JAKARTA (RIAUPOS.CO) - Erupsi Gunung Anak Krakatao di Indonesia disorot berbagai media asing, bahkan pemerintah mereka turut bereaksi atas dampak erupsi yang memuntahkan abu vulkanik setinggi 15 kilometer (Km) yang terus berlanjut hingga Ahad (6/9/2026) tersebut.
Salah satunya pemerintah Jepang, dikutip dari jen.jiji.com menjelaskan bahwa pemantau potensi dampak tsunami akibat erupsi Gunung Anak Krakatau dilakukan mengingat status gunung berapi tersebut.
Jepang, kemudian memastikan bahwa kejadian tersebut tidak berdampak tsunami ke negara tersebut.
Baca Juga: Aktivitas Gunung Anak Krakatau Berlanjut, 4 Bandara Ditutup Sementara Akibat Sebaran Abu Vulkanik
Dimana menurut Badan Meteorologi Jepang (JMA) yang mengeluarkan penilaian pada pukul 12.30 waktu Jepang, atau 10.30 di Thailand dan Indonesia bagian barat, pada Sabtu (6/9/2026) mengungkapkan, menurut laporan terbaru Weathernews.
Tidak ada perubahan signifikan pada permukaan laut yang terdeteksi di stasiun pemantau di Jepang maupun luar negeri.
Sebelumnya Jepang sempat melakukan pengecekan potensi dampak tsunami menyusul erupsi tersebut.
Baca Juga: Update Dampak Erupsi Gunung Anak Krakatau, 19 Penerbangan di Bandara SSK II Pekanbaru Ini Dibatalkan
Sementara pihak berwenang Indonesia tetap mempertahankan zona larangan sejauh tiga kilometer di sekitar kawah aktif dan mengimbau warga pesisir untuk tetap tenang.
Buletin Darwin Volcanic Ash Advisory Centre yang dikeluarkan pukul 09.30 WIB mencatat abu mencapai flight level 500, setara dengan sekitar 15,2 kilometer.
Pengamatan satelit menunjukkan awan abu bagian atas bergerak ke arah barat, sementara lapisan bawah bergerak ke selatan-tenggara.
Erupsi dimulai pukul 23.07 pada Jumat, 4 September, dan berlanjut hingga semalaman, menurut laporan Indonesia yang mengutip Badan Geologi. Para pengamat menggambarkan semburan lava yang terus-menerus disertai suara gemuruh dan ledakan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebut material vulkanik telah merusak kamera pemantau sehingga berhenti beroperasi.
Status Anak Krakatau masih di Level III atau Siaga. Warga, nelayan, dan wisatawan diimbau untuk tetap berada di luar zona bahaya 3 kilometer.
Baca Juga: Marcos Llorente Sebut Atlético Madrid Memerlukan Gol Julián Álvarez
"Weathernews melaporkan JMA awalnya mengumumkan pemantauan pukul 04.00 waktu Jepang, mempertimbangkan gangguan permukaan laut tidak biasa seperti pada erupsi Tonga Januari 2022. Penilaian selanjutnya menyatakan tidak ada dampak tsunami di Jepang akibat erupsi Anak Krakatau terbaru," tulis laporan tersebut tentang dampak letusan gunung yang terjadi sebelumnya di luar wilayah negara mereka.
Dijelaskan, sebelumnya Erupsi Tonga memicu peringatan dan imbauan di beberapa negara Pasifik, termasuk Jepang, seperti diberitakan The Nation terkait erupsi 2022.
Di Indonesia, Kepala Badan Geologi Lana Saria mengatakan bagian Anak Krakatau yang terbentuk kembali sejak bencana Desember 2018 masih tergolong kecil.
Baca Juga: Zheng Qinwen Bangkit Melawan Madison Keys, Potapova Mengejutkan Anisimova di US Open
Berdasarkan penilaian lembaga saat itu, gunung tersebut belum dianggap mampu mengalami keruntuhan besar yang dapat memicu tsunami. Meski begitu, petugas akan terus memantau aktivitas vulkanik dan perubahan bentuk gunung.
Tsunami 2018 terjadi akibat runtuhnya sebagian tubuh gunung ke laut, yang menghantam wilayah pesisir di sekitar Selat Sunda.
Lana mengatakan suara dentuman keras dan getaran kuat yang dilaporkan di Jawa Barat, Banten, dan Lampung diduga terkait dengan erupsi. Ia mengimbau warga pesisir di Banten dan Lampung untuk tetap tenang dan melanjutkan aktivitas seperti biasa sambil mengikuti arahan petugas penanggulangan bencana setempat.
Dikutip dari pejabat BNPB Berton SP Panjaitan yang mengatakan pihak berwenang memahami kekhawatiran warga pasca bencana 2018. Langkah-langkah dalam laporannya tidak mencakup perintah evakuasi segera bagi masyarakat sekitar.
Atas kondisi ini, BNPB menetapkan 3 hal penting. Yakni, pertama Menegakkan zona larangan 3 kilometer melalui patroli pemerintah daerah dan badan penanggulangan bencana.
Baca Juga: Warga Sungai Luar Inhil Terima Kaki Palsu dari Kementerian Sosial
"Kedua, Menyiapkan jalur evakuasi dan titik kumpul pesisir dan ketiga, ,elarang warga mendekati gunung untuk berfoto atau merekam erupsi," tulisnya.(egp)
Editor : Eka G Putra