Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

AS Dituding Iran Berbohong soal Biaya Perang, Abbas Araghchi; Tembus Empat Kali Lipat dari yang Mereka Klaim

Redaksi • Sabtu, 2 Mei 2026 | 08:20 WIB
Menlu Iran Abbas Araghchi. (Al-Jazeera)
Menlu Iran Abbas Araghchi. (Al-Jazeera)

TEHERAN (RIAUPOS.CO) – Bukan hanya di medan perang, ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang memanas juga terjadi perang narasi. Pentagon dituding Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memanipulasi angka biaya konflik di saat Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menghadapi tekanan keras dari Kongres.

Dalam pernyataannya di platform X, Araghchi menyebut biaya perang yang dikeluarkan Washington telah mencapai USD 100 miliar (sekitar Rp1.600 triliun), jauh di atas angka resmi yang diklaim Pentagon sebesar USD 25 miliar.

”Pentagon berbohong. Taruhan (Benjamin) Netanyahu telah secara langsung membebani Amerika hingga USD 100 miliar sejauh ini, empat kali lipat dari yang diklaim,” tulis Araghchi.

Baca Juga: Mutua Madrid Open 2026: Jannik Sinner Kalahkan Arthur Fils untuk Raih Kemenangan Ke-350 dalam Kariernya

Dia juga memperingatkan bahwa dampak ekonomi perang dirasakan langsung warga AS, dengan rata-rata beban mencapai sekitar 500 dolar per bulan per rumah tangga. Itu belum termasuk biaya tidak langsung yang disebutnya jauh lebih besar.

Sasaran Kritik

Sebelumnya diberitakan, di Washington, Hegseth menjadi sasaran kritik tajam dalam sidang panas di bawah pemerintahan Donald Trump. Para legislator, khususnya dari Partai Demokrat, menyoroti konflik mahal yang dinilai berjalan tanpa persetujuan Kongres.

Dalam forum tersebut, Pentagon mempertahankan angka biaya perang di kisaran 25 miliar dolar AS, sembari mengajukan proposal anggaran militer 2027 yang mencapai USD 1,5 triliun, rekor tertinggi sepanjang sejarah.

Tokoh Demokrat seperti Adam Smith dan John Garamendi menuduh pemerintah tidak transparan, bahkan menyesatkan publik soal alasan perang.

Baca Juga: Saksikan Laga Seru di Semifinal Liga Champions, Hansi Flick Sebut Barcelona Sebagus PSG dan Bayern Munchen

”Anda telah berbohong kepada rakyat Amerika sejak hari pertama,” kata Garamendi dalam sidang.

Hegseth menepis tudingan tersebut dan menyebut kritik sebagai serangan politik.

 

Dampak Global: Selat Hormuz Ditutup

Konflik juga berdampak langsung pada ekonomi global setelah Iran menutup Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dunia. Langkah ini memicu lonjakan harga bahan bakar dan meningkatkan tekanan politik di dalam negeri AS.

Sebagai respons, militer AS mengerahkan kekuatan besar ke Timur Tengah, termasuk tiga kapal induk sekaligus. Itu pertama kali dilakukan dalam lebih dari 20 tahun.

Pernyataan keras dari Abbas Araghchi menambah dimensi baru dalam konflik ini, memperlihatkan bahwa perang tidak hanya terjadi di lapangan. Tapi juga dalam perebutan opini publik global.

Baca Juga: Dua JCH Rohil Sembuh, Berangkat Susulan di Kloter BTH 08 Batam

Di satu sisi, Pentagon berupaya mempertahankan legitimasi dan angka resmi. Di sisi lain, Iran berusaha membangun narasi bahwa beban perang jauh lebih besar dari yang diakui Washington.

Sementara itu, dampak perang terasa nyata bagi warga sipil Iran. Laporan media lokal menyebut puluhan warga Teheran yang mengungsi akibat perang selama 40 hari dengan AS dan Israel kini diminta meninggalkan hotel tempat penampungan sementara, meski rumah mereka tidak layak huni.

Sejumlah warga mengaku menerima instruksi dari otoritas kota untuk keluar dalam waktu dekat, meski inspeksi resmi menyatakan hunian mereka rusak parah akibat serangan rudal.

”Saya diminta keluar dari hotel akhir pekan ini, padahal rumah saya tidak aman dan saya tidak punya tempat lain,” ujar salah satu warga.

Baca Juga: Rakerprov IMI Riau, Agung Nugroho Diminta Kembali Maju Sebagai Ketua Umum

Banyak dari mereka juga mengeluhkan tidak adanya bantuan sewa atau dukungan finansial yang memadai. Bahkan, sebagian harus mencari tempat tinggal sendiri tanpa bantuan pemerintah.

Pemerintah sebelumnya menjanjikan bantuan berupa tempat tinggal sementara, subsidi sewa, hingga dukungan rekonstruksi. Namun, realisasinya dinilai tidak konsisten.

Beberapa warga mengatakan bantuan yang diterima tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar, bahkan harus mengeluarkan biaya sendiri terlebih dahulu sebelum diganti, dengan waktu tunggu hingga 10 bulan.

”Kami kehilangan segalanya. Dengan bantuan itu, kami hanya bisa membeli beberapa barang dasar,” kata seorang korban.

Dengan rata-rata pendapatan di Iran hanya sekitar USD 150–200 per bulan, banyak keluarga kini kesulitan membangun kembali kehidupan mereka dan terancam kehilangan tempat tinggal.***

Editor : Edwar Yaman
#Abbas Araghchi #iran #as #menteri luar negeri iran