JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Satu dari dua kapal tanker PT Pertamina International Shipping (PIS), Kapal Gamsunoro, akhirnya berhasil melintasi Selat Hormuz dengan aman pada Rabu (24/6) WIB. Keberhasilan melewati perairan yang tengah diblokade akibat ekskalasi geopolitik di Timur Tengah itu berkat strategi manajemen risiko perusahaan serta sokongan diplomasi perlindungan Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).
Pjs Corporate Secretary PIS Vega Pita mengatakan, sebelum melintasi Selat Hormuz, perusahaan melakukan pembahasan manajemen risiko yang ketat selama satu bulan terakhir. Pihaknya juga berkoordinasi intensif dengan Kemenlu dan Kedutaan Besar RI di Teheran, Iran, guna menjaga keamanan kapal saat berlayar. ”Kami berterima kasih kepada Kemenlu dan Kedutaan Besar RI di Teheran atas dukungannya selama ini,” ucapnya.
Menurut Vega, ada puluhan persyaratan yang harus dipenuhi sebelum kapal melintasi Selat Hormuz. Mulai dari asuransi, aspek teknis dan operasional, keamanan, hingga kesiapan kru. Setelah semuanya lengkap, Kapal Gamsunoro mulai bergerak dari Teluk Arab pada Rabu (24/6) pukul 01.06 waktu Dubai atau sekitar pukul 04.06 WIB.
Menempuh perjalanan selama 16 jam dengan kecepatan 7,5 knot, kapal tiba di mulut Selat Hormuz pada pukul 13.00 waktu setempat atau pukul 16.00 WIB. ”Empat jam kemudian kapal dinyatakan berhasil melintasi selat dan mencapai titik aman,” ujar Vega.
Selama pelayaran, kapal dimonitor 24 jam. Awak kapal terus berkoordinasi dengan tim yang bersiaga di crisis center PIS untuk memastikan keamanan kapal.
Sementara itu, armada PIS lainnya yang berada di kawasan Teluk Arab, VLCC Pertamina Pride, saat ini sedang dalam tahap persiapan untuk bergerak. Demi kelancaran pelayaran, perusahaan tetap mengevaluasi perkembangan keamanan, kondisi lalu lintas, kepadatan, dan risiko lainnya serta mempertimbangkan rekomendasi internasional. ”Kami juga memohon dukungan dan doa bagi kapal VLCC Pertamina Pride agar dapat segera melintasi Selat Hormuz dengan aman,” terang Vega.
Baca Juga: AS Tolak Iran Pungut Tarif di Selat Hormuz
Diketahui, Kapal Gamsunoro dan VLCC Pertamina Pride tertahan sejak awal Maret imbas perang Israel-Amerika Serikat (AS) dengan Iran. Dua kapal tersebut mengangkut sekitar dua juta barel minyak mentah. Kapal tersebut memilih bertahan di perairan Teluk Arab karena terkendala asuransi. Sebab, tidak ada perusahaan yang bersedia menanggung suatu kapal yang masuk Selat Hormuz.
Israel Siap Bergerak Sendiri
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan negaranya akan terus melancarkan operasi terhadap Iran meski Amerika Serikat (AS) memilih menempuh jalur diplomasi dengan Teheran melalui nota kesepahaman (MoU) untuk menghentikan konflik. Sikap tersebut menandakan Israel siap bertindak sendiri guna mencegah Iran mengembangkan senjata nuklir.
Dalam pidatonya pada konferensi Muni Expo di Tel Aviv, Netanyahu menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman langsung terhadap keberlangsungan negara Israel. Karena itu, pemerintahnya tidak akan menghentikan operasi militer maupun intelijen terhadap Iran.
“Kami telah melakukan banyak operasi di dalam Iran dan akan terus bertindak untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir,” kata Netanyahu, seperti dikutip Middle East Eye, kemarin (25/6).
Pernyataan tersebut berbeda dengan pendekatan Washington yang tengah berupaya meredakan ketegangan melalui jalur diplomatik. Amerika Serikat dan Iran sebelumnya menandatangani nota kesepahaman pada 17 Juni sebagai langkah awal mengakhiri konflik yang dipicu serangan AS dan Israel terhadap Iran.
Netanyahu juga mengatakan operasi militer Israel di Lebanon belum berakhir. Menurutnya, pasukan Israel masih membangun zona penyangga keamanan di Lebanon selatan untuk mencegah infiltrasi kelompok Hizbullah ke wilayah Israel.
Di tengah proses diplomasi itu, hubungan Washington dan Teheran kembali diuji setelah Iran sempat mengumumkan penutupan Selat Hormuz pada Sabtu (28/6). Teheran beralasan langkah tersebut dipicu dugaan pelanggaran terhadap komitmen dalam nota kesepahaman, termasuk serangan terbaru Israel di Lebanon selatan.
Namun, Komando Pusat Militer Amerika Serikat (CENTCOM) membantah laporan tersebut dan menyatakan lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz tetap berjalan normal.(lyn/gas/jpg)
Editor : Arif Oktafian