Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Gelombang Panas Tewaskan 1.300 Orang

Tim Redaksi • Rabu, 1 Juli 2026 | 10:47 WIB
Warga menyejukkan diri dengan mandi air pancuran di Crown Fountain, Millennium Park, Chicago, Illinois saat suhu udara melampaui 90 derajat Fahrenheit (sekitar 32 derajat Celsius), Senin (29/6/2026). (AFP)
Warga menyejukkan diri dengan mandi air pancuran di Crown Fountain, Millennium Park, Chicago, Illinois saat suhu udara melampaui 90 derajat Fahrenheit (sekitar 32 derajat Celsius), Senin (29/6/2026). (AFP)

 

JENEWA (RIAUPOS.CO) - Gelombang panas ekstrem yang menyelimuti Eropa berubah menjadi bencana kesehatan. Dalam sepekan terakhir, menurut catatan Badan Kesehatan Dunia (WHO), lebih dari 1.300 orang meninggal akibat suhu yang memecahkan rekor di berbagai negara.

WHO bahkan menyebut, panas ekstrem sebagai “silent killer” yang kini mengancam sekitar 150 juta penduduk di benua tersebut. “Stres panas sering disebut sebagai silent killer. Rumah, tempat kerja, dan sekolah di Eropa tidak dibangun untuk suhu seperti ini,” ujar Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus seperti dikutip dari BBC, Senin (29/6).

Tedros mengingatkan bahwa Eropa kini menjadi benua dengan laju pemanasan tercepat di dunia. Suhu di Benua Biru meningkat dua kali lebih cepat dibandingkan rata-rata global.

Menurut dia, gelombang panas yang dahulu hanya terjadi sekali dalam satu generasi, kini hampir muncul setiap tahun akibat perubahan iklim. WHO menilai, krisis tersebut membutuhkan respons cepat dari seluruh negara Eropa.

Baca Juga: AS Serang Fasilitas Drone, Iran Gempur Pangkalan Militer

Rekor Suhu Panas

Korban jiwa terbesar dilaporkan berasal dari Prancis. Dilansir ABC News, Badan Kesehatan Masyarakat Prancis mencatat sekitar 1.000 kematian tambahan selama tiga hari pada puncak gelombang panas pekan lalu. Sebanyak 85 persen korban merupakan warga berusia di atas 65 tahun. 

Lonjakan kematian terjadi terutama di wilayah yang berstatus peringatan merah cuaca ekstrem. Otoritas kesehatan Prancis juga mencatat peningkatan tajam jumlah warga yang meninggal di rumah, terutama di kawasan ibu kota Paris.

Sementara itu, rekor suhu panas terus bermunculan di berbagai negara. Jerman mencatat suhu 41,7 derajat Celsius, tertinggi sepanjang sejarah negara tersebut. Republik Ceko menyusul dengan rekor baru 41,9 derajat Celsius, sedangkan Polandia mencatat suhu tertinggi sepanjang masa sebesar 40,5 derajat Celsius.

Baca Juga: Gempa Venezuela: Korban Tewas Capai 1.430 Orang, 68.900 Orang Dilaporkan Masih Hilang

Cuaca ekstrem juga memicu berbagai gangguan. Kebakaran hutan terjadi di sejumlah wilayah Jerman, termasuk kawasan yang masih menyimpan amunisi Perang Dunia II.

Tentu, ini menyulitkan proses pemadaman. Di Berlin, polisi bahkan mengerahkan meriam air yang biasa digunakan untuk mengendalikan massa untuk mendinginkan warga dan wisatawan di sekitar Gerbang Brandenburg.

Dampak panas ekstrem juga menjalar ke sektor transportasi. Jalur rel dan jalan raya mengalami kerusakan akibat suhu tinggi. Lebih dari 600 penumpang kereta dievakuasi di Brandenburg setelah aliran listrik terputus akibat badai yang menyusul gelombang panas.

Senada dengan itu, RTE mela­porkan, gelombang panas yang dimulai sejak 20 Juni menjadi salah satu yang terburuk dalam sejarah Eropa. Selain menelan korban jiwa, suhu ekstrem mengganggu pembangkit listrik, merusak infrastruktur, dan membebani sistem pelayanan kesehatan di berbagai negara.

Baca Juga: Melintasi Selat Hormuz Wajib Kantongi Izin Teheran, Iran Bahas Tata Kelola Bersama Negara Tetangga

Ancaman tersebut diperkirakan belum berakhir. Presiden Perhimpunan Meteorologi Italia Luca Mercalli mengatakan, gelombang panas diperkirakan kembali meningkat pada 5 sampai 6 Juli. Seperti dilansir Deutsche Welle, wilayah yang berpotensi terdampak kembali meliputi Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Swiss, hingga sebagian Inggris.(lyn/ttg/jpg)

Editor : Arif Oktafian
#cuaca ekstrem #gelombang panas #perubahan iklim #eropa #who