KAMPAR (RIAUPOS.CO) – Petani keramba di Kecamatan Tapung Hilir, Kabupaten Kampar mengalami kerugian hingga ratusan juta rupiah setelah puluhan ton ikan mati mendadak. Peristiwa ini terjadi di tiga desa, yakni Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Kota Aman.
Seorang warga Desa Kota Garo, Diana, mengungkapkan bahwa kematian ikan terjadi secara tiba-tiba pada Senin (30/3/2026). Ikan yang mati terdiri dari berbagai jenis, seperti ikan baung, geso, dan tapa.
“Ikan keramba milik warga banyak yang mati mendadak. Diduga akibat tercemar limbah di Sungai Tapung Hilir,” ujar Diana, Rabu (1/4/2026).
Baca Juga: Baru 25 Koperasi Desa Merah Putih di Inhu Melaksanakan RAT, Ini Penjelasan Disperindagkop UMK Inhu
Menurut Diana, salah satu keramba milik keluarganya mengalami kerugian besar karena hampir satu ton ikan yang sudah mendekati masa panen mati.
Ia juga menyampaikan bahwa warga telah melaporkan kejadian tersebut kepada pihak desa dan kecamatan agar segera ditindaklanjuti.
“Kami berharap ada solusi untuk petani keramba yang terdampak,” tambahnya.
Baca Juga: Puluhan Casis Antusias Ikuti Rekrutmen Polri di Kepulauan Meranti, Polres Pastikan Proses Transparan
Camat Tapung Hilir, Nurmansyah, membenarkan adanya kejadian tersebut. Ia menyebutkan bahwa sekitar 30 ton ikan milik petani keramba di tiga desa dilaporkan mati mendadak.
“Informasi awal kami terima pada Senin lalu. Kematian ikan terjadi di Desa Sekijang, Desa Kota Garo, dan Desa Kota Aman,” jelasnya.
Ia menambahkan, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kampar telah turun ke lapangan untuk mengambil sampel air sungai yang diduga tercemar. Saat ini, pihak DLH masih menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan penyebab kematian ikan.
“Saat ini kami juga sedang mendata jumlah keramba yang terdampak serta menghitung total kerugian petani,” katanya.
Nurmansyah juga menyampaikan bahwa sejak Maret 2026, kejadian pencemaran yang menyebabkan kematian ikan sudah terjadi sebanyak tiga kali. Namun, kejadian terbaru merupakan yang paling besar dampaknya.
Berdasarkan informasi di lapangan, terdapat dugaan pencemaran berasal dari aktivitas pabrik kelapa sawit di hulu Sungai Tapung Hilir. Dugaan tersebut masih dalam proses penyelidikan oleh pihak terkait.
Baca Juga: Program Banpang, Bulog Bengkalis Salurkan 230 Ton Beras dan Minyak Makan untuk Kecamatan Bengkalis
Pemerintah kecamatan bersama instansi terkait saat ini terus melakukan pendataan serta menunggu hasil pemeriksaan laboratorium guna memastikan penyebab pasti pencemaran. (Kom)
Editor : M. Erizal