Riau Pekanbaru Nasional Internasional Hukum Ekonomi Olahraga Berita Hiburan Kesehatan Kriminal Pendidikan Sumatera Politik Perca Liputan Khusus Lingkungan Ladies Kebudayaan Begini Ceritanya Kick Out Hoax Interaktif Gaya Hidup Feature Buku Opini Betuah

Warga Desa Buluh Cina Mulai Terjangkit Panyakit Gatal-Gatal dan Demam

Kamaruddin • Senin, 10 Maret 2025 | 22:00 WIB
Banjir masih melanda Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Senin (10/3/2025).
Banjir masih melanda Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu, Kabupaten Kampar, Senin (10/3/2025).

SIAK HULU (RIAUPOS.CO) – Warga Desa Buluh Cina, Kecamatan Siak Hulu Kabupaten Kampar mulai diserang penyakit gatal-gatal, deman, batuk dan flu.

Seorang warga Ahmad Arifin dari Desa Buluh Cina menjelaskan, warga sekarang mulai penyakit gatal-gatal, demam, batul, flu karena banjir lama surut di Desa Bulu Cina. Karena itu, dia mengharapkan bantuan baik sembako atau obat-obatan dari pemerintah.

‘’Saya saja juga terjangkit penyakit gatal-gatal karena dampak banjir ini. Anak-anak banyak yang demam,’’ ungkapnya.

Ahmad Arifin menambahkan, untuk buang air besar sekarang mengalami kesulitan karena rumahnya masih terendam banjir.Warga terpaksa pakai perahu mencari tempat buang air besar.

Sementara Kepala Desa Buluh Cina Azrianto menjelaskan, saat ini banjir sudah surut. Ada sekitar hampir 40 persen rumah warga dan jalan masih terendam banjir. Anak-anak SDN 01 Desa Buluh Cina hari ini masih libur karena sekolah mereka masih terendam banjir.

‘’Walaupun pintu pelimpahan PLTA Kota Panjang sudah ditutup tetapi Desa Buluh Cina ini masih tergenang banjir. Karena letak Desa Buluh Cina ini di muara pertemuan Sungai Subayang (Kamparkiri) dan Sungai Kampar (Kamparkanan) jadi terdampak banjir,’’ jelas Azrianto.

Azrianto menambahkan, akibat lama banjir mengenangi rumah, warga mulai terserang penyakit demam. Karena itu, dia berharap ada bantuan obat-obatan untuk warga yang terserang penyakit ini.(kom)

 

Editor : Edwar Yaman
#buluh cina #terjangkit #penyakit gatal-gatal #warga desa