PEKANBARU (RIAUPOS.CO) - Wali Kota Pekanbaru H Agung Nugroho SE MM mengajak seluruh kepala daerah yang tergabung dalam Green Cities Mayors’ Council (GCMC) Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT) memperkuat kolaborasi dalam menjaga kelestarian lingkungan sebagai upaya menjamin masa depan generasi mendatang.
Ajakan tersebut disampaikan Agung selaku Chairman GCMC IMT-GT 2024-2026 saat pembukaan GCMC IMT-GT ke-9 yang secara resmi dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Riau (Gubri) SF Hariyanto di Hotel Pangeran Pekanbaru, Rabu (5/8).
Forum internasional yang berlangsung hingga Jumat (7/8) itu mempertemukan para kepala daerah, delegasi pemerintah, akademisi, organisasi internasional, serta pelaku usaha dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand.
Baca Juga: KPK Banding Vonis Wahid
Melalui tema Green City for Sustainable Development, para peserta membahas berbagai isu strategis pembangunan kota berkelanjutan, mulai dari pengelolaan lingkungan, ekonomi sirkular, teknologi hijau, perdagangan karbon, pengelolaan sampah menjadi energi, hingga penguatan kerja sama antarkota di kawasan IMT-GT.
Hadir juga saat pembukaan, Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Wakil Wali Kota Pekanbaru Markarius Anwar, Sekretaris Kota (Sekko) Pekanbaru Zulhelmi Arifin, Ketua TP PKK Pekanbaru Sulastri Agung, unsur Forkopimda, para wali kota dan kepala daerah anggota GCMC IMT-GT dari Indonesia, Malaysia, dan Thailand, perwakilan Institute for Global Environmental Strategies (IGES), UN-Habitat, Asosiasi Perdagangan Karbon Indonesia (APERKARIA), para rektor perguruan tinggi, akademisi, Kamar Dagang dan Industri (Kadin), jajaran OPD Pemko Pekanbaru, serta tamu undangan lainnya.
Mengawali sambutannya, Agung menyampaikan ucapan selamat datang kepada seluruh delegasi Indonesia, Malaysia, dan Thailand. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada para rektor, akademisi, Kadin, organisasi internasional, serta seluruh tamu undangan yang ikut menyukseskan forum tersebut.
Menurut Agung, kepercayaan yang diberikan kepada Pekanbaru sebagai tuan rumah merupakan kehormatan besar, tidak hanya bagi Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru, tetapi juga bagi masyarakat Provinsi Riau. “Sebagai tuan rumah sudah diberikan petunjuk dan diberi amanah kepada Pemko Pekanbaru. Ini adalah sebuah kehormatan dan kebanggaan untuk masyarakat Riau dan khususnya Pekanbaru. Terima kasih Bapak dan Ibu sekalian,” ujarnya.
Menurut Agung, Indonesia, Malaysia, dan Thailand memiliki banyak kesamaan sebagai negara bertetangga yang berada dalam satu rumpun. Kedekatan tersebut menjadi modal penting untuk memperkuat kerja sama antardaerah dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Ia menilai kepala daerah tidak mungkin mampu menyelesaikan seluruh persoalan pembangunan secara sendiri-sendiri. Karena itu, sinergi antarkota di tiga negara harus terus diperkuat.
“Dengan dinamika saat ini kami pikir hampir sama, baik Indonesia, Thailand maupun Malaysia. Kita adalah negeri yang bertetangga dan bahkan bisa dikatakan satu rumpun. Kita sebagai wali kota atau kepala daerah tentu tidak akan bisa bekerja sendiri tanpa kerja sama yang baik dengan kepala daerah lainnya, terlebih lagi dengan daerah-daerah di negara yang berbatasan dengan kita,” katanya.
Meski Pekanbaru menjadi tuan rumah, Agung mengakui masih banyak hal yang perlu dipelajari dari kota-kota lain di Indonesia, Malaysia maupun Thailand. Karena itu, ia berharap forum tersebut menjadi ruang bertukar pengalaman dan inovasi yang dapat diterapkan di masing-masing daerah.
“Pekanbaru bukanlah apa-apa. Kami masih perlu mendapatkan masukan dan pengalaman dari daerah lain. Besok (hari ini, red) dalam pertemuan para kepala daerah kita bisa saling berbagi pengalaman, berbagi inovasi agar bersama-sama memajukan daerah masing-masing. Pada akhirnya tujuan dari kerja sama ini adalah bagaimana kita bisa meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah kita,” ungkapnya.
Dalam sambutannya, Agung menegaskan tema green city yang diusung pada GCMC IMT-GT ke-9 sangat sejalan dengan visi pembangunan Kota Pekanbaru melalui Program Pekanbaru Lestari. “Kami juga banyak mendapat inspirasi dari berbagai program pelestarian lingkungan, termasuk Program Green Policing yang digagas Kapolda Riau. Tema ini akan menjadi semangat kita selama forum berlangsung,” ujarnya.
Agung mengatakan keberhasilan daerah tidak lagi hanya diukur dari banyaknya gedung yang berdiri, melainkan dari kemampuannya menjaga alam agar tetap lestari bagi generasi berikutnya.
“Kepedulian kita hari ini tidak lagi hanya tentang bagaimana membangun gedung-gedung besar, tetapi bagaimana kita menjaga alam. Karena menjaga alam adalah bagian dari menjaga masa depan anak-anak kita,” tegasnya.
Baca Juga: Sasar Generasi Muda, Pemko Pekanbaru Gencarkan Sosialisasi Bahaya LGBT dan HIV/AIDS
Ia mengingatkan bahwa berbagai kawasan hijau terus mengalami tekanan akibat pembangunan. Bahkan kawasan pesisir dan laut pun mulai dimanfaatkan untuk pembangunan fisik. Karena itu, seluruh pemimpin daerah harus memiliki komitmen yang sama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“Oleh karena itu, kita semua yang memiliki kewenangan dan kebijakan mari bersama-sama menjaga lingkungan, menjaga alam, dan melestarikan kehidupan kita dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Agung juga mengutip filosofi yang selama ini menjadi pegangan Pemerintah Kota Pekanbaru dalam menjalankan pembangunan berbasis lingkungan. “Kami sering diingatkan bahwa ketika kita memuliakan alam, memuliakan sungai, maka kita juga akan dimuliakan oleh alam yang menjadi tempat kita hidup,” ujarnya.
Sementara itu, Plt Gubri SF Hariyanto yang membuka secara resmi GCMC IMT-GT ke-9 mengajak Indonesia, Malaysia, dan Thailand memperkuat kolaborasi membangun kawasan rendah karbon melalui perlindungan hutan dan gambut, pengembangan energi baru terbarukan, pengelolaan sampah menjadi energi, hingga perdagangan karbon.
Baca Juga: Resmi Digelar, Wako Agung Ajak Kota-kota IMT-GT Bersatu Jaga Lingkungan Demi Masa Depan Generasi
“Indonesia, Malaysia, Thailand berada dalam satu kawasan yang saling terhubung. Udara tidak mengenal batas negara. Persoalan lingkungan di satu wilayah dapat berdampak kepada wilayah lainnya. Karena itu, pembangunan kota rendah karbon harus berjalan bersama perlindungan hutan dan gambut serta pencegahan kebakaran hutan dan lahan,” katanya.
SF Hariyanto menjelaskan Pemprov Riau menargetkan penurunan emisi gas rumah kaca sebesar 25,70 persen pada 2026 serta bauran energi baru terbarukan sebesar 32,22 persen. Selain itu, Riau juga tengah mempersiapkan proyek pengelolaan sampah menjadi energi listrik di Pekanbaru berkapasitas 1.215 ton per hari yang melibatkan Pemprov Riau, Pemko Pekanbaru, dan lima pemerintah kabupaten lainnya.
Ia juga mengapresiasi Program Green Policing yang digagas Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan karena dinilai memperkuat edukasi, pencegahan, penegakan hukum, serta rehabilitasi lingkungan. Menurut SF Hariyanto, Pemprov Riau juga tengah mempersiapkan perdagangan karbon melalui Program Green Riau dan skema REDD+ berbasis wilayah dengan potensi sekitar 3,5 juta hektare lahan gambut serta 2,65 juta hektare kawasan berhutan.
Baca Juga: Depot Air Isi Ulang Wajib Lakukan Pemeriksaan Laboratorium
“Semakin baik kita melindungi hutan dan gambut, semakin kecil risiko kebakaran. Semakin rendah emisi, dan semakin besar ekonomi lingkungan yang dapat kita hasilkan,” ujarnya.
Usai pembukaan, kegiatan kemudian dilanjutkan dengan seminar internasional. Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan dalam seminar itu menegaskan bahwa persoalan lingkungan tidak lagi sekadar isu pelestarian alam, melainkan telah berkembang menjadi tantangan yang dapat memengaruhi stabilitas sosial dan keamanan masyarakat.
Melalui konsep Green Policing, Herry menjelaskan kepolisian tidak cukup hanya melakukan penegakan hukum, tetapi juga harus mengedepankan pencegahan, restorasi ekosistem, edukasi masyarakat, serta kolaborasi lintas sektor. “Hukum memang dapat menghentikan pelaku, tetapi tidak otomatis memulihkan ekosistem. Kepastian hukum juga belum tentu menghadirkan keberlanjutan,” katanya.
Menurutnya, kerusakan lingkungan memiliki keterkaitan erat dengan berbagai persoalan sosial. “Ketika kondisi lingkungan melemah, maka keamanan masyarakat juga ikut melemah,” tegasnya.
Karena itu, Polda Riau memperluas sinergi dengan pemerintah daerah, akademisi, dunia usaha, organisasi masyarakat sipil, lembaga pendidikan, hingga masyarakat melalui Green Policing. “Bagi kami, Green Policing bukan sekadar pendekatan kepolisian, tetapi menjadi platform kolaborasi,” ujarnya.
Herry mencontohkan penanganan aktivitas pertambangan emas tanpa izin di Kabupaten Kuantan Singingi yang tidak berhenti pada penegakan hukum, tetapi dilanjutkan dengan penghijauan, edukasi masyarakat, serta pemulihan lingkungan.
Ia menegaskan konsep keamanan di masa depan harus dimaknai lebih luas, yakni keamanan yang ditopang oleh lingkungan hidup yang sehat. “Keamanan juga berarti hadirnya lingkungan yang sehat. Karena itu saya meyakini Green Policing dan Green Cities saling berkaitan dan saling menguatkan,” katanya.
Mengakhiri paparannya, Herry mengingatkan bahwa keberhasilan kawasan IMT-GT tidak hanya ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kemampuan menjaga keseimbangan lingkungan dan keamanan masyarakat. “Melindungi lingkungan bukan hanya menjaga alam, tetapi juga menjaga masa depan masyarakat dan generasi yang akan datang. Jika kita menjaga alam, maka alam akan menjaga kita,” tegasnya.
Usai pembukaan dan seminar, Agung mengajak para delegasi meninjau langsung implementasi konsep Green City di Kota Pekanbaru. Lokasi pertama yang dikunjungi adalah SMP Negeri 4 Pekanbaru yang telah ditetapkan sebagai sekolah percontohan nasional dalam penerapan green school.
Di sekolah tersebut para delegasi melihat langsung berbagai inovasi ramah lingkungan, mulai dari pemilahan sampah, pengolahan sampah menjadi kompos dan maggot, gerakan satu siswa satu polybag, penghijauan sekolah, hingga hasil kreativitas siswa yang mengolah sampah menjadi berbagai produk bernilai ekonomi.
“Hari ini (kemarin, red) kita turun ke sekolah yang sudah menjadi sekolah percontohan nasional dalam penerapan green city. Dari pemilahan sampah, pengolahan sampah jadi maggot, dari sampah yang sudah terbuang bisa jadi produk yang bisa dimanfaatkan,” ujar Agung.
Menurutnya, SMPN 4 Pekanbaru menjadi bukti bahwa pembangunan berkelanjutan dapat dimulai dari lingkungan sekolah. Ia berharap kolaborasi yang terjalin melalui forum IMT-GT GCMC semakin memperkuat kerja sama antarkota dalam mendorong pembangunan berkelanjutan.
“Karena masa depan yang baik itu bukan menyiapkan bangunan-bangunan yang besar, tapi bagaimana menjaga dan memberikan lingkungan yang asri bagi generasi berikutnya,” katanya.
Kunjungan tersebut mendapat apresiasi dari Datuk Bandar Majelis Bandaraya Alor Setar, Abdul Gafar bin Yahya. Delegasi asal Malaysia itu mengaku memperoleh banyak inspirasi dari berbagai inovasi lingkungan yang diterapkan SMPN 4 Pekanbaru.
“Pelajar-pelajar dengan bimbingan guru bisa berkarya menciptakan sesuatu dari bahan-bahan terbuang. Ini sesuatu yang saya bisa pelajari juga. Kita sesuaikan dengan yang ada di Malaysia, seperti saya dari Alor Setar, Kedah,” ujarnya.
Ia mengatakan terdapat sejumlah inovasi baru yang dapat diadopsi di sekolah-sekolah di Kedah. “Ada hal yang bisa kita kerja samakan untuk berbagi pengalaman bersama. Saya melihat ini adalah hal yang sama seperti di Malaysia, di Kedah pun kita mengembangkan hal yang sama. Namun, ada beberapa hal baru yang saya lihat, yang bisa saya bawa pulang untuk dibagikan kepada anak-anak di Kedah, di Alor Setar,” katanya.
Dari SMPN 4, rombongan kemudian melanjutkan kunjungan ke RTH Putri Kaca Mayang. Di lokasi tersebut Agung memperkenalkan berbagai inovasi Green City yang mengintegrasikan ruang terbuka hijau, edukasi masyarakat, pengelolaan sampah berkelanjutan, hingga pengurangan emisi karbon.
“Alhamdulillah seluruh konsep green city yang kita tampilkan di RTH Putri Kaca Mayang mendapat apresiasi dari para delegasi. Semua yang kita paparkan mendapat tanggapan yang positif,” ujarnya.
Agung menjelaskan kawasan tersebut tidak hanya menjadi ruang hijau, tetapi juga dilengkapi perpustakaan, area bermain anak, waste station, serta sistem pengelolaan sampah menuju waste to energy melalui kerja sama dengan PT Indonesia Clean Energy (ICE).
“Pengelolaan sampah di TPA itu tadi juga kita jelaskan kepada para delegasi. Tujuan kita bagaimana Pekanbaru bisa memperoleh manfaat melalui carbon capture dari pengelolaan sampah yang dilakukan,” katanya.
Ia juga memperkenalkan waste station yang memungkinkan masyarakat menukarkan sampah anorganik menjadi uang elektronik sebagai upaya membangun budaya memilah sampah. “Melalui waste station ini kita ingin mengedukasi masyarakat agar terbiasa memilah sampah. Dari sampah yang dipilah itu juga ada manfaat ekonominya karena bisa ditukarkan menjadi e-money,” ungkapnya.
Menurut Agung, antusiasme para delegasi membuka peluang kerja sama yang lebih luas dalam pengembangan kota hijau di kawasan IMT-GT. “In sya Allah ke depan kita akan saling berbagi pengalaman, berbagi ilmu, dan memberikan akses agar bisa bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang peduli terhadap lingkungan. Yang terpenting, program-program ini dapat berjalan tanpa membebani APBD,” ujarnya.(ali)
Editor : Arif Oktafian