JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Pemerintah Iran merespon pernyataan Presiden Prabowo Subianto. Respon itu menyatakan Republik Islam Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak memiliki rencana untuk mengembangkannya.
Respon Iran muncul setelah pidato Prabowo yang menyinggung kekhawatiran dunia terhadap eskalasi konflik di Timur Tengah dan kemungkinan munculnya efek domino kepemilikan senjata nuklir di kawasan.
"The Islamic Republic of Iran tidak pernah mengejar kepemilikan senjata nuklir dan tidak akan pernah melakukannya," tulis akun X resmi Kedutaan Besar Iran di Indonesia.
Baca Juga: Melaka-Meranti Buka Peluang Kerja Sama Budaya dan Pariwisata
Kedubes Iran mengunggah penjelasan mengenai program nuklir negaranya dengan tema 'Transparan, Damai, Sesuai Hukum Internasional'. Mereka jelas-jelas membantah tudingan mengenai kepemilikan senjata nuklir.
Iran menyebut program nuklirnya berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT) dan ditujukan untuk kepentingan damai. "Berlandaskan Perjanjian Non-Proliferasi Senjata Nuklir (NPT), menjalankan hak atas pemanfaatan energi nuklir untuk tujuan damai. Dilaksanakan sesuai dengan hukum internasional," isi keterangan yang diunggah.
Pada bagian transparansi, Iran juga menegaskan bahwa seluruh aktivitas nuklirnya berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA). "Berada di bawah pengawasan Badan Energi Atom Internasional.
Baca Juga: Wako Agung Minta RT/RW Jadi Garda Terdepan Penggerak Lingkungan
Dalam bagian prinsip dan komitmen, Iran menyatakan bahwa senjata nuklir bertentangan dengan doktrin pertahanannya. "Fatwa Pemimpin Syahid Republik Islam Iran mengharamkan senjata nuklir. Senjata pemusnah massal tidak memiliki tempat dalam doktrin pertahanan Iran. Teknologi nuklir dimanfaatkan bagi kepentingan energi, kesehatan, dan penelitian."
Sebagai penegasan, Kedubes Iran kembali menyampaikan bahwa seluruh program nuklir negaranya dijalankan secara terbuka dan berada dalam koridor hukum internasional.
Respons Iran itu muncul setelah Presiden Prabowo Subianto berbicara mengenai meningkatnya ketegangan di Timur Tengah dalam pertemuan strategis bersama pengurus Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia dari 38 provinsi di Istana Negara, Jakarta, Jumat (31/7).
Baca Juga: The Gunners Tetap Kejar Vinicius
Prabowo mengingatkan bahwa eskalasi konflik berpotensi memicu perlombaan senjata nuklir di kawasan apabila semakin banyak negara merasa perlu memiliki kemampuan serupa.
"Dikatakan Iran sudah punya senjata nuklir. Sekarang Saudi Arabia ingin juga punya senjata nuklir. Kalau Saudi Arabia ingin punya senjata nuklir, tidak menutup kemungkinan Emirate (UEA) juga ingin punya senjata nuklir, Qatar juga ingin punya senjata nuklir, Mesir juga ingin senjata nuklir," ungkapnya.
Pidato tersebut sempat menjadi perhatian publik karena siaran langsung acara mendadak terputus sesaat setelah Prabowo membahas isu nuklir. Tayangan yang sebelumnya disiarkan secara langsung tiba-tiba berganti ke iklan sebelum akhirnya berhenti, sehingga memunculkan berbagai spekulasi di media sosial.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi