Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Iran Serang Pangkalan Militer AS di Teluk sebagai Balasan atas Gempuran AS

Redaksi • Senin, 13 Juli 2026 | 23:20 WIB
Sebuah proyektil ditembakkan sebagai serangan putaran ketiga pekan ini terhadap Iran, dirilis pada Sabtu (11/7/2026). (Iran International)
Sebuah proyektil ditembakkan sebagai serangan putaran ketiga pekan ini terhadap Iran, dirilis pada Sabtu (11/7/2026). (Iran International)

 

(RIAUPOS.CO) – Stabilitas kawasan Timur Tengah dan jalur perdagangan energi dunia kembali terguncang. Ini setelah konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran memanas lagi setelah kedua negara saling melancarkan serangan militer pada Senin (13/7/2026).

Gelombang aksi serangan militer terbaru ini semakin memperbesar ancaman runtuhnya kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya disepakati kedua pihak. Militer AS mengumumkan telah menyerang puluhan sasaran di berbagai wilayah Iran pada Senin (13/7/2026) dini hari waktu setempat.

Beberapa jam kemudian, Iran membalas dengan menargetkan sejumlah fasilitas militer AS di negara-negara kawasan Teluk, termasuk Bahrain, Oman, dan Kuwait.

 Baca Juga: Kejati di Seluruh Indonesia Diperintahkan Kejagung Hentikan Pengumpulan Data dan Keterangan Program MBG

Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM), yang membawahi operasi militer AS di Timur Tengah, menyatakan serangan tersebut menyasar sistem pertahanan udara, radar pesisir, kemampuan rudal dan drone, serta armada kapal kecil milik Iran.

Dalam operasi itu, AS menggunakan pesawat tempur, kapal perang, drone serang sekali pakai, hingga untuk pertama kalinya mengerahkan drone laut serang sekali pakai.

CENTCOM mengatakan operasi tersebut bertujuan melemahkan kemampuan Iran dalam melancarkan serangan terhadap kapal-kapal internasional yang melintas di Selat Hormuz.

 Baca Juga: Tim Pengabdian Unri Bekali Kelompok Maju Bersama Pembenihan Ikan Baung

"Pasukan AS menyerang sistem pertahanan udara militer, situs radar pesisir dan kemampuan rudal dan drone serta perahu kecil," demikian pernyataan CENTCOM.

Sementara itu, otoritas Iran menyebut serangan AS menghantam delapan kota di Provinsi Khuzestan. Akibat serangan tersebut, seorang petugas keamanan dilaporkan tewas dan empat orang lainnya mengalami luka-luka di sebuah fasilitas air di Mahshahr.

Tak lama berselang, Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim telah melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Teluk.

IRGC menyatakan pihaknya menargetkan radar pengawasan udara jarak jauh FPS di Bahrain, sistem radar pendeteksi kapal di Oman, serta pangkalan rudal darat milik Angkatan Darat AS di Kuwait.

 Baca Juga: Tim PKM-Kukerta Unri Berdayakan Womenpreneur Olahan Ikan Patin di Desa Rumbio

Menurut klaim IRGC, serangan ke Kuwait berhasil menghancurkan dua peluncur rudal beserta fasilitas penyimpanan di sekitarnya sehingga menimbulkan kerusakan signifikan.

Dampak serangan tersebut langsung dirasakan negara-negara sekitar. Pemerintah Bahrain mengeluarkan peringatan kepada warga agar tetap tenang dan segera menuju lokasi perlindungan terdekat.

Sementara itu, otoritas Yordania menyatakan telah mencegat empat rudal yang memasuki wilayah udaranya dari arah Iran.

Ketegangan di Teluk Terus Meningkat

Serangan terbaru ini terjadi hanya dua hari setelah AS melancarkan operasi militer besar pada Sabtu lalu dengan menghantam sekitar 140 target di Iran. Mengutip Al-Jazeera, Washington menyebut operasi sebelumnya dilakukan sebagai respons atas serangan IRGC terhadap kapal-kapal komersial dan keputusan Teheran menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia.

Rangkaian aksi militer tersebut membuat Memorandum of Understanding (MoU) yang disepakati Washington dan Teheran pada pertengahan Juni kini berada di ambang kegagalan.

Kesepakatan itu sebelumnya memperpanjang gencatan senjata yang dimulai pada April sekaligus membuka kembali akses pelayaran di Selat Hormuz.

Perjanjian tersebut juga menjadi dasar dimulainya negosiasi mengenai isu-isu yang lebih sensitif, termasuk program nuklir Iran. Namun, hingga kini penguasaan Selat Hormuz masih menjadi sumber utama perselisihan kedua negara. Presiden AS Donald Trump terus mendorong agar harga minyak dan gas dunia turun menjelang pemilu paruh waktu tahun ini.

Di sisi lain, Iran bersikeras kapal-kapal internasional harus melintas melalui jalur pelayaran yang berada lebih dekat ke garis pantainya demi mempertahankan kendali atas lalu lintas di selat tersebut.

Iran juga beberapa kali dilaporkan menyerang kapal-kapal yang menggunakan jalur pelayaran di sisi selatan yang lebih dekat ke pesisir Oman. Data pelacakan kapal dari Kpler pada Senin (13/7) menunjukkan lalu lintas kapal di Selat Hormuz telah turun ke level terendah dalam lima pekan terakhir.

 Baca Juga: Pengurusan E-Kusuka Dipastikan Gratis, Kadis Perikanan Inhil Siap Tindak Pungli

Hal itu mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pelaku industri pelayaran terhadap eskalasi konflik. Pekan lalu, Presiden Donald Trump sempat menyatakan gencatan senjata telah berakhir. Namun, pada Jumat kemarin ia kembali mengatakan bahwa Washington dan Teheran sepakat untuk melanjutkan perundingan, meski perkembangan terbaru menunjukkan peluang tercapainya perdamaian kembali menghadapi tantangan besar.***

 

 

 

 

Editor : Edwar Yaman
Sumber : jawapos.com
gempuran as iran selat hormuz as pangkalan militer as