(RIAUPOS.CO) - Ketegangan panjang antara Washington dan Teheran mulai meredah setelah tercapai kesepakatan antara Amerika Serikat dengan Iran mengakhiri konflik. Menariknya, kini Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan fokus baru terhadap Korea Utara (Korut).
Sinyal itu memicu kekhawatiran munculnya babak baru tekanan geopolitik terhadap Pyongyang yang selama ini terus mengembangkan program senjata nuklirnya.
Hal ini diungkapkan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung setelah pertemuannya dengan Trump di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G7. Menurut Lee, Trump secara langsung menyampaikan bahwa isu Korut kini menjadi prioritas berikutnya bagi Washington.
Baca Juga: Piala Dunia 2026: Gol Cepat Ismael Saibari Bawa Maroko Kalahkan Skotlandia
"Trump mengatakan kepada saya bahwa waktunya telah tiba untuk memberikan perhatian pada masalah Korea Utara," kata Lee dilansir dari Al-Jazeera.
Pernyataan tersebut muncul hanya beberapa waktu setelah AS berhasil mencapai kesepakatan dengan Iran. Situasi itu menimbulkan spekulasi bahwa Gedung Putih kini akan kembali mengalihkan sumber daya diplomatik dan politiknya untuk menghadapi ancaman nuklir Korut yang selama bertahun-tahun belum menemukan solusi permanen.
Sanksi terhadap Korut Tak Lagi Efektif
Dalam kesempatan yang sama, Lee juga menyampaikan pandangannya kepada Trump bahwa sanksi internasional terhadap Korut tidak lagi memberikan dampak signifikan seperti sebelumnya.
Menurutnya, dukungan yang kini diterima Pyongyang dari Rusia telah membantu rezim Kim Jong Un bertahan dari tekanan ekonomi Barat.
"Sanksi terhadap Korut tidak efektif," ujar Lee.
Baca Juga: Paripurna Pandangan Akhir DPRD Kuansing Terhadap Ranperda SOTK Batal, Tiga Fraksi Tiga Hadir
Ia menambahkan bahwa kerja sama militer yang semakin erat antara Korut dan Rusia telah mengubah dinamika keamanan kawasan.
"Bahkan bantuan dalam jumlah kecil dari Rusia sangat membantu Korut," kata Lee.
Pernyataan tersebut mencerminkan meningkatnya kekhawatiran Seoul terhadap hubungan strategis antara Moskow dan Pyongyang yang berkembang pesat sejak perang Rusia-Ukraina berlangsung.
Ancaman Nuklir Korut Masih Jadi Masalah Besar
Fokus baru Trump terhadap Korut bukan tanpa alasan. Negara yang dipimpin Kim Jong Un itu hingga kini tetap menjadi salah satu tantangan keamanan terbesar bagi Amerika Serikat dan sekutunya di Asia Timur.
Kedua Korea secara teknis masih berada dalam kondisi perang karena konflik 1950-1953 hanya berakhir dengan perjanjian gencatan senjata, bukan perjanjian damai.
Perbatasan keduanya dipisahkan oleh Zona Demiliterisasi (DMZ), salah satu kawasan militer paling ketat di dunia.
Korut pertama kali melakukan uji coba nuklir pada 2006 dan kini diyakini memiliki puluhan hulu ledak nuklir yang terus dikembangkan. Dalam beberapa tahun terakhir, Kim Jong Un bahkan berulang kali menegaskan bahwa status negaranya sebagai kekuatan nuklir bersifat permanen dan tidak dapat dibatalkan.
Baca Juga: Ini Alasan Polisi Menangkap Roy Suryo dan Dokter Tifa, Berkas Dinyatakan Sudah Lengkap atau P21
Kim Jong Un Perkuat Posisi dengan Rusia dan Cina
Di tengah meningkatnya tekanan internasional, Kim justru aktif memperkuat hubungan dengan dua sekutu utamanya, Rusia dan Cina. Pyongyang diketahui mengirimkan pasukan serta amunisi untuk mendukung operasi militer Rusia di Ukraina. Langkah tersebut dinilai semakin mempererat hubungan strategis kedua negara.
Selain itu, Kim juga baru-baru ini menerima kunjungan Presiden Tiongkok Xi Jinping di Pyongyang. Pertemuan tersebut berlangsung setelah Xi menggelar serangkaian pertemuan dengan Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
Menariknya, baik pernyataan resmi Korut Utara maupun Cina tidak menyinggung isu denuklirisasi Korut. Sejumlah pengamat menilai hal itu sebagai indikasi bahwa Beijing mulai menerima kenyataan bahwa Pyongyang akan tetap mempertahankan arsenal nuklirnya.***
Editor : Edwar Yaman