JAKARTA (RIAUPOS.CO) -- Jumlah korban tewas akibat banjir bandang perbatasan Nepal-Tibet terus bertambah. Data terakhir menyebutkan 633 orang tewas.
Jumlah itu dipastikan akan terus bertambah, karena yang dipublikasikan media lokal 2.500 orang lainnya masih hilang. Satu kelompok warga negara Australia juga dinyatakan hilang.
Di wilayah Nepal saja ada 626 korban tercatat meninggal dunia, sedangkan tujuh lainnya berada di Tibet. Bencana ini menerjang desa-desa di kawasan Himalaya pada Rabu lalu.
Baca Juga: Gapoktanhut Kesal atas Penundaan Pengesahan Ranperda Konservasi Mangrove di Meranti
Tim di lapangan masih berupaya menjangkau wilayah yang terdampak banjir dan longsor, sementara keluarga korban menunggu kepastian mengenai keberadaan kerabat mereka.
Warga negara asing juga termasuk dalam daftar orang hilang yang belum diketahui keberadaannya. Kondisi ini tentu saja menimbulkan kekhawatiran di sejumlah negara. Salah satunya pemerintah Australia yang kini berupaya mendapatkan informasi terbaru mengenai kondisi warga negaranya yang dilaporkan hilang dalam bencana tersebut.
Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong mengatakan warga Australia tersebut berada dalam kelompok perjalanan yang berbeda, termasuk rombongan ziarah dan tur.
Baca Juga: Ada Potensi Hujan, OMC Kembali Dilaksanakan di Riau
Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia mengatakan pihaknya 'urgently' mencari informasi mengenai keselamatan warga mereka yang belum diketahui keberadaannya.
Pemerintah Australia juga mengaktifkan layanan darurat konsuler selama 24 jam bagi keluarga yang membutuhkan informasi mengenai kerabat mereka yang berada di kawasan bencana.
Kehadiran wisatawan dan peziarah asing membuat proses identifikasi korban serta pencarian orang hilang menjadi semakin kompleks. Kawasan perbatasan Nepal-Tibet merupakan salah satu jalur perjalanan menuju sejumlah lokasi penting di Himalaya.
Baca Juga: Sudah Satu Pekan, Udara Kuansing Tidak Sehat
Bencana juga berdampak 93.000 jiwa yang membutuhkan bantuan. Kerusakan infrastruktur dan kondisi medan yang sulit menjadi tantangan bagi upaya bantuan.
Bantuan yang diperlukan diperkirakan mencakup evakuasi, pertolongan medis, makanan, tempat berlindung, serta dukungan bagi masyarakat yang kehilangan rumah dan sumber penghidupan.
Banjir bandang tersebut diduga berkaitan dengan runtuhnya bongkahan besar es dari gletser Himalaya. Berdasarkan citra satelit, sejumlah besar es dan batu diduga terlepas dari gletser kemudian meluncur ke sungai di bawahnya. Material itu memicu lonjakan aliran air dan membawa sedimen serta bebatuan dalam jumlah besar menuju wilayah yang lebih rendah.
Baca Juga: 1.339 Titik Panas Tersebar di Sumatera Menhut: Sudah Tinggal Asap, Tetap Waspada
Akibatnya, desa-desa di kawasan perbatasan tersapu banjir, sementara material lumpur dan bebatuan memperparah kerusakan.
Sumber: Jawapos.com
Editor : Rinaldi