Di tengah kemarau ekstrem tahun ini, permukaan air di waduk Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Koto Panjang menyusut hingga titik terendah. Bahkan melampaui rekor kekeringan pada 2014 silam.
KAMPAR (RIAUPOS.CO) - FENOMENA mengeringnya waduk PLTA Koto Panjang bukan sekadar persoalan teknis atau cuaca. Ia seperti membuka kembali lembaran waktu, menyingkap kisah tujuh desa yang puluhan tahun lalu tenggelam demi pembangunan energi.
Dari dasar waduk, kini tampak fondasi rumah, sisa masjid, hingga jejak makam lama. Desa Tanjung Alai, salah satu yang dahulu dikorbankan muncul lagi, menghadirkan suasana seolah masa lalu kembali hidup.
“Yang terlihat itu bekas rumah warga, fondasi masjid, bahkan kuburan yang dulu sudah sempat dipindahkan. Sekarang muncul lagi,” ujar Julian, warga sekitar, Selasa (11/11).
Menurut Julian, dari tujuh desa yang ditenggelamkan termasuk Pulau Gadang, Batu Bersurat, Kota Tuo, Pongkai, dan Muara Takus, jejak Desa Tanjung Alai tampak paling jelas. “Tiang-tiang rumah panggung masih kelihatan, apalagi yang dari semen atau batu. Puing-puingnya masih utuh,” tambahnya.
Di tengah lumpur kering, batang-batang kayu besar dan pohon mati berdiri bisu. Mereka menjadi saksi bisu atas peradaban yang pernah hidup di sini. Ogi, warga lain, juga mengamini temuan tersebut. “Yang kelihatan itu tapak rumah, batu fondasi. Dulu fondasinya dibangun tradisional, seperti rumah lontiok. Bahan lain sudah rapuh, tapi batu-batunya masih kuat,” katanya.
Wilayah yang kini timbul termasuk kawasan Desa Tanjung Alai, berdekatan dengan Batu Bersurat dan Lubuk Ogung. Ogi mengenang, dulu sebagian warga Batu Bersurat direlokasi ke daerah lain setelah waduk mulai dibangun.
Kini, ketika air surut, sisa-sisa kampung itu kembali terlihat, terutama di sekitar jembatan dan pintu bendungan PLTA. Meski fenomena kampung muncul bukan hal baru, kali ini surutnya disebut paling parah dan berlangsung paling lama. Dampaknya, sisa-sisa bangunan dapat terlihat lebih jelas dan lama daripada tahun-tahun sebelumnya.
Kondisi ini pun menarik perhatian warga. Banyak yang datang sekadar ingin melihat, atau bahkan menjadikannya wisata sejarah dadakan. Untuk menuju lokasi utama, pengunjung bisa menaiki perahu kecil dari Dermaga Gulamo. “Sekarang ada paket wisata sampan, Rp20.000 sampai Rp30.000 per orang,” jelas Julian yang juga mengelola perahu wisata.
Meskipun belum banyak dipromosikan, antusiasme masyarakat mulai tumbuh. Fenomena “kampung timbul” ini bukan hanya tontonan langka, tapi juga ruang refleksi: tentang sejarah, pengorbanan, dan harga yang dibayar untuk kemajuan.
Di antara fondasi rumah yang retak dan tiang-tiang tua yang menyembul dari tanah kering, tersimpan kenangan tentang orang-orang yang dulu harus meninggalkan tanah kelahirannya demi proyek besar bernama PLTA Koto Panjang.
Kampung yang sempat hilang kini seolah bernapas lagi mengingatkan bahwa di balik aliran listrik yang kita nikmati hari ini, ada cerita tentang kehilangan dan ketabahan yang tak pernah tenggelam.***
Editor : Bayu Saputra