Tambang Emas di Republik Afrika Tengah Runtuh, Lebih 100 Orang Tewas dan Masih Akan Bertambah

Redaksi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 07:24 WIB
Tangkapan layar dari video terverifikasi memperlihatkan detik-detik runtuhnya tambang emas di Republik Afrika Tengah yang menewaskan lebih dari 100 orang. (The Guardian)
Tangkapan layar dari video terverifikasi memperlihatkan detik-detik runtuhnya tambang emas di Republik Afrika Tengah yang menewaskan lebih dari 100 orang. (The Guardian)

JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Tambang emas rakyat di Zamboye, Republik Afrika Tengah (CAR), runtuh akibat longsor. Akibatnya, lebih dari 100 orang tewas.

Hingga saat ini para relawan masih terus melakukan penyelamatan. Gervais Ganagoroh, relawan Palang Merah memperkirakan korban tewas akan terus bertambah.

Dilansir dari The Guardian, Kamis (20/8/2026), longsor terjadi pada Selasa sore di Desa Zamboye, sekitar 50 kilometer dari Kota Baboua, wilayah barat CAR yang berada dekat perbatasan dengan Kamerun.

Baca Juga: Ada Layanan Pos Kesehatan Gratis Pada Festival Pacu Jalur Kuansing

Pernyataan jaksa setempat menyebut banyak orang masih terperangkap setelah material longsoran menimbun lokasi tambang. Dalam suatu pernyataan relawan Palang Merah yang terlibat dalam operasi penanganan bencana, mengatakan kepada Associated Press bahwa lebih dari 100 jenazah telah ditemukan. Jumlah tersebut juga dikonfirmasi pejabat senior asosiasi pertambangan setempat kepada Reuters.

Rekaman yang beredar di media sosial memperlihatkan material tanah dan pasir meluncur menimpa sekelompok orang yang diduga merupakan para penambang.

Penyebab runtuhnya tambang masih dikaitkan dengan kondisi struktur bawah tanah. Jaksa kedua dari Baboua mengatakan insiden tersebut diduga terjadi akibat runtuhnya beberapa terowongan bawah tanah tempat para penambang bekerja.

Baca Juga: Karhutla di Tarai Bangun dan Simpang Petai Padam, BPBD Kampar Pantau Hotspot

Diketahui tambang rakyat skala kecil marak di berbagai wilayah Afrika meski aktivitas tersebut kerap beroperasi di luar aturan. Tingginya pengangguran mendorong banyak orang mencari penghasilan di tambang yang ditinggalkan atau tidak lagi digunakan.

Lemahnya standar keselamatan membuat kecelakaan berulang terjadi. Di CAR saja, sedikitnya 40 orang dilaporkan tewas dalam sejumlah insiden pertambangan sepanjang tahun ini.

Sementara itu, seorang penambang bernama Cedric Mbango menggambarkan situasi tersebut sebagai bencana. "Tanah sepenuhnya runtuh dan mengubur orang-orang," ujarnya kepada AFP.

Baca Juga: Kondisi Kesehatan Personel Manggala Agni Rengat Masih Prima hingga Hari ke 18, Besok Karhutla di Inh

Tim penyelamat kini berpacu menemukan korban yang mungkin masih hidup sekaligus mengevakuasi jenazah. Para penambang diyakini berasal dari CAR dan Kamerun. Pemerintah wilayah Timur Kamerun menyatakan sedikitnya tiga warga negaranya telah teridentifikasi sebagai korban.

Bertrand Be Yangué dari Dewan Pemuda Zamboye mengatakan peluang menemukan korban dalam keadaan hidup semakin kecil. "Menemukan mereka hidup-hidup akan menjadi sebuah keajaiban," katanya.

Ia menyebut masyarakat sedih dan patah hati melihat para lelaki dan perempuan muda tewas setelah datang ke tambang untuk menyelamatkan keluarga mereka dari kesulitan ekonomi.

Baca Juga: Bapenda Pekanbaru Gandeng PKK dan BNI Permudah Pembayaran Pajak

Operasi pencarian menggunakan alat berat, termasuk traktor. Namun, Corbeau News memperingatkan penggunaan mesin tersebut berpotensi membahayakan korban yang masih hidup di bawah timbunan. Jumlah orang yang berada di dalam tambang saat runtuh juga belum diketahui secara pasti.

Sementara gubernur wilayah tersebut, Grégoire Mvongo, mengatakan pihaknya bekerja sama erat dengan rekan-rekan di Afrika Tengah untuk menangani dampak tragedi ini.

Sumber: Jawapos.com

Editor : Rinaldi
afrika tengah Ratusan orang tewas longsor tambang emas