(RIAUPOS.CO) - Kawasan Timur Tengah kembali memanas. Ketegangan geopolitik terjadi setelah sebuah kapal tanker yang terkait dengan Cina nekat melintasi Selat Hormuz, padahal wilayah itu tengah diblokade oleh militer Amerika Serikat (AS).
Kapal tanker bernama Rich Starry itu dilaporkan tetap melaju menuju Teluk Oman pada Selasa (14/4/2026). Kapal itu sudah masuk dalam daftar sanksi AS sejak 2023 karena diduga membantu Iran menghindari pembatasan ekspor energi.
Langkah ini bukan yang pertama. Sebelumnya, Rich Starry sempat mencoba menerobos jalur tersebut, namun terpaksa berbalik arah saat blokade mulai diberlakukan sebagaimana dilansir dari Bloomberg.
Tak perlu waktu lama, kapal itu kembali mencoba peruntungannya dan akhirnya berhasil melintas. Situasi di Selat Hormuz sendiri sedang dalam pengawasan ketat. Komando Pusat AS (Centcom) telah mengerahkan lebih dari 10.000 personel gabungan, lengkap dengan kapal perang dan pesawat tempur untuk mengawasi lalu lintas di jalur vital tersebut.
Blokade ini diberlakukan setelah perundingan antara AS dan Iran mengalami kebuntuan. Presiden AS Donald Trump bahkan secara langsung memerintahkan pengetatan kontrol di kawasan yang dikenal sebagai salah satu jalur distribusi energi paling penting di dunia itu.
Tak hanya Rich Starry, kapal tanker lain bernama Elpis juga dilaporkan berhasil melintasi jalur yang sama. Kapal ini sebelumnya juga telah dikenai sanksi karena dugaan keterlibatan dalam distribusi minyak Iran.
Baca Juga: Ratusan Anggota Satpol PP dan Damkar Rohul Goro Selasa Bersih, Dukung Gerakan Indonesia ASRI
Rich Starry sendiri diketahui membawa sekitar 250.000 barel metanol. Keputusan untuk tetap melintas di tengah situasi genting dinilai sebagai sinyal berani, bahkan oleh sebagian pihak dianggap sebagai bentuk uji nyali terhadap kekuatan militer AS.
Aksi ini pun menimbulkan kekhawatiran baru terkait stabilitas kawasan dan potensi eskalasi konflik yang lebih luas. Selat Hormuz selama ini menjadi jalur krusial bagi perdagangan minyak global, sehingga setiap gangguan dapat berdampak langsung pada ekonomi dunia.
Peristiwa ini menjadi sorotan internasional, sekaligus menunjukkan betapa rumitnya dinamika politik dan ekonomi global saat ini.***
Editor : Edwar Yaman