasca gagalnya perundingan yang dimediasi Pakistan tersebut.
Baca Juga: Razia Tempat Hiburan Malam di Bengkalis, Satu Orang Pengunjung Wanita Positif Narkobaabu kasim
Isu Krusial: Nuklir, Hormuz, dan Akhir Perang
Sementara itu, melansir Gulf News, menurut Baqaei, sejumlah isu strategis menjadi fokus utama pembahasan, termasuk program nuklir Iran, kendali atas Selat Hormuz, hingga tuntutan penghentian total konflik di kawasan.
Selat Hormuz sendiri menjadi titik krusial karena merupakan jalur distribusi sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Ketegangan di wilayah ini berdampak langsung pada stabilitas energi global. Dia menambahkan bahwa jurang perbedaan antara kedua negara masih sangat lebar, sehingga diperlukan komitmen serius dari kedua pihak untuk menjembataninya.
Pertemuan di Islamabad sendiri merupakan dialog langsung tingkat tinggi pertama antara kedua negara dalam lebih dari satu dekade sejak Revolusi Islam Iran 1979.
Baca Juga: Haji tanpa Antre dengan “War Tiket”, Penerapannya Tunggu Saudi Tambah Kuota untuk Indonesia
Dengan kedua pihak saling menyalahkan, prospek kesepakatan dalam waktu dekat terlihat semakin sulit. Tingkat ketidakpercayaan yang tinggi membuat ruang kompromi menyempit, meski tekanan internasional untuk mengakhiri konflik terus meningkat.***
Editor : Edwar Yaman