Peristiwa yang terjadi di dekat Kota Debl itu dengan cepat viral di media sosial (medsos). Meski hanya satu dari sekian banyak tuduhan pelanggaran yang dialamatkan kepada Israel dalam beberapa tahun terakhir, aksi tersebut memicu kecaman luas dan respons langsung dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.
Kritik Menguat dari Kalangan Konservatif AS
Di Amerika Serikat, insiden ini menjadi sorotan karena menyentuh isu sensitif: simbol agama Kristen. Dukungan tradisional terhadap Israel, khususnya dari kalangan konservatif yang mengusung nilai-nilai Kristen, mulai menunjukkan retakan.
Baca Juga: Wabup Sebut Tak Tahu dan Tak Dapat Undangan Pelantikan Pejabat, Sekda Nilai Terjadi Miskomunikasi
Komentator sayap kanan Tucker Carlson menyebut insiden semacam ini bukan hal baru. Ia menuding pemerintah Israel membiarkan tentaranya bertindak brutal selama bertahun-tahun, sembari terus menerima bantuan besar dari AS.
“Perbedaannya sekarang adalah media sosial membuka fakta ini ke publik global,” tulis Carlson dalam buletinnya.
Mantan anggota Kongres dari Partai Republik Marjorie Taylor Greene juga menyinggung besarnya bantuan militer AS ke Israel. Ia menyindir status Israel sebagai 'sekutu terbesar' yang setiap tahun menerima miliaran dolar dari pajak rakyat Amerika.
Sementara itu, Matt Gaetz menyebut aksi penghancuran patung tersebut sebagai mengerikan.
Jurnalis independen Glenn Greenwald bahkan menyindir kemungkinan pembelaan dari kelompok Zionis Kristen terhadap tindakan tersebut melalui unggahan satir di media sosial.
Melansir Al-Jazeera, kemarahan ini mencerminkan meningkatnya skeptisisme di kalangan basis 'Make America Great Again' (MAGA) terhadap hubungan erat AS-Israel.
Tekanan terhadap Trump juga meningkat, terutama setelah AS disebut-sebut terlibat dalam konflik yang dipicu Israel dengan Iran, yang berdampak pada lonjakan harga minyak global.
Trump sebelumnya membantah tudingan bahwa Netanyahu menyeret AS ke dalam konflik tersebut. Namun, survei terbaru menunjukkan dukungan publik AS terhadap Israel kini berada di titik terendah dalam sejarah.
Meski dukungan di Kongres masih relatif kuat, perbedaan pandangan mulai muncul, terutama dipicu oleh konflik berkepanjangan di Timur Tengah dan isu serangan terhadap simbol-simbol keagamaan.
Respons Israel: Investigasi dan Janji Sanksi
Menanggapi insiden ini, Netanyahu menyatakan kecaman keras dan memastikan investigasi kriminal tengah berlangsung.
“Saya mengutuk keras tindakan ini. Otoritas militer sedang melakukan penyelidikan dan akan menjatuhkan sanksi tegas,” ujarnya.
Menteri Luar Negeri Israel, Gideon Saar, juga menegaskan bahwa tindakan tersebut bertentangan dengan nilai-nilai Israel.
Namun, kritik tetap mengalir. Banyak pihak menilai insiden ini bukan kasus tunggal, melainkan bagian dari pola serangan terhadap tempat ibadah.
Sebelumnya, tentara Israel dilaporkan merusak gereja di Deir Mimas dan menghancurkan patung Santo George di Yaroun. Di Gaza, serangan terhadap gereja juga tercatat menewaskan sedikitnya 18 orang pada 2023. Otoritas setempat menyebut lebih dari 1.000 masjid dan beberapa gereja hancur selama konflik berlangsung.
Terkait hal tersebut, Majelis Ordinaris Katolik Tanah Suci mengecam keras tindakan tersebut. Mereka menyebutnya sebagai penghinaan serius terhadap iman Kristen sekaligus mencerminkan kegagalan moral.
Pendeta Palestina Munther Isaac menilai perhatian publik seharusnya tidak hanya tertuju pada patung yang dihancurkan, tetapi juga pada penderitaan warga sipil.
“Yang lebih penting adalah serangan terhadap manusia, kehancuran di Gaza dan Lebanon. Perang adalah kejahatan. Kita butuh akuntabilitas,” tulisnya.
Sementara itu, organisasi Council on American-Islamic Relations (CAIR) mendesak pemerintah AS dan Kongres untuk menghentikan dukungan militer kepada Israel.
“Jika Anda terus mengirim senjata dan melindungi tindakan Israel, maka Anda turut bertanggung jawab atas apa yang terjadi,” tegas mereka.***
Editor : Edwar Yaman